IMAN

Pembicaraan saya dan suami di mobil kemarin rasanya pantas  disimpan sebagai tulisan yang khusus. Banyak kejadian di beberapa bulan belakangan yang membuat kami jarang ngobrol secara mendalam, dan setelah pulang dari rumah duka kemarin, kami bicara tentang iman atau keyakinan. Sudah beberapa orang tetangga baik kami yang dipanggil Tuhan di umur yang masih terbilang muda, sekitar 50 tahun. Selama ini tidak pernah ada keluhan yang berarti, lalu tiba-tiba meninggal. Saya tidak akan membahas penyakit dan riwayat kesehatan atau yang lainnya, yang kami bicarakan di mobil kemarin adalah bagaimana jika itu terjadi pada kami.

Bagaimana jika saya yang dipanggil tiba-tiba oleh Sang Pemilik hidup? Atau bagaimana jika suami yang dipanggil tiba-tiba? Pertanyaan itu deras sekali mengalir. Ya, apa yang akan saya lakukan setelah acara pengebumian selesai, dan orang-orang kembali ke hidupnya masing-masing? Saya tidak terbayang. Dengan 2 anak yang harus dipenuhi segala kebutuhannya, dan bagaimana memunguti jiwa yang sudah tercecer karena kesedihan. Pun begitu jika saya yang pergi, walaupun suami mungkin akan tetap bekerja seperti biasa, bagaimana nanti anak-anak, siapa yang akan mengurus dan menjaga mereka?

Kekuatiran itu manusiawi, tapi jangan kamu kuatir. Burung pipit saja disediakan makanannya oleh Tuhan, apalagi kita. Itu jawaban suami saya. Dan saya tahu persis ayat itu, dari FIlipi 4:6. Iya ya…kekuatiran berlebihan akan menghalangi kita berbuat sesuatu, menghalangi langkah kita untuk maju. Iman adalah keyakinan bahwa semua akan dapat dilewati dengan baik. Sang Pemilik Hidup pasti tidak akan meninggalkan dan menelantarkan anak-anak yang selalu bersandar pada-Nya. Seketika itu, pertanyaan saya menguap menjadi syukur yang tak terkira.

Iman percaya terkadang menjadi saru ditelan rutinitas. Betapa kadang-kadang kita lebih mementingkan rutinitas ibadah tapi pada saat sesuatu terjadi, tindakan yang kita lakukan jauh sekali dari ajaran Sang Penyelamat. Apalah saya menghakimi tindakan orang lain, saya pun tak luput dari kesalahan yang sama. Bagaimana membuka mata bahwa ajaran di kitab suci yang kita yakini benar-benar diterapkan jika kita dihadapkan oleh suatu peristiwa, baik itu musibah atau juga sukacita. Jika ada yang berkesusahan, apakah kita datang menghampiri atau malah menjauh. Jika ada yang membutuhkan, apakah kita siap membantu atau malah hanya ikut bersimpati. Jika ada yang berprestasi, apakah kita ikut bahagia atau malah iri hati? Jika ada yang berkelimpahan rejeki, apakah kita ikut minta bagian atau malah ikut bersukacita? Jika ada yang sakit, apakah kita datang menjenguk atau malah menunjuk-nunjuk jari?

Semua kembali kepada hati sendiri. Sejauh mana kita merespon segala kejadian yang menghampiri, itulah diri yang sebenar-benarnya. Iman seharusnya tercermin dari perilaku sehari-hari. Menjadi individu dengan kualitas sebaik mungkin, adalah tujuan iman yang sesungguhnya. Saya yakin bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, porsi yang berlebihan juga akan membuat keblinger, dan dapat membuat seseorang menjadi tidak fleksibel menghadapi dunia nyata. Saya pikir, selama semua dilakukan dalam koridor kebaikan, maka itulah kualias kita sebagai manusia, bukan sekedar orang yang dengan label agama tertentu.

Home, 17 April 2019 – 21.03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *