Bagaimana Saya Menurunkan 10 kg di Rumah (Sumpah, Bukan Iklan)

Ini adalah cerita saya. Perjalanan saya melewati kerja keras, konsistensi, dan tekad yang kuat untuk menjadi saya yang lebih baik. Saya melakukan ini untuk diri saya sendiri, bukan orang lain.

Banyak orang bilang kalau saya tidak terlalu ‘besar’. Ini terjadi sekitar bulan Februari 2018, dengan tinggi 165 cm, dan waktu itu saya berada di angka paling berat, 68 kg, tidak termasuk berat ketika hamil, yang mencapai 72 kg pada bulan ke sembilan. Bagaimana saya mencapai angka itu adalah hanya hal-hal rutin, tidak gila-gilaan makan pizza, kue, donat, atau yang lainnya. Saya hanya melakukan hal rutin, makan 3 kali sehari, dengan 2 kali snack diantaranya. Untuk kebanyakan orang, ini adalah hal yang wajar, tapi buat saya, ini membuat angka timbangan naik secara berkala. Saya tidak tahan untuk tidak makan nasi uduk, beli kue cucur atau kue lupis kesukaan saya, makan siang dengan porsi biasa, ngopi sambil celup biscuit di jam 3, dan makan malam sekitar jam 6 atau 7. Saya tidak banyak melakukan kegiatan fisik secara berlebihan, selain harus menjaga anak laki-laki 3 tahun saya yang super aktif.

Ketika saya ada di angka 68, saya merasa buruk sekali. Tingkat kepercayaan diri saya sangat rendah, saya menjadi negatif, dan terlebih, tidak menyukai bentuk tubuh saya. Muka makin lebar, pipi tembem, lengan besar, dan perut menggelambir. Celana dan baju mulai sesak dan sempit. Selain faktor fisik itu, perasaan di dalam juga makin buruk. Saya sering bad mood nggak jelas, tidak percaya diri, dan membenci diri sendiri. Saya sadar, saya harus melakukan sesuatu. Hal yang terlintas di kepala adalah, saya harus olah raga dan membetulkan pola makan.

Boleh juga baca versi bahasa Inggris disini: How I lost My 10 kg at Home

Latihan yang saya lakukan
Lalu, satu hari, saya hanya mulai saja. Saya mencari video latihan untuk pemula di YouTube. Jillian Michaels adalah nama yang muncul duluan karena saya ingat menonton dia menjadi mentor di acara The Biggest Loser. Saya menemukan Body Shred Level 1. Latihan ini terdiri dari 8 level. Dan saya nekat mencoba level 1 , selama 30 menit. Nafas ngos-ngosan padahal baru mulai 10 menit, dan merasa latihan ini terlalu berat untuk pemula. Hari berikutnya juga lebih menyiksa, karena efek latihan kemarin baru terasa setelah bangun tidur pagi tadi. Badan, sendi, dan setiap bagian tubuh sakit dan pegal dimana-mana. Tapi saya tidak berhenti. Saya tetap latihan pada hari kedua, ketiga, keempat dan hari-hari berikutnya. Saya berlatih setiap hari dari Senin sampai Sabtu sekitar jam 4 atau 5 sore. Untuk awal-awal, saya hanya mampu mengikuti latihan selama 30 menit, lalu beres. Makin kesini, saya bisa latihan mengikuti video yang berdurasi 60 menit.

Di bulan pertama juga saya tidak mempunyai peralatan senam apapun, tidak juga sepau senam. Jadi, saya latihan telanjang kaki, tanpa alas, dan tidak punya barbell. Tapi seiring waktu, saya pikir, kalau saya mau serius, saya harus lebih serius juga mempersiapkan segala sesuatunya. Dan saya putuskan mulai membeli sepatu olah raga, alas senam/mat, dan sepasang barbell dengan berat masing-masing 1 kg. Saya menandai angka di kalender setiap saya selesai berlatih. Dan saya terus melakukannya hingga hari ini.

Apakah saya kesulitan? Ya iyalaaahh…
Ada hari-hari dimana saya tidak termotivasi sama sekali, ada hari-hari dimana saya semangat tapi ditengah latihan ada anak yang pup, nangis, atau bahkan ngamuk; ada juga hari-hari dimana semua berjalan lancar, atau malas sama sekali. Memberi tanda pada kalender itu membantu sekali untuk saya, karena setiap melihat angka yang tidak ditandai, mengingatkan saya pada tujuan awal. Saya menimbang berat badan secara rutin, setiap pagi, setelah bangun tidur, yang dituju adalah timbangan untuk disimpan pada akun Google Fit.  Nyebelin sih sebenernya, melihat angka di timbangan hanya berkurang dalam ukuran ons, bukan kilogram seperti yang saya inginkan. Angka timbangan turun amat sangat sedikit. Bayangkan, saya hanya turun 1 kilo dalam 1 bulan! Iya, satu kilo. Saya agak kecewa, tapi saya terus maju. Saya latihan tiap sore, dan tepat waktu.

Makanan
Makanan, olah raga, dan tidur adalah hal amat penting jika kita menginginkan kesehatan yang lebih baik, kata gambar grafik yang saya ikuti di Instagram. Saya memilih Intermitten Fasting (atau kalau di Indonesia lebih dikenal dengan metode OCD, yang dipopulerkan oleh Dedy Corbuzier). Saya melewati sarapan, makan siang seperti biasa sekitar jam 11 atau 12, satu snack, dan makan malam sebelum jam 6. Apa menunya? Ya menu biasa saja, tidak ada yang berubah. Tapi seiring waktu, saya menjadi lebih agak bijak dalam memilih apa yang mau dimakan. Saya pilih makan buah untuk makan malam, dan hanya minum air putih setelahnya, sampai keesokan hari untuk makan siang.

Apa saya kesulitan? Helloooww….ya iya lah.
Saya kangen sekali nasi uduk, kue lupis, lontong sayur, dan teman-teman lainnya yang biasa Cuma ada di pagi hari. Tapi saya menahan keinginan tersebut. Saya tetap konsisten di jalur yang sudah dimulai. Dan pada bulan ke delapan saya melakukan ini secara rutin, hasrat kepingin saya pada makanan jauh berkurang. Saya tidak lagi menginginkan kopi susu yang dicocol biscuit, dan dengan mudah nyuekin abang tukang bakso yang lewat depan rumah. Nafsu makan secara alami menurun sendiri, dan ini adalah pencapaian besar untuk saya.

Hari ini
Bulan ini adalah bulan kesepuluh saya berlatih secara konsisten, dan saya sudah turun 11 kg, hilang 10 cm lingkar pinggang, hilang 9cm lingkar dada, dan hilang 10 sm lingkar pinggul. Pagi tadi, timbangan saya ada diangka 57 kg.  Lalu, apa yang saya peroleh sampai hari ini? Sini, saya beritahu.

1. Saya merasa lebih baik, secara pikiran
Ini adalah hal terpenting. Saya menjadi lebih positif, lebih tenang, dan lebih bahagia. Saya tidak lagi membandingkan diri dengan orang lain, dan bangga dengan apa yang saya punya. Untuk mencapai tingkat pemikiran ini, sungguh pencapaian besar, saya bisa mengalahkan diri sendiri, dan menjadi lebih positif setiap hari.

2. Tubuh yang lebih kecil
Awalnya memang mau punya tubuh lebih kecil kan, tapi seiring waktu, alasan nomor 1 tadi jauh lebih penting. Saya sadar bahwa penurunan berat badan bukan cuma sekedar mencapai angka lebih kecil, tapi lebih dari itu. Saya menjadi lebih percaya diri menggunakan lengan pendek, celana jeans, atau bahkan hanya sesederhana kaos oblong. Bagaimana perasaan di dalam diri sendiri, jauh amat lebih penting.

3. Seks yang lebih baik (atau hot?)
Beneran! Karena saya merasa lebih baik di dalam, tingkat kepercayaan diri lebih tinggi, dan itu membuat saya merasa lebih seksi di ranjang. Ehem… mungkin terdengar klise, tapi bagaimana kita merasa bahagia dengan diri sendiri yang membuat sinar itu memancar keluar. Bukan hanya masalah memuaskan suami ya, tapi bagaimana kamu bisa memuaskan diri sendiri selama proses bercinta itu terjadi. Setidaknya, itu yang suami saya bilang loh ya.



Bukan maksud saya untuk bilang bahwa kita harus punya badan yang lebih ringan untuk bisa merasakan itu semua, bukan, sama sekali bukan. Kalau kamu bertubuh besar, dan tidak memiliki masalah-masalah seperti saya di awal tadi, bagus dong. Kamu sungguh diberkati. Tapi, kalau kamu tidak menyukai diri sendiri, mungkin menurunkan berat badan bisa membantu kamu merasa lebih baik. Lakukan saja secara rutin, dan kuatkan tekad.

Jika kamu bersinar dari dalam, cahayanya pasti akan memancar ke luar, tidak peduli seberapa besar atau kecilnya tubuh kamu.

2 thoughts on “Bagaimana Saya Menurunkan 10 kg di Rumah (Sumpah, Bukan Iklan)

  1. kok jadi pengen nyoba ya, ocd nya sih udah dilakukan tapi olahraganya yang masih ogah-ogahan, haha. salam kenal mba, ghina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *