Dermatitis Atopik dan Abby bag. 4

Dermatitis Atopik – Entah kebetulan, entah tidak, tulisan Dermatitis Atopik dan Abby yang sempat tayang 2 minggu lalu menghilang dari blog. Kebetulan minggu lalu saya sedang pindahan hosting, lalu laptop bermasalah (baca: rusak karena dikeprok2 Nolan, yang ini biar lain kalilah ceritanya) sampai data-data, artikel, tulisan, dan terjemahan segala macam tidak bisa terselamatkan. Tapi apa mau dikata, sudahlah, ditulis ulang saja seingatnya..
Saya kembali membawa Abby ke dr. Mardjuki sekitar 3 minggu lalu karena kulit di daerah kaki khususnya lutut dan di belakang lutut sudah makin tebal, menghitam, dan lecet akibat terlalu sering digaruk. Sudah beberapa lama saya memberikan Abby VCO sebagai pengganti pelembab setelah mandi. Kulit sih terasa halus tapi gatal masih datang, dan khususnya malam menjelang tidur dan ketika tidur, gatal datang lebih berat, sehingga membuatnya tidak bisa tahan untuk menggaruk.

Baca juga: Demartitis Atopik dan Abby bag. 3, bag.2, dan bag. 1

Kalau dulu gatal ini menyerang juga daerah mata, leher, dan lengan, sekarang daerah-daerah itu sudah jauh berkurang. Hanya tinggal di bagian sekitar lutut saja yang masih mengganggu. Saya kasihan karena tubuh Abby agak lebih perlu perawatan ekstra dan ribet, tapi terus diingatkan walaupun demikian, Abby harus tetap banyak bersyukur karena ada teman-teman yang jauh lebih tidak beruntung keadaannya.

Abby sekarang sudah kelas 5, sudah bisa diajak bicara lebih serius tentang kondisi tubuhnya, di masa peralihan seperti sekarang ini. Hormon-hormon yang mengalir menyiapkan tubuhnya untuk dewasa, tingkat emosi yang masih labil, tingkat kepercayaan diri, hanyalah beberapa hal yang membuat keadaan DA tubuhnya ini makin rumit untuk bisa diatasi.

Ada beberapa hal yang saya dan Abby rencanakan atau sudah dilakukan untuk mencoba mengurangi gatal yang datang
1. Olah raga dan meditasi
Kapan hari ketika saya sedang olah raga rutin, Abby ikut nimbrung, lalu kami sama-sama olah raga. Saya mengajarinya beberapa gerakan dasar saja, dan setelahnya saya jelaskan sedikit tentang meditasi. Kami mencoba bermeditasi walaupun saya juga hanya bisa sekedarnya. Saya mengajak Abby untuk memusatkan pikiran, mengatur nafas, dan memberi afirmasi positif pada tubuhnya. Afirmasi yang Abby coba tanamkan di alam bawah sadarnya adalah ‘Saya sehat’ dan ‘Gatal-gatal pergi’. Saya percaya afirmasi ini akan memberi kekuatan di dalam diri Abby untuk memberikan mekanisme pertahanan jika gatal-gatal datang.

2. Humidifier dan Minyak Atsiri
Yang ini masih sedang dalam rencana, saya mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang minyak atsiri a.k.a essential oil yang sedang happening belakangan ini. Rupanya banyak teman-teman yang memiliki alergi, sangat terbantu dengan hirupan uap dari humidifier yang ditetesi minyak. Dari beberapa artikel, minyak yang membantu untuk mengurangi efek alergi adalah lavender oil, lemon oil, dan tea tree oil. Masih belum kesampaian untuk beli sih dengan pertimbangan obat dan salep dokter masih ada, serta pertimbangan bujet yang belum siap. Harga humidifier setelah lihat di market place mulai dari 100ribu sampai yang berjuta-juta pun ada, begitu juga dengan minyak atsirinya. Merek pelopor yang masuk ke Indonesia berasal dari Amerika Serikat sana, dengan kisaran harga 400-600rb untuk ukuran 15 ml. Tapi banyak juga produsen lokal yang mulai bersaing dengan harga jauh di bawahnya. Nanti kalau sudah beli dan merasakan sendiri bedanya, saya tulis lagi sebagai artikel sendiri deh.

3. Lebih teliti memilih produk
Saya kadang masih ceroboh untuk memilih produk yang digunakan untuk Abby. Dokter menyarankan kalau Abby harus menggunakan deterjen yang lembut untuk pakaiannya, tidak usah menggunakan pelembut dan pewangi. Begitu juga untuk sabun mandi, harus yang benar-benar hypoallergenic, tanpa pengharum, tidak banyak busa, dan mengandung pelembab. Jadi, menurut dokter, ada suatu zat pelembab kulit yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh Abby, sehingga kulitnya tidak lembab seperti kebanyakan orang. Jadi, harus dibantu dengan hal-hal tersebut. Lagi-lagi, produk yang memenuhi kriteria itu masih sulit ditemui dan biasanya harganya mahal, karena memang barang impor. Oya, kapan hari saya menemukan sebuah laman tentang eczema dan tetek bengeknya, dari A-Z, boleh baca disini . Sepertinya, di negara-negara maju, sudah ada seperti yayasan yang menangani masalah dermatitis atopik dan eczema ini secara nasional. Mereka juga merekomendasikan produk perawatan yang ramah untuk penderita eczema dan sejenisnya, sehingga mempermudah konsumen. Sayangnya di Indonesia belum ada yayasan seperti ini, saya sampai saat ini belum menemukan tempat yang dapat memberikan saya banyak informasi tentang eczema selain dari forum-forum diskusi para ibu. Tapi kalau ada teman-teman yang tahu, boleh share di kolom komentar ya..

Saya terus berusaha melakukan apa yang dapat dilakukan. Memperkaya diri sebanyak-banyaknya dengan membaca dan berbagi, mudah-mudahan saja seiring waktu Abby dapat menemukan ritmenya sendiri untuk mengatasi keadaan tubuhnya yang saya bilang ‘high maintenance’. Apapun kekurangan yang ada, saya terus meningatkan agar tetap bersyukur.
Tetap semangat! Tetap sehat ya, semua.

One thought on “Dermatitis Atopik dan Abby bag. 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *