world suicide rates

Candles For Humanity

candles for humanitySaya rasanya sampai di titik muak membaca berita-berita kejahatan di portal online. Inginnya tidak membaca karena saya yakin akan membuat perut berputar dan mual memvisualisasikan apa yang terbaca di kepala. Tapi sisi lain, saya ingin membaca supaya saya setidaknya bisa membekali diri sendiri maupun anak perempuan saya, dengan pelajaran dibalik semua kejadian buruk tersebut. Continue reading “Candles For Humanity”

world suicide rates

Perbedaan Mengasuh Abby dan Nolan Ditahun Pertama

image

Blog Dekat Hati – Saya adalah perempuan yang beruntung, boleh melahirkan kedua anak saya Abby dan Nolan secara normal, dan juga bisa menyusui tanpa kendala yang berarti. Abby, sekarang 7 tahun, saya susui selama 2 tahun, pas sebelum ulang tahunnya kedua saya berhasil menyapihnya juga tanpa drama yang berkepanjangan.

Continue reading “Perbedaan Mengasuh Abby dan Nolan Ditahun Pertama”

world suicide rates

Mengajak Anak Bersyukur

PicsArt_02-29-02.02.30

Abby : “Enakan aja kita rumahnya di Royal, biar deket sama Maureen. Aku suka rumah di sana keren…”
Mama: “Mama suka di rumah kita aja. Abby tau nggak ada orang yang nggak punya rumah, tinggalnya di gerobak?”

A : “Aku nggak mau makan pake ayam, Ma. Maunya pake sayur..”
M : “Makan yang mama sediain, Bi. Abby tau nggak di luar sana ada orang yang mau makan tapi nggak ada uang beli nasi..” Continue reading “Mengajak Anak Bersyukur”

world suicide rates

Tanpa Kata

family

Dua hari belakangan, portal berita yang sering saya kunjungi, tak henti-hentinya meng-update berita tentang pembunuhan seorang perempuan berusia 19 tahun. Ditemukan di pinggir jalan tol, dan ternyata dibunuh oleh sang mantan pacar dan kekasih barunya. Saya tak habis pikir, tak kunjung menemukan kata-kata untuk menggambarkan situasi ini.

Walaupun saya tidak ada hubungan apa-apa dengan korban, tapi rasanya sebagai ibu, saya merasa perih dan sedih sesedih sedihnya. Gadis cantik, anak satu-satunya, sedang ranum menjalani hidup, jalan panjang membentang menanti, harus tewas dengan cara yang sungguh mengenaskan, dengan motif yang rasanya konyol sekali untuk di dengar. Cemburu. Owalah… betapa kelu rasanya lidah mengucap.

Pikiran saya menerawang kepada keluarga yang ditinggalkan.

Hancur lebur tak bersisa pasti hati kedua orang tuanya. Saya sendiri memiliki satu anak perempuan yang berusia 5 tahun, dan tak terbayang apa rasanya kehilangan anak dengan cara sedemikian keji. Apakah hati sanggup, apakah diri mampu, menjalani sisa umur?  Apakah jiwa sanggup bertahan? Apakah hati sanggup memaafkan?

Menghakimi sang pelaku pun, rasanya tak bisa mengurangi rasa sedih yang mendera. Lalu, pikiran pun juga terbang kepada orang tua kedua pelaku. Saya yakin setiap orang tua berharap anak-anaknya menjadi orang baik, dan apalah yang dirasa orang tua pelaku sekarang, saya yakin, tak kalah hancur hati seperti yang dialami orang tua korban. Kecewa rasanya tidak cukup mewakili kata.

Cuma Sang Punya Hidup yang bisa dijadikan sandaran di saat seperti ini. Terlepas dari betapa tidak adilnya hal ini terjadi pada hidup. Terlepas dari ketidaksanggupan logika menerima takdir. Hanya Yang Maha Kasih-lah yang mampu menguatkan diri.

—-

Menjadi orang tua di jaman edan seperti ini, perlu banyak sekali kasih, ilmu, sekaligus sabar yang tanpa batas. Hadir, dalam konteks sepenuh hati dan diri, dalam setiap momen tumbuh kembang anak, menanamkan prinsip, serta bimbingan yang tak putus, saya rasa adalah modal yang sangat fundamental. Mencintai dan mengasihi anak apa adanya, tanpa memaksakan kehendak, tanpa berusaha membuatnya seperti kita…rasanya mudah diucap, terkadang dalam keseharian kita sering kali lupa. Hal-hal kecil, penghargaan yang kita berikan, baik itu berupa pelukan, ciuman, kata-kata, atau bahkan sekedar acungan jempol, saya yakin pasti akan berjejak di jiwanya. Merasakan betapa ia sungguh berharga, dan betapa dicintai. Saya percaya bahwa hal-hal positif akan berakar ke nuraninya -begitupun hal-hal negatif-. Sehingga kelak ia dewasa nanti, ia akan mampu menghargai orang lain, menerima perbedaan, mengatasi konflik, dan apapun itu, secara bijak, dengan modal hal-hal positif yang kita jejaki di jiwanya semenjak kecil.

Mari terus berjuang, wahai orang tua…

Mari bekali mereka hati nurani yang mulia, bukan cuma sekedar prestasi belaka.

Rumah, 7 Maret 2014

world suicide rates

Seiring Waktu…

image

Membaca postingan ‘Cerita Susah Mandi’ yang saya posting hampir setahun lalu, tiba-tiba membawa saya ke situasi sekarang yang sungguh kondusif dirumah. Sudah hampir tidak pernah lagi tantrum berkumandang di rumah kami. Saya sangat bersyukur sekali tahap itu terlewati dengan baik.

Memang tidak ada sekolah untuk belajar menjadi orang tua, karena semua ‘learning by doing’. Satu-satunya cara cuma memperkaya diri supaya bisa mendidik dan mengajar anak sebaik-baiknya. Dari perkembangan Abby di usia 4,5 thn sekarang, emosi yang dulu meledak-ledak tidak lagi datang. Hanya sekedar sikap wajar yang ditunjukkan jika ia tidak menyetujui sesuatu sekedar protes.
Belakangan kami lebih bisa berkomunikasi dengan baik, faktor umurnya tentu berperan banyak, semakin besar dan banyak pengertiannya. Justru dengan melewati fase ‘berperang’ itulah sekarang kami bisa lebih saling mengerti.

Jadi, untuk para orang tua diluar sana yang memiliki anak dengan emosi berlebih saat toddler, saya cuma bisa bilang, cari informasi sebanyak-banyaknya, bersabar, dan berdoa tanpa putus supaya kita semakin dikuatkan.

Home, 20/02/13