Pubertas (1)

BON JOVI, JAKARTA 2015

bjv

bjj

Bon Jovi, Jakarta 2015 -Hari ini 10 September 2015. Hati saya sedikit nelangsa karena foto Bon Jovi (bareng ondel-ondel) yang sudah sampai di Jakarta beredar di hampir semua media sosial. Sejak dari gembar-gembor konsernya tengah tahun lalu, saya merasa biasa saja karena memang pasti tidak bisa nonton idola saya sejak SMP ini, dikarenakan bayi lucu saya yang pasti tidak bisa ditinggal. Tapi sejak siang, saya menjadi agak mellow. Rasa yang sama waktu persis di ulang tahun saya yang ke 15 dulu, Bon Jovi juga konser di Ancol, ya…rasa yang sama 20 tahun lalu. Ah, memang kita tidak berjodoh, Kang Jopi…Kang Jopi…

Continue reading “BON JOVI, JAKARTA 2015”

Pubertas (1)

Jalan Hidup

Pernahkah bertanya-tanya pada diri sendiri kenapa kita bisa ada di titik hari ini? Berjodoh dengan suami? Boleh tinggal di tempat sekarang? Kerja di tempat sekarang? Atau hal-hal lain yang kadang terdengar konyol tapi itulah nyatanya yang kita punya sekarang.

Saya masih percaya kalau jalan hidup kita memang garis besarnya sudah ditentukan oleh Sang Pemilik Hidup, tinggal bagaimana kita membaca tanda-tanda di jalan dan mengambil keputusan itulah yang membuat kita ada dimana kita sekarang.

Video diatas adalah video yang merekam band akustik bernama Romantic Warriors, yang rutin mengisi Melly’s Garden Bar & Resto, Jakarta setiap Kamis. Continue reading “Jalan Hidup”

Pubertas (1)

ROCKER DADDY

PhotoGrid_1440862456114
Joe Tobing Now n Then

Saya tidak sempat mengenal Joe yang di masa kuliahnya dulu adalah vokalis band punk bernama Day Off. Yang saya dengar cerita darinya adalah band lokal yang keren di Medan dulu, walaupun tidak sempat go national, tapi banyak penggemarnya disana.

Sekarang, di tahun kedelapan pernikahannya, Joe, yang biasa nyanyi di gereja atau yang saya tahu menyanyikan tembang-tembang lawas dan lagu daerah Tapanuli, kini menemukan kembali jiwanya yang sempat terkubur dengan rutinitas dan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala rumah tangga. Beberapa bulan belakangan, Joe bergabung dengan komunitas di FB bernama 80-90an, yang juga membawanya ke komunitas Rock Hits. 

Continue reading “ROCKER DADDY”

Pubertas (1)

Perjalanan Panjang bernama ‘Pernikahan’

Image

Terlihat cuplikan di televisi, dengan tema yang sedang naik daun. Perceraian. Ya, keluar dari ikatan pernikahan. Mungkin jika yang menikah baru menikah beberapa tahun, kita akan merasa lebih maklum, walaupun sebenarnya tidak boleh maklum. Tapi ini adalah pasangan menikah dengan jumlah tahun yang bukan sedikit, bahkan salah satu pasangan sudah memiliki cucu. Kaum selebritis memang menjadi komoditas untuk selalu dipergunjingkan, tapi saya disini saya akan melepaskan diri dari stigma menilai ataupun menghakimi. Saya mau berusaha melihat dari sudut pandang seorang perempuan yang juga adalah seorang istri dan ibu.

Mungkin pandangan saya hanya sempit, secara saya memang hanya seorang ibu rumah tangga penuh waktu. Saya tidak habis berpikir dan sedikitpun tidak mau berandai-andai, ataupun menempatkan kaki saya di sepatu para pasangan yang memilih berpisah. Diusia pernikahan kami yang baru akan memasuki tahun keenam, rasanya mungkin memang tidak kredibel saya menuangkan pikiran seperti ini. Tapi saya yakin, esensi pernikahan, seharusnya adalah sama, di tahun kelima, kesepuluh, keduapuluh lima, ataupun kesekian. Pernikahan seharusnya menonjolkan hal-hal baik pada seorang individu, karena disinilah seluruh daya aktualisasi diri berada dipuncaknya. Menjadikan keluarga sebagai alasan kuat untuk terus bekerja dengan baik dan jujur, menjadikan rumah sebagai tempat terindah dibandingkan tempat manapun, menjadikan suami atau istri sebagai ‘rekan’ yang saling melengkapi, dan juga menjadikan anak sebagai investasi tak ternilai yang harus seutuhnya dijaga segenap jiwa.

Hal-hal tersebut memang terdengar teoritis, tapi mari kita berpikir lebih dalam. Masalah apapun bisa dihadapi jika kita sebagai suami istri mau lebih merendahkan diri, menempatkan ‘diri’ sebagai nomor dua, dan ‘kita’ sebagai nomor satu. Memang terdengar sulit, tapi bukankah sulit juga menjadi bagian janji pernikahan dulu? Ketrampilan berkomunikasi mutlak untuk dipelajari, dan seiring proses bertambahnya umur pernikahan, seharusnya kita bisa melatihnya.

Sebuah film berjudul ‘Hope Springs’ yang diperankan oleh Tommy Lee Jones dan Merryl Streep membuat saya terkesan, kisah pernikahan pasangan yang sudah tidak lagi muda seakan menjadi potret masa depan yang mungkin akan menjadi familiar buat kebanyakan pasangan. Di masa ketika anak-anak sudah mapan dan mereka kembali berdua saja dirumah, dengan segala hal yang hanya menjadi rutinitas, membuat pernikahan menjadi sangat membosankan. Mereka tidur di  kamar yang berbeda, tidak ada lagi romantisme, atau bahkan percikan. Akhirnya, sang istri secara tidak sengaja menemukan seorang psikolog yang khusus membantu masalah pernikahan  seperti ini. Sudah banyak kliennya yang sukses mereguk kembali kemesraan berumah tangga, bukan hanya sekedar menjadi teman serumah. Kisah perjuangan mereka akhirnya berbuah manis, walaupun bukan karena bantuan psikolog tersebut semata.

Ini buat saya film yang sangat menyentuh, kisah cinta sejati memang bukan hanya sekedar masalah berapa lama waktu yang dilewati bersama, tapi jauh lebih kepada kualitas hidup bersama itu sendiri. Dengan maraknya berita perceraian belakangan ini, membuat saya prihatin sekaligus bersemangat. Prihatin dalam rangka karena saya tidak bisa membayangkan rasanya berpisah ataupun efek setelahnya. Bersemangat karena hal-hal ini semoga mengingatkan saya ketika pernikahan berada diputaran roda hidup terendah, supaya untuk tidak mudah menyerah.

Teriring doa untuk semua pasangan menikah di mana pun, semoga hanya maut yang akan memisahkan..

Home, 8-16 Mei 2013