Kesehatan Jiwa, Mari Jaga Baik-baik!

Kesehatan Jiwa – Tanggal 10 Oktober ditetapkan secara internasional sebagai hari kesehatan jiwa sedunia. Saya tidak berkapasitas membahas ini dari segi medis atau juga non medis, saya hanya menuliskan pemikiran sederhana yang dari kemarin menggelayut di pikiran tentang topik ini. Mungkin banyak dari kita yang ngeh tentang ini tapi tidak pernah terpikir jika hal itu sampai terjadi kepada kita atau juga orang terdekat.Orang dengan sakit mental bukan hanya ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang suka kita lihat di jalan-jalan, dengan pakaian compang camping, tampilan lusuh, bicara sendiri, dan gambar-gambar lain yang melekat di kepala, setiap kali topik tentang kesehatan jiwa muncul ke permukaan. Itu hanya sepersekian bagian dari topik tentang kesehatan jiwa itu. Penyakit mental menurut mentalhealth.gov bisa berupa gangguan emosi, psikis, dan juga keberadaan sosial, yang dapat mempengaruhi bagaimana kita berpikir, merasa, dan bertindak. Jenis gangguan mental diantaranya adalah gangguan kecemasan, gangguan bipolar, gangguan obsesif kompulsif, skizofrenia, gangguan stres paska trauma, dan masih banyak lainnya. Silakan jelajah sendiri untuk informasi lebih lanjut ya.

Saya hanya seorang ibu rumah tangga penuh waktu dengan dua anak, yang berusaha tetap waras dengan segala drama keseharian dengan anak-anak. Teman-teman sesama ibu pasti mengerti bagaimana scene mandi anak-anak bisa berakhir dengan kelelahan jiwa yang amat sangat, belum lagi scene pemberian makan yang bisa saja berakhir seperti medan pertempuran, atau scene main di rumah yang bisa saja berubah menjadi drama penuh derai air mata dan darah. Itu hanya sebagian kecil kejadian rutin yang terjadi di rumah saya. Anak sulung saya sudah menjelang remaja, sedangkan si bungsu berumur 4 tahun sepaket dengan keistimewaannya. Semua toh harus dilewati, tidak bisa ditawar-tawar.

Baca juga: Dermatitis Atopik dan Abby bag. 4

Lalu apa hubungannya menjadi ibu rumah tangga dengan kesehatan mental? Bukannya enak kerjanya di rumah aja? Yang berpikir seperti itu, silakan ke laut. 🙂 Justruuu…kalau seorang ibu tidak kuat-kuat menjaga kesehatan mentalnya, akan ada potensi terjadi badai besar suatu hari nanti. Beneran. Saya sendiri pernah mengalami depresi yang walaupun tidak sampai perlu penanganan serius, tapi fase ini termasuk fase yang cukup berat. Untuk saya, kesakitan mental berawal dari pikiran buruk yang merajalela, mengambil alih segala ‘kelebihan’ saya, dan mengacung-acungkan kekurangan sehingga mencapai sebuah tahap ketidakmampuan diri berpikir secara jernih. Saya menjadi sangat moody, perubahan mood yang drastis, perubahan pola hidup, dan yang terpenting adalah perubahan perilaku. Saya menjadi sangat negatif, tidak menyenangkan untuk siapapun, dan sering berpikir untuk menyakiti diri sendiri. Orang-orang yang merasakan dampaknya justru orang-orang yang paling dekat, yaitu suami dan anak-anak.


Baca juga: Fenomena Bunuh Diri dan Berubahnya Persepsi Saya
Puji Tuhan, fase itu tidak menjadi lebih buruk dan bisa dilewati dengan baik. Saya sudah sampai mencari-cari klinik psikolog karena saya tahu saya perlu bantuan. Tapi, sebelum melakukan itu, saya memberanikan diri mengakui dan terbuka terhadap suami tentang keadaan saya yang sebenarnya. Perlahan tapi pasti, dengan kekuatan doa, bimbingan, dan bantuan dari suami dan anak-anak, saya bisa mengembalikan kesehatan mental saya.

Masih dari laman yang sama seperti di atas tadi, tanda-tanda awal masalah kesehatan mental dapat berupa:
1. Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
2. Menjauh dari orang-orang dan aktivitas biasa
3. TIdak memiliki energi atau hanya memiliki sedikit energi
4. Merasa linglung atau tidak peduli
5. Merasakan sakit yang tidak dapat dijelaskan
6. Merasa tidak berdaya atau putus asa
7. Merokok, minum-minum, atau menggunakan obat lebih banyak dari biasanya
8. Merasa kebingungan, pelupa, sering marah, kesal, khawatir, atau takut tanpa sebab yang jelas
9. Bertengkar dengan keluarga dan teman-teman
10. Perubahan mood yang menyebabkan gangguan pada hubungan sosial
11. Memiliki pikiran atau memori yang tidak dapat dialihkan
12. Mendengar suara-suara atau mempercayai hal-hal yang tidak ada
13. Berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain
14. Tidak mampu melakukan pekerjaan sehari-hari seperti mengurus diri sendiri, mengurus anak-anak, atau menyiapkan diri untuk bekerja atau sekolah

Jika sahabat ada yang merasakan beberapa gejala dari yang disebutkan di atas, jangan bilang kalau itu hanya masalah biasa, akibat kelelahan, atau bahkan menganggap omong kosong. Lakukan sesuatu sebelum gejala-gejala itu menjadi terlalu parah.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental (disarikan dari pengalaman pribadi dan berbagai sumber)
1. Cari tahu akar penyebab masalah dan bicarakan dengan orang lain
Menurut saya, semua masalah ada sumber utamanya, dan yang paling tahu tentang asal muasal masalah itu adalah saya sendiri. Ada sesuatu yang amat sangat mengganggu pikiran sehingga ia menjalar kemana-mana.
Runut kembali peristiwa yang dialami, tuliskan, lalu bicarakan dengan seseorang. Saya pikir ini seperti mencari pintu yang tertutup dengan semak belukar, kita memerlukan orang lain untuk sekedar berpegang tangan, atau menjadi teman bercerita sambil kita mencari pintu. Tapi jika memang tidak dapat menemukan atau mempercayai orang yang tepat, ada baiknya pergi mencari bantuan profesional.

Kemana perginya kalau butuh bantuan seperti ini?
Sama seperti kita memperlakukan penyakit lainnya, pergi ke fasilitas kesehatan terdekat, dari sana akan ditunjukkan atau dirujuk ke tenaga kesehatan yang lebih mumpuni, yaitu seorang psikolog atau juga seorang psikiater. Hanya informasi, penyakit mental juga ditanggung loh oleh asuransi nasional itu.

2. Menerima dan menghargai diri sendiri
Mungkin akan sulit jika ‘pintu’ belum ditemukan, jangan biarkan pikiran buruk merajalela dan memenangkan peperangan di jiwa kita. Fokus saja pada kelebihan yang kita miliki. Mulai  tuliskan hal-hal baik yang pernah dilakukan, berkat apa yang dimiliki hingga sekarang. Mulai dari orang-orang terkasih yang kita miliki, seperti orang tua, pasangan hidup, anak-anak, yang mencintai dan menyayangi kita, lalu biarkan hati mengalirkan hal-hal positif lainnya seiring waktu, tuliskan secara rutin dan jaga fokus disana. Kenapa perlu dituliskan? Karena efek menuliskan akan lebih berdampak dari pada tidak dituliskan.
Pikiran negatif biasanya akan memberikan counter attack jika kita melakukan hal ini, jangan dengarkan, terus saja berjalan, jangan berhenti.

3. Aktif berkegiatan
Kita akan cenderung menarik diri bahkan dari aktivitas rutin harian. Tetap lakukan kegiatan harian kita, atau bahkan mulai kegiatan yang baru, yang belum pernah dicoba sebelumnya. Atur pertemuan dengan teman-teman, lakukan hobi, dan hal-hal yang bisa mengalihkan kita dari pikiran buruk.
Olah raga juga bisa menjadi pilihan, lakukan yang disukai, karena olah raga tidak hanya berdampak pada fisik tetapi juga pada mental. Pada saat berolah raga, tubuh kita mengeluarkan hormon endorfin dan serotonin yang berguna untuk mengurangi rasa sakit, meredakan stres, mengatur suasana hati, dan memberikan energi positif.

4. Gaya hidup yang sehat
Ini memang terdengar klise dan teoritis ya. Gaya hidup yang sehat itu seperti apa sih? Banyak sekali referensinya, tapi untuk saya pribadi, sekedar memilah apa yang masuk ke dalam tubuh dan berolah raga secara rutin sudah termasuk kategori tersebut. Harus konsisten tapi ya…bukan sekedar euphoria atau dilakukan dalam jangka waktu tertentu.
Kita punya tanggung jawab penuh untuk mencari informasi sebaik-baiknya tentang apa yang baik untuk tubuh kita. Tidak terlalu ketat sehingga tidak menikmati hidup, tapi juga tidak terlalu santai sehingga menjadi ceroboh dan lengah.
Di umur memasuki dekade keempat, rasanya kita sudah punya ilmu kesehatan yang lumayan untuk tahu apa yang baik untuk kesehatan fisik dan mental kita. Itu gunanya Sang Pemilik hidup menganugerahkan karsa, rasa dan cipta untuk kita mahkluk ciptaan yang paling tinggi derajatnya.

Begitupun dengan kecukupan istirahat, makin berumur, tubuh akan lebih mudah terasa lelah, dan istirahat adalah obat mujarab untuk apapun. Di saat inilah tubuh meregenerasi sel dan melakukan perawatan supaya dapat bekerja maksimal. Jadi, kalau sudah olah raga dan makan sehat, tapi istirahatnya masih berantakan, tetap saja tidak akan maksimal.

Kesehatan jiwa dan fisik adalah anugerah yang harus dijaga, kita hanya punya sekali kesempatan hidup dan dipinjami raga yang fana, sudah sebaik dan sepantasnya kita menjaga supaya punya kualitas hidup yang baik. Mari gunakan kesempatan ini sebaik mungkin, bersikap baik terhadap sesama, dan hidup sepenuhnya sebelum masa kontrak kita habis.

Salam sehat, sahabat.

Gambar oleh Dean Moriarty dari Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *