Terapi Tumbuh Kembang, dan Kenapa Nolan Perlu Terapi?

Tumbuh Kembang Anak – Pengalaman ini terasa personal sekali untuk saya, karena ini adalah pengalaman lain yang sungguh membukakan hati dan jiwa, dan saya yakin setiap ibu tahu persis apa yang saya maksud. Kata terapi kadang masih terdengar asing dan agak menakutkan untuk masyarakat umum, termasuk juga saya sebelumnya.

Pengalaman Masuk Kelompok Bermain
Nolan sekarang berumur 4,5 tahun. Saya merasa dia agak berbeda sejak mulai umur 2 tahun, awalnya hanya karena Nolan belum dapat bicara lancar. Setelah ngobrol dengan suami, akhirnya kami mencoba memasukkan Nolan ke kelompok bermain ketika ia berumur 3 tahun dengan harapan, kemampuan bahasanya akan terasah. Ketika masuk kelompok bermain, proses pelepasan agar Nolan bisa nyaman di kelas dan bisa saya tinggal rupanya tidak mudah. Teman-temannya ada yang hanya seminggu ditemani, ada yang dua minggu, bahkan ada yang tidak perlu ditemani sama sekali, tetapi dengan Nolan, saya perlu waktu 6 bulan. Iya, 6 bulan saya ikut masuk ke kelas, lalu ketika ia lengah, saya menyelinap keluar.  Apakah cara itu berhasil? Di awal-awal, Nolan akan tantrum ketika ia sadar saya pergi, lalu diikuti dengan tantrum yang hebat. Ia akan menangis, menjerit, menutup diri, sampai ia kelelahan, dan akhirnya menerima ‘nasib’ kalau saya sudah tidak ada di kelas.

Selama periode sekolah yang sekitar 2 jam itu, Nolan perlu 1 jam di awal untuk bisa menerima ‘nasib’ tersebut, lalu setelahnya, di kelas ia juga lebih asik sendiri ketimbang ikut serta dengan kegiatan teman-teman lainnya. Ketika teman-teman memperhatikan guru bercerita, Nolan biasanya akan tenggelam dengan puzzle, terpisah dari rombongan dan kegiatan bersama. Oya, reaksi Nolan jika ada orang lain yang menegur atau memanggil adalah menjerit dan marah, bukannya menjawab atau senyum seperti kebanyakan anak lainnya. Dari 4 guru yang ada di sekolah, hanya ada 1 guru bernama Miss Ayu yang bisa ‘dekat’ dengan Nolan, secara psikis juga fisik. Hanya miss Ayu yang bisa menggandeng tangan Nolan, ditegur Nolan setiap pagi dengan sukarela, atau bisa menggantikan pakaian ketika bajunya basah. Sementara dengan guru dan orang dewasa lainnya (khususnya perempuan), ketika ditegur, apalagi disentuh, ia akan menjerit dan marah. Makanya, setiap saya ke pergi ke pasar, mini market, atau ke mall, biasanya Nolan akan mudah tersulut karena banyak ibu-ibu yang tidak dikenalnya, sekedar menegur, menengok, atau menjawil pipinya. Dan anehnya, jika yang menegur adalah sosok bapak-bapak atau laki-laki, reaksinya akan berbeda. Ia akan lebih tenang, tidak marah, dan kalau beruntung, ia akan menjawab. Nolan juga lebih dapat berkomunikasi jika menggunakan bahasa Inggris, karena paparan YouTube yang sudah terlanjur kebablasan. Yang ini salah saya plek. 🙂

Setelah Kelompok Bermain Selesai
Kebetulan, sekolah Nolan tidak menerima lagi siswa untuk TK A karena satu dan lain hal, dan teman-teman sekelasnya pindah ke sekolah lain. Setelah observasi di kelompok bermain selama 1 tahun, saya (dan akhirnya suami) memberanikan diri untuk membawa Nolan ke dokter tumbuh kembang. Pikiran saya adalah, kalau memang ini hanya masalah sederhana dan Nolan masih dalam level wajar, toh tidak ada salahnya konsultasi, tapi kalau memang hal ini perlu ditindaklanjuti dan perlu penanganan khusus, mumpung masih 4 tahun, Nolan bisa kejar ketertinggalannya selama 1 tahun ini, dan menunggu masuk TK di umur 5 tahun nanti.

Kami pertama membawanya ke Klinik Lalita di Ruko Emerald seberang Summarecon Mal Bekasi, dan membuat janji dengan Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K). Beliau praktek di RSIA Bunda, Menteng dan juga RSCM. Penjelasan yang diberikan dokter adalah Nolan hanya kurang fokus serta kebingungan bahasa dan disarankan ikut terapi Sensori Integrasi 2 x seminggu, dan janji ketemu dokter lagi setelah 8 kali pertemuan. Tapi kami putuskan bahwa hanya akan mencoba 1 x seminggu.

Setelah 8x pertemuan, terasa perkembangan yang signifikan, kemampuan bicaranya entah bagaimana seperti terpicu, dan kemampuan sosialnya makin membaik. Pada pertemuan kedua dengan dokter, kami disarankan untuk melanjutkan dengan 2x terapi Sensori Integrasi dan 2x terapi wicara dalam 1 minggu. Kami memutuskan mencari tempat terapi lain dengan pertimbangan biaya. Biaya sekali terapi di Klinik Lalita ada di harga kurang lebih 200ribuan. Jadi kalau 1 minggu harus ikut 4x terapi, maka seminggu bisa 800ribu, dan sebulan 3,2 juta. Saya mencari-cari tempat lain, dengan rekomendasi dari teman dan hasil menelusuri dunia maya, kami menjatuhkan pilihan di Satria Kid Center.

Boleh baca: Klinik Tumbuh Kembang di Bekasi; Review Satria Kid Center, Bekasi

Pindah terapi ke Satria Kid Center (SKC)
Untuk dapat diterima di SKC, Nolan harus bertemu dengan konsultan tumbuh kembang bernama Pak Handoko.  Saya mendapatkan banyak sekali informasi pada sesi perdana dengan pak Handoko, dan beliau bilang kalau Nolan mengalami Sensory Processing Disorder,  dan memerlukan terapi Sensori Integrasi dan Okupasi Terapi, masing-masing 2 sesi dalam 1 minggu.

Banyak teman dan saudara yang suportif, tapi ada juga yang menganggap bahwa saya hanya berlebihan dengan urusan ini. Perjuangan mental dan fisik untuk Nolan dan saya yang menemaninya terapi sungguh tidak mudah, jadi rasanya orang yang tidak terjun langsung dalam keseharian kami dan membuat komentar macam-macam, walaupun membuat sedih, tapi ya tidak usah diambil hati.

Apa itu terapi Sensori Integrasi dan Okupasi Terapi?
Saya juga baru tahu istilah-istilah ini, dan akhirnya mencari tahu tentang dunia tumbuh kembang dari berbagai artikel, dan berbagi cerita bersama ibu-ibu lain yang sedang menunggu anak-anaknya terapi. Banyak sekali kasus yang berat hingga ringan yang dapat dijadikan penyemangat agar anak-anak terus maju dan ibu-ibu tetap positif.

Ruang Sensori Integrasi adalah ruang seperti tempat bermain, penuh dengan alat-alat permainan seperti kolam bola, ayunan, area panjat dinding, flying fox, sepeda roda tiga, trampolin, balok titian, dan lainnya. Tampak seperti kebanyakan tempat bermain pada umumnya, tapi yang membedakan terapi SI dengan hanya sekedar bermain adalah target masing-masing anak. Terapis akan menangani anak 1 on 1, dimana terapis akan memberikan instruksi dan arahan untuk membantu anak mencapai target tertentu. Untuk Nolan, karena ia melakukan semua dengan kecepatan tinggi, Nolan diajari untuk memperlambat gerakannya. Ia diminta berjalan mundur, berjalan di balok titian, berjalan di tepi kolam bola, dan juga bermain ayunan. Nolan juga diajari untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, apakah ia fokus, teralihkan dengan mainan atau teman, runut mengikuti arahan atau tidak. Hal-hal ini terlihat sepele, tapi dampak perubahan pada Nolan terasa sekali.

Begitu juga dengan Okupasi Terapi (OT). Terapi ini terlihat lebih membosankan untuk anak-anak dibanding dengan terapi SI di ruang yang penuh mainan. OT mengharuskan anak duduk di kursi dan terapis berada di depan dengan meja sebagai perantaranya. OT lebih fokus mengembangkan motorik halus pada anak, melatih fokus, pengenalan konsep, dan juga kemampuan psiko sosial. Kegiatan yang dilakukan Nolan pada sesi OT adalah belajar mengenal konsep kategori seperti buah, hewan, profesi, lokasi, dll, bermain playdough, berlatih memegang pensil warna, mengenal tekstur benda, dan banyak lainnya.

Nolan entah kenapa sulit sekali menyentuh atau makan makanan dengan tekstur yang lembek dan lengket. Ia tidak suka makan pisang, atau makanan yang bertekstur lembut. Ia juga kesulitan memegang lem atau slime. Disini peran OT sangat signifikan, untuk melatih Nolan lebih terbiasa dengan hal-hal yang dianggapnya ekstrem.

Perkembangan Sejauh Ini
Nolan sudah 2 bulan ikut terapi di SKC, dalam 1 minggu ia mengikuti 4 sesi yang terdisi dari 2 sesi SI dan 2 sesi OT. Dan minggu lalu, Nolan sudah mulai ikut terapi wicara (TW), pak Handoko menyarankan untuk menambah 2 sesi TW diluar sesi yang ada, tapi, lagi-lagi karena pertimbangan biaya, kami memutuskan untuk mengambil 1 sesi OT, 1 sesi SI, dan 2 sesi TW dalam seminggu.

Nolan hari ini sudah jauh sekali berkembang dari Nolan 2 bulan yang lalu. Kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sudah jauh berkembang, Nolan juga sudah mulai berinisiatif bertanya. Kemampuan sosial juga jauh meningkat, tantrum sudah jarang sekali terjadi, dan sudah mulai mau menegur orang lain, baik perempuan atau laki-laki.

Kami menyiapkan Nolan untuk bisa sekolah tahun depan, mudah-mudahan dengan perkembangan yang positif ini dapat membantu Nolan menghadapi sekolahnya nanti.

Kesimpulan

  1. Jangan tunda jika merasa ada sesuatu yang salah dengan anak kita. Konsep ‘nanti juga bisa’ itu kadang membuat kita lengah, dan tidak waspada. Iya kalau memang hanya masalah waktu, tapi jika anak perlu penanganan khusus, kita akan dapat lebih cepat memberikan penanganan.
  2. Jangan pedulikan pandangan orang lain. Kadang orang berkomentar sedikit tanpa tahu efek besarnya kepada kita, ngomong sedikit tapi nyelekit :). Fokus dan tetap positif saja pada anak-anak ya, Moms.
  3. Tidak putus berdoa, mudah-mudahan kita selalu diberi kesehatan, rejeki keluarga terus dilancarkan, dan perkembangan anak-anak terus meningkat.

Proses ini memang tidak mudah, tetapi konsistensi dan usaha pasti akan memberikan hasil yang baik. Jangan patah, dan tetap semangat ya kitaaa…

 

One thought on “Terapi Tumbuh Kembang, dan Kenapa Nolan Perlu Terapi?

  1. Thanks for sharing yaa mom, anakku jg mengalami delayed speech karena mikrosefali dan ada gejala autis, terapi udah, tahun depan rencana ikut terapi neurofeedback…yg harganya lumayan tapi bisa membantu menyeimbangkan otak kiri dan kanan, aku pernah nulis diblogku ttg terapi ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *