Mendampingi Anak Perempuan Memasuki Fase Pubertas

PUBERTAS

Pubertas – Rasanya masih segar ingatan tentang hari kelahirannya, yang ternyata sudah 10 tahun yang lalu. Anak sulung saya sudah memasuki fase pubertas. Jujur saya sendiri agak ‘keder’ menghadapi ini, karena saya tahu akan banyak sekali perubahan yang menunggu di pintu sana. Tapi berbekal naluri ibu, dan membekali diri dengan banyak informasi, saya melenggang mendampinginya dengan sebaik mungkin. Jaman saya dulu, membicarakan hal soal pubertas adalah hal yang tabu. Saya pun dulu tidak pernah dibekali dengan pembahasan yang mumpuni dari orang tua, dan semua berjalan dengan sendirinya dengan pengetahuan yang minim.

Saya mencoba untuk tidak melakukan hal yang sama kepada Abby. Saya percaya, memiliki lebih banyak informasi tentang pubertas akan sangat membantu sang anak memahami perubahan yang terjadi. Saya bicara secara khusus tentang pubertas anak perempuan, karena anak laki-laki saya masih ada di fase rusuh-tas alias balita 🙂

TANDA-TANDA PUBERTAS PADA PEREMPUAN

1. Pertumbuhan payudara
Biasanya mulai tumbuh direntang umur sekitar 9-14 tahun. Pertama kali mungkin anak akan mengeluh dadanya sakit atau nyeri. Dan jika dipegang akan terasa benjolan yang agak keras. Saat ini bagian payudara bagian luar belum terlihat, tapi mulai dari sini akan terasa pesat sekali pertumbuhannya. -Jauh sebelum hal ini terjadi, saya sudah mulai mengenalkan anggota tubuhnya sendiri, dan seiring waktu bicara tentang perubahan yang terjadi. Mandi bersama adalah waktu yang biasanya saya gunakan untuk membahas hal ini.- Dari sinilah sudah mulai disebut masa pubertas.

2. Pertumbuhan rambut – rambut tubuh
Rambut-rambut halus akan mulai tumbuh di bagian ketiak, lengan, kaki, dan kemaluan. Penting untuk orang tua untuk memberikan informasi yang jelas supaya mereka tidak bingung.

3. Pertumbuhan berat dan tinggi badan yang pesat
Kedua hal ini terlihat sekali di Abby, walaupun setiap hari bertemu, saya bisa dengan jelas melihat perubahan fisiknya. Saya ingat ketika membawa Abby ke Posyandu untuk imunisasi, pada saat penimbangan berat badan, timbangan menunjukkan angka 38 kg. Sampai takjub dan kaget karena seingat saya, ia masih di angka 28 kg. Rupaya itu adalah setahun lalu, ketika ia opname. Pakaian seperti baju, celana, dan juga sepatu sudah banyak yang tidak muat. Sekarang, nomor sepatunya hanya satu nomor di bawah ukuran saya. My oh my. She’s growing up too fast. Abby termasuk anak yang berukuran tinggi besar di kelasnya, dan saya perhatikan ia sering berjalan agak bungkuk atau tidak tegap. Ketika ditanya, ia merasa minder karena ia paling tinggi diantara teman-teman perempuan di kelasnya. Nah, persoalan ini juga saya tanggapi serius. Penjelasan bahwa tulang punggungnya akan terganggu jika ia berjalan tidak tegap dan menyuntiknya dengan motivasi kepercayaan diri terus saya lakukan dan ingatkan untuk memupuk rasa percaya dirinya.

4. Menarche (menstruasi pertama)
Jauh sebelum masa pubertas, saya sudah memberikan penjelasan awal tentang menstruasi. Dan ketika waktu ini mendekati, saya terus mengingatkannya. Sekitar 3 atau 4 bulan sebelum mens pertama, vagina akan mengeluarkan lendir putih kekuningan. Ketika tanda-tanda itu mulai terlihat dari pakaian dalamnya, saya bilang kalau mens bisa terjadi kapan saja, jadi ia tidak perlu kaget. Saya menyiapkan pembalut dan celana dalam di tas sekolahnya, jaga-jaga jika mens terjadi di sekolah.
Lalu, datanglah hari yang dinantikan. Ketika mau mandi pagi, ‘Ma, aku mens’. Saya deg-degan, tapi tetap berusaha cool. Saya mengajarinya cara memakai pembalut, cara membersihkan pembalut, membungkus dan membuang pembalut, juga cara mencuci celana dalam yang terkena noda. Saya sempat menanyakan bagaimana perasaannya tentang hal ini, apakah takut, senang, atau apa. Dan ia menjawab,”Hmm…biasa aja sih. Cuma aku gak suka karena jadi repot harus pake-pake pembalut.”

5. Bau keringat
Banyak ibu yang senang membaui aroma tubuh anak-anak termasuk saya. Pada saat bayi dan balita, anak-anak memiliki aroma yang membuat ketagihan dan saya sering mencium serta membaui mereka. Tapi sejak masa pubertas, bau keringat si anak mulai tercium tidak sedap yang memabukkan. Kelenjar keringat dan minyak seperti berlomba-lomba mengeluarkan aroma yang sudah seperti orang dewasa. Saya bicara ketika bau keringatnya mulai mengganggu, tentang alasan kenapa bisa begitu, dan juga cara mengatasinya. Lalu saya memperkenalkannya dengan deodorant, dan mengingatkan untuk lebih ekstra melakukan pembersihan ketika mandi.

6. Perubahan emosional
Saya merasakan sendiri perubahan emosional ini, yaitu ditandai dengan frekuensi berantem yang agak lebih sering dibanding sebelumnya, pemicunya karena ia sudah mulai lebih berani mengungkapkan keinginannya, yang kadang agak kurang rasional dan semaunya sendiri. Ia juga sudah mulai beralih tontonan, yang tadinya masih suka nonton Princess Sofia dan Elena of Avalor, sekarang sudah K-Pop garis menegah, Henry Danger, dan The Thundermans. Tanda-tanda mulai tertarik terhadap lawan jenis juga sudah terlihat, walaupun masih sekedar celebrity crush kepada salah satu anggota boy band.

7. Jerawat
Jerawat juga akan mulai tumbuh, tidak hanya di wajah, tapi bisa juga di bagian tubuh lain seperti punggung. Saya kadang masih kelupaan kalau ia sudah mulai besar, saya masih bawel mengingatkan untuk membersihkan bagian ini itu ketika ia mau masuk kamar mandi, dan adanya si bocah abege protes.

 

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

1. Penjelasan yang menyeluruh
Karena semua ini adalah hal yang alami dan akan dialami semua orang, saya mencoba menjelaskannya senormal mungkin, dengan bantuan artikel-artikel terkait dan juga pengalaman saya pribadi. Menjelaskan bahwa semua perubahan ini adalah lumrah, dan harus disyukuri karena itu pertanda bahwa tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Saya mencoba memberikan gambaran umum tentang fungsi alat reproduksi dan hal-hal yang berkaitan. Di sekolah juga akan dilakukan penyuluhan tentang ini di semester kedua nanti.

2. Pendampingan
Saya sudah mulai memberikan hp kepada Abby, khusus di akhir minggu. Kebetulan ia senang menggambar dan sering menggunakan YouTube untuk mengunggah hasil gambarnya. Seiring dengan itu, ia juga mulai familiar dengan aplikasi Whatsapp. Saya dengan rutin mengecek pembicaraan dan history di channelnya. Saya juga memberikan informasi tentang apa yang tidak boleh dibicarakan sembarangan kepada orang atau teman yang komentar di channelnya. Selain itu, saya juga mengingatkan jika ingin bertanya tentang hal yang ingin diketahui, orang yang pertama harus ia cari adalah saya, bukan temannya.

3. Perbanyak sabar
Saya ingat-ingat bagaimana ketika saya baru mulai memasuki pubertas, curi-curi menggunakan telepon, berbohong ke Mama soal nilai ulangan atau juga uang jajan, ngaku kerja kelompok padahal pergi main, dan banyak hal lainnya. Jadi, saya tidak bisa mengharapkan anak saya baik, jujur, tak bercela 100%. Jadi, saya berusaha memperbanyak sabar dan meyakinkan diri kalau semua akan dilewati dengan baik. Yang perlu dilakukan adalah mendampinginya agar ia berjalan di koridor yang sesuai dengan tatanan moral dan agama.

4. Terbuka dan tidak over protective
Sama seperti kita dulu, gejolak jiwa muda yang meletup-letup ditambah dengan produksi hormon yang massive pasti akan memberi efek dalam kehidupan sehari-hari. Mengekang saya rasa bukan cara yang terbaik, saya memberikan hp dengan peraturan yang disepakati kedua belah pihak, berpikiran terbuka, dan selalu up to date, yang artinya, jika ia menyukai BTS (boyband Korea), maka saya juga terbuka untuk mencari tahu tentang BTS, walaupun sampai sekarang saya tidak bisa membedakan wajah para personilnya. Apa bedanya dengan saya dulu ketika NKOTB dan Back Street Boys di jaman saya dulu, dan bagaimana saya membuat Mama pusing dengan poster dan stiker mereka di seluruh kamar saya. Now, it’s my turn. Tadaaa….

5. Selalu doakan anak-anak
Ini adalah jurus terakhir yang paling ampuh. Semulus dan seberat apapun tantangan yang kita hadapi dalam menjalankan peran sebagai orang tua, doa tetaplah satu-satunya pegangan yang menguatkan. Hargai setiap usaha yang mereka lakukan, walaupun hasilnya tidak selalu berakhir baik dan doakan mereka dalam setiap kesempatan. Kiranya doa yang kita larungkan ke Sang Pemilik Hidup, bisa menjadi penuntun tangan anak-anak ketika kita tidak berada disampingnya.

2 thoughts on “Mendampingi Anak Perempuan Memasuki Fase Pubertas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *