Mencintai Diri Sendiri dengan Sebuah Lovelist

“As you become more clear about who you really are, you’ll be better able to decide what is best for you – the first time around”

– Oprah Winfrey

RUNTUH
Saya tidak ingat kapan terakhir melakukan sesuatu, yang benar-benar dilakukan untuk menyenangkan diri sendiri. Merasa tenggelam sebagai seorang individu dengan status dan kesibukan saya sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak, si sulung yang mulai repot di SD, dan si bungsu yang masih batita. Saya memberikan seluruh yang saya punya untuk peran tersebut, dan tidak memberikan sela sedikit pun untuk menjadi diri sendiri. Alasannya klise. Merasa bersalah. Ya, saya merasa bersalah kalau punya keinginan sendiri untuk ini itu. Akhirnya, saya tenggelam. Tenggelam dalam rutinitas yang monoton, tenggelam dengan pikiran sendiri yang sempit.

Ternyata, totalitas yang saya berikan menjadi boomerang untuk diri sendiri. Saya banyak membaca soal pengembangan diri, tapi merasa hal itu bukan untuk saya. Makin lama, saya menjadi orang yang negatif. Saya menjadi sering marah, dan yang paling sering jadi sasaran ya anak-anak dirumah, saya bisa marah yang marah sekali karena hal-hal sepele yang mereka lakukan. Saya tetap melakukan peran dan tugas di rumah, tapi hati rasanya susah sekali hadir disetiap yang dilakukan. Ada rasa seperti marah dan kesal yang terpendam, menggeliat keatas untuk protes dengan keadaan tapi tidak dapat melakukan apa-apa. Belum lagi saya tiba-tiba bisa menangis tanpa sebab, ketika menemani anak-anak bermain atau sedang memasak. Atau muka jelek yang menyeruak padahal sekuat tenaga disembunyikan. Semua terkena efek dari negativitas yang saya rasakan.

Lalu, ada sebuah waktu dimana mengutarakan isi hati adalah hal yang tepat dilakukan. Saya mencurahkan seluruh isi kepala dan hati kepada si belahan jiwa. Mencoba mendapatkan bantuan dan kelegaan dari berbagi cerita. Dan ternyata, saya mendapatkan kelegaan luar biasa. Dari momen itu, saya menjadi lebih positif. Berusaha melepaskan diri dari perangkap pikiran negatif dan mengubah energi itu menjadi lebih baik.

BANGKIT
Olah raga adalah salah satu hal yang duluan terpikir di kepala. Saya mau kembali berolah raga. Karena memang saya belum bisa pergi sendiri tanpa anak-anak, maka olah raga di rumah adalah satu-satunya pilihan. Saya mengunduh berbagai video latihan dan menetapkan hati dengan mantap untuk mulai latihan. Saya membuat tantangan untuk melakukan latihan selama 30 hari berturut-turut. Awalnya memang tidak mudah. Tubuh yang tidak bugar membuat latihan selama 30 menit saja terasa begitu lama, tetapi saya tidak menyerah. Perlahan, 30 menit bisa dengan mudah dilewati.

Karena saya mengkategorikan diri sebagai pemula, saya mengunduh video latihan yang memang ditujukan untuk pemula. Banyak sekali video yang tersedia di YouTube, dengan berbagai aliran, dan selama berlatih, saya memperhatikan beberapa hal yang ternyata berpengaruh pada semangat latihan.

1. Mulai dengan tujuan yang baik.
Di sebuah video, Yoga with Lara Dutta, saya suka sekali narasi yang mengawali latihan tersebut. Lara mengajak kita diam sejenak untuk mengawali tiap latihan dengan niat yang baik, sebuah kata atau tujuan. Saya percaya semua yang dimulai dengan niat yang baik, akan membuat afirmasi lebih mengena untuk diri kita sendiri. Jadi, mulailah dengan apa yang hendak kamu capai dengan melakukan latihan. Kalau saya, kata yang saya pilih adalah positif. Tujuan saya, ingin menjadi orang yang lebih positif, di pikiran dan juga perilaku.

2. Temukan gayamu sendiri.
Saya memang mengetahui dengan gamblang kalau koordinasi tubuh saya jelek sekali, sehingga saya akan sangat kesulitan mengikuti latihan dengan dance related based, entah itu zumba, dance routine, latin dance, Bollywood, bellydance, dan sejenisnya. Jadi, saya memilih video yang bertemakan yoga, muai thai based, boxing based, slowrobics, dan sejenisnya, supaya bi sa saya ikuti tanpa merasa konyol.

3. Suara dan apa yang dikatakan trainer selama latihan.
Percaya atau tidak, hal ini mempengaruhi semangat sepanjang latihan. Saya suka suara dan gaya Jillian Michaels, Ellen Barret (silakan cari tahu sendiri tentang mereka ya), dan beberapa trainer dari video PopSugar, karena suara mereka tidak mengganggu. Motivasi dan kata-kata yang diberikan sungguh membantu, karena, ada beberapa trainer yang terlalu banyak bicara, ngelantur kesana kemari, sehingga mengganggu konsentrasi. Atau ada juga suara trainer yoga, entah karena mic yang dipakai kurang bagus atau apa, juga membuat distraksi selama latihan.

4. Gunakan pakaian olahraga.
Walaupun di rumah, usahakan tetap menggunakan pakaian olah raga yaitu sports bra dan juga sports pants. Gunanya untuk tetap menyokong bagian dada, menyerap keringat dengan baik, serta tidak mengganggu gerakan selama latihan.

5. Gunakan matras dan sepatu yang baik.
Saya tidak menggunakan sepatu selama latihan sebulan ini, karena memang belum punya sepatu olahraga. Efeknya adalah jika melakukan latihan high impact, tekanan pada kaki akan menjadi lebih besar, dan berpotensi cidera. Jadi, saya memilih latihan low impact, dan memilih membeli matras untuk meminimalisir tekanan. Selain itu, kegunaan matras adalah supaya tidak licin dan menjadi alas tubuh ketika sedang melakukan latihan dengan posisi di lantai. Saya hanya membeli matras olah raga biasa, yang penting bisa menunjang kegiatan saya.
Hari ini, saya sudah melampaui target 30 hari yang saya buat awal bulan lalu. Saya masih terus melakukan latihan dari Senin hingga Sabtu, selama 60 menit. Selain tantangan dari dalam diri sendiri, gangguan dari anak-anak selama latihan juga menjadi tantangan tersendiri. Apa yang saya rasakan selama berlatih selama ini? Saya menjadi pribadi yang jauh lebih positif, dimulai dari pikiran yang jernih, dan tubuh yang makin bugar, perlahan membuat saya lebih percaya diri.

BERTUMBUH
Lalu, apa efeknya percaya diri buat seorang ibu rumah tangga? Oh, banyak sekali. Anggapan ibu rumah tangga itu ‘nggak ngapa-ngapain’ masih banyak melekat di persepsi masyarakat, tapi daripada menantang dunia memberi pencerahan kepada orang berpersepsi demikian, lebih baik menutup telinga dan membangun diri. Kepercayaan diri membuat saya pribadi menjadi lebih mantap melangkah, tidak lagi menilai diri rendah, dan juga meningkatkan kualitas diri sekaligus kualitas hubungan dengan pasangan, dari segi apapun. Saya tadinya memandang suami jauh di awang-awang, karena beliau terbang begitu tinggi dengan urusan pekerjaan dan juga aktualisasi dirinya. Saya sempat merasa minder. Ya, minder dari suami sendiri. Dengan kembalinya percaya diri, saya mulai memperbaiki posisi saya, dan menyetel ulang perasaan tentang segala sesuatu dengan semangat yang positif.

Suami mendukung sepenuhnya, bahkan sudah membuka pintu lebar, supaya saya bisa berkembang. Hal buruk yang saya pikirkan bisa terjadi ternyata tidak pernah terjadi, semua semata hanya hidup di pikiran sediri. Saya sekarang mulai lebih enteng dalam melakukan setiap hal.

Banyak ibu rumah tangga seperti saya yang selalu menomorduakan diri, mementingkan anak-anak lebih dulu untuk urusan apapun. Entah berapa sering kita membelikan pakaian untuk anak-anak ketimbang untuk diri sendiri, sengaja tidak memesan makanan ketika sedang makan di mall dan hanya makan sisanya anak-anak, atau lebih memilih membelikan pizza untuk anak-anak ketimbang mengikuti keinginan sendiri untuk bisa sekedar creambath di salon. Terdengar familier? Itu yang selama ini saya lakukan. Tapi, saya mau ubah itu dan mencoba lebih menghargai diri saya sendiri. Saya pikir, selama masih dalam lingkup kewajaran, rasanya tidak ada salahnya saya mulai menyisihkan sesuatu untuk diri saya sendiri. Memberi penghargaan kepada diri untuk kembali memiliki pakaian yang disukai tanpa digelayuti rasa bersalah. Mulai lagi mengeluarkan tas kosmetik yang sudah tertimbun mainan anak-anak, dan menggantinya dengan alat make up yang baru. Atau memesan makanan kesukaan tanpa harus merasa bersalah.

MENJADI LEBIH BIJAK
Umur bukanlah jaminan kedewasaan seseorang. Adalah sikap dan bagaimana seseorang berperilaku yang menentukan hal ini. Saya bisa saja seorang ibu, umur hampir mencapai angka 40, tetapi jika saya tidak bisa memungut diri saya sendiri dari keterpurukan, apa bedanya saya dengan remaja galau dengan emosi yang belum stabil, atau bahkan anak SD yang bisanya hanya merajuk?

Begitu juga dengan masalah pemikiran bahwa semua hal yang baru pasti baik adanya, termasuk di dalamnya barang-barang yang kita gunakan. Mimpi saya selanjutnya untuk diri sendiri adalah saya kepingin difoto di studio, dengan full make up dan pakaian yang anggun. Sahabat-sahabat kuliah saya mungkin ingat bagaimana saya dulu pernah dipanggil A’a sewaktu naik angkot sepulang kuliah di Bandung dulu, dan ditegur oleh sesama penumpang, “A, jam sabaraha, A?”. Penampilan saya yang memang tomboy dan tidak suka berdandan adalah alasan paling gamblang untuk kejadian ini. Keinginan difoto seperti dibawah ini adalah cara saya menghargai diri sendiri, bagaimana saya pernah runtuh, bangkit, bertumbuh, dan akan terus menjadi lebih baik.

THE LOVELIST FROM PRELO
Ada banyak hal yang memang tidak pernah saya miliki selama ini sebagai perempuan, dan ini waktu yang tepat untuk memiliki sebuah wishlist atau boleh juga disebut lovelist. Saya tidak kepingin yang muluk-muluk kok, hanya sekedar ingin tampil berbeda sesekali, kebetulan saja pas dengan momen ini. Saya memiliki lovelist yang saya susun dari Prelo, sebuah market place yang dikhususkan untuk menjual barang-barang preloved.

Kenapa saya membuat lovelist dari barang-barang second? Kenapa tidak? Ada beberapa alasan untuk saya pribadi karena memilih barang preloved. Pertama, banyak sekali pilihan barang yang bagus bahkan langka yang dijual di Prelo. Bisa jadi barang-barang tersebut sudah tidak lagi ada di pasaran sehingga membuat nilai keunikannya lebih tinggi. Kedua, harga yang rasional. Jika kita jeli memilih barang, kita bisa mendapatkan barang berkualitas.

1. Black dress 

Saya suka sekali menonton acara make over di channel siaran perempuan, dan dari episode yang saya tonton, para stylist pasti menyarankan setiap perempuan memiliki paling tidak satu black dress. Selain cocok untuk berbagai acara dan kesempatan, sebuah black dress memberikan kesan mewah untuk apapun bentuk tubuh kamu. Jadi, pakaian ini ada diurutan pertama dalam lovelist Prelo saya. Black dress ini dijual oleh @huntstreet.com.

2. Sepatu high heels 

Hak sepatu yang paling tinggi yang pernah saya punya adalah 4 cm. Iya, empat centimeter saja. Itupun dipunya ketika saya lajang dulu. Sejak menikah, sepatu andalan saya untuk mengejar bocah yang kabur kesana kemari setiap kami sampai di mal adalah sepasang sepatu sneakers yang nyaman mengakomodir kelincahan anak saya. Walaupun saya pasti memerlukan penyesuaian untuk sekedar berjalan dengan sepasang sepatu high heels, tapi saya sekali-sekali pingin merasakan efek keseksian dari memakai sepatu ini. Wedges second ini dijual pemiliknya @ReniPreloved karena hak yang terlalu tinggi.

3. Make up set 

Ah, saya kok jadi merasa saya kurang perempuan sekali karena lovelist saya rasanya seharusnya memang sudah dimiliki oleh perempuan kebanyakan. Saya juga dari dulu tidak bisa dandan. Alat kosmetik yang saya punya hanya lipstick dan bedak padat yang awet. Baru beberapa tahun belakangan saya menambah alat kosmetik saya dengan sebuah eye liner. Karena mata saya yang sipit, eye liner membuat mata saya terlihat agak lebih besar, walaupun tidak menggunakan full make up. Saya ingin meningkatkan kemampuan dan menambah ilmu soal make up ini. Selain itu, juga bisa mengurangi ongkos dandan di salon untuk acara adat Batak yang hampir tiap minggu memanggil-manggil untuk didatangi. Make up set pilihan saya jatuh pada Morphe Contour Pallete yang dijual oleh @vikhanabilah, dan Adorable Shadow Pallete yang dijual oleh @ria88. Saya juga mengungkapkan keinginan kepada suami untuk kursus make up. Saya pikir dia akan menertawakan keinginan ini tapi ternyata ia mendukung sepenuhnya.

4. Earings 

Saya ingat Mama mengajak saya menindik telinga ketika saya SMP. Dan hingga kuliah saya berani menindik sebuah lubang lagi di telinga kanan. Ya, jadi ada dua lubang untuk anting-anting di telinga kanan. Pilihan anting-anting pun berkisar di gambar tengkorak atau tulang-belulang dan sejenisnya. Jadi, ini adalah barang yang wajib masuk di lovelist saya, demi menebus kegelapan saya semasa kuliah dulu. Saya suka anting-anting yang dijual oleh @prelovedlou dengan merek HnM ini, tampilan elegan sekaligus simple.

5. Parfum

Apalah artinya berpenampilan keren dan cantik tanpa pelengkap parfum? Teman kos semasa kuliah dulu pernah dibelikan parfum oleh pacarnya, dan saya suka sekali harumnya setiap kami berpapasan, sampai saya akhirnya bertanya parfum apa yang digunakan. Parfum Flower dari Kenzo inilah jawabannya, dan @Stevi0627 menjual tester originalnya di Prelo. Tanpa berpikir dua kali, saya masukkan barang ini di lovelist.

 

KENAPA PRELO?

Kenapa memilih Prelo? Kok mau sih membeli barang bekas atau digunakan orang lain? Apa tidak merasa risih? Bagaimana jaminan kualitas barang yang dijual?

Berbagai pertanyaan seperti itu seringkali terlontar dari orang-orang yang memang anti dengan barang preloved. Tetapi setiap orang memiliki referensi masing-masing, dan alasan saya memilih barang-barang preloved karena

Keunikan
Barang preloved bisa jadi adalah sebuah karya masterpiece di jamannya dulu yang tidak bisa disamakan nilainya dengan barang baru yang serupa tapi sudah mendapat poles kesempurnaan. Jadi, kamu bisa menemukan barang-barang yang unik, yang tidak dimiliki oleh sejuta orang lainnya. Prelo membantu menemukan barang-barang dengan kategorisasi yang mumpuni sehingga memudahkan kita dalam mencari yang kita perlukan.

Harga
Jika kita jeli memilih dan memilah, menunjukkan sikap yang menghargai penjual, rasanya harga miring bisa kita dapatkan. Mungkin saja ada beberapa penjual yang menawarkan barang yang sama, dan tidak ada salahnya bertanya lebih lanjut tentang kekurangan dan kelebihan barang, serta fasilitas yang diberikan penjual. Free ongkir biasanya menjadi salah satu bonus tambahan buat saya dalam memilih barang di Prelo.

Barang orisinal bukan KW
Prelo menjamin barang-barang yang ada di Prelo adalah barang orisinal, bukan barang KW 1, KW 2, atau lainnya. Prelo juga mengharuskan penjualnya untuk menggunakan foto sebenarnya, bukan menggunakan foto asal comot dari mesin pencari, karena Prelo menjunjung tinggi nilai autensitas barang, serta hak kekayaan intelektual.

Menyelamatkan bumi
Saya mengagumi visi dan misi Prelo dalam kontribusi menyelamatkan bumi. Dimulai dengan simbol Prelo yang diadaptasi dari logo Universal Recycling, serta visi perusahaan yang mengusung layanan e-niaga ramah lingkungan. Prelo secara tidak langsung menularkan gerakan ini pada setiap penjual dan pembelinya. Seiring meningkatnya kecanggihan di dunia teknologi, hendaknya membuat kita juga lebih bijak dalam gerakan menyelamatkan bumi dengan tindakan nyata. Setidaknya, barang-barang yang sudah tidak lagi diinginkan oleh sang pemilik, tidak mengotori lingkungan, dan bisa digunakan oleh orang yang masih menginginkannya. Tas second yang hanya memenuhi lemari, bisa menjadi kegembiraan untuk orang lain.

 

Aplikasi Prelo dan FItur-fitur Unggulannya

fitur aplikasi prelo

• Aplikasi Prelo bisa dengan mudah diunduh dari PlayStore atau I-Tunes. Selama menggunakan Prelo 5 bulan belakangan, saya belum menemukan kendala berarti. Tidak pernah tiba-tiba hang seperti beberapa aplikasi lain di smartphone saya yang agak ketinggalan jaman. Saya rasa ini adalah pertanda jika aplikasinya cukup ringan dan bugs yang terantisipasi. A well-designed app, if I may say.

• Salah satu fitur andalan yang ada di aplikasi ini adalah tombol jual yang muncul disetiap frame yang saya buka, sehingga tidak perlu repot mencari-cari tombol ini ketika kita sudah jauh menjelajah aplikasi. Ketika tombol ini dipilih, akan muncul frame tempat untuk mengunggah foto barang yang akan kita jual. Ada pilihan hingga 5 foto yang dapat diunggah, untuk merinci kondisi barang seperti tampilan utama, tampak belakang, tampilan merek, atau cacat yang ada. Kolom detail barang juga diberikan rinci guna memberikan informasi sejelas-jelasnya kondisi barang termasuk special story yang menyertai barang tersebut. Kadang, special story ini bisa membuat saya senyum sendiri, karena memang nilai kenangan sebuah barang tidak akan ikut pergi walaupun barang sudah terjual.

Featured catalog atau daftar barang terbaik pilihan tim Prelo ini ada dihalaman home, yang menampilkan barang dari berbagai kategori. Yang saya perhatikan, foto utama yang ada di katalog ini bisa dibilang rapi, terang, dan mumpuni, sehingga ‘eye catching’. Tapi, saya kurang mendapat info, bagaimana caranya barang yang dijual bisa ditampilkan disini. Memang sih, kadang penjual hanya mengunggah foto yang seadanya, gelap, dan kurang menarik, dan pihak Prelo tidak bisa mengontrol hal ini.

• Sejak update terakhir, Prelo sekarang memiliki beberapa pilihan metode pembayaran. Sekarang, kita bisa lebih leluasa memilih antara transfer ke rekening bersama, menggunakan virtual account, kartu kredit, kredivo, CIMB Clicks, Mandiri e-cash, atau Prelo balance.

• Prelo menyediakan paket packaging yang terdiri dari tas plastik dan label untuk para penjual, sehingga memudahkan pengiriman. Kita hanya harus mengisi form permintaan disini melalui browser.

• Prelo seperti aplikasi lainnya juga mencari pendapatan, sebuah hal yang lumrah dalam bisnis. Prelo mengenakan charge 10% dari harga jual, tetapi hal ini bisa dikurangi ke 0% dengan membagikan tautan barang yang kita jual pada tiga platform media sosial, yaitu Twitter, Instagram, dan Facebook. Menurut saya, ini tindakan yang pintar,karena memberikan dampak pada sisi penjual, dengan memaksa menyebarkan informasi kita bisa memaksimalkan profit, dan pada sisi Prelo, dapat lebih membangun brand awareness seluas-luasnya.

• Prelo juga memberikan jaminan 3 hari setelah barang diterima yang membantu pembeli meneliti apakah barang yang sudah sesuai dengan kondisi yang dijanjikan penjual, sehingga kamu tidak perlu khawatir.

Prelo Indonesia
Saya yakin Prelo dibangun dengan semangat yang luar biasa positif dari para pendirinya. Tidak banyak perusahaan start up yang mengusung ide penyelamatan bumi dengan tindakan nyata. Prelo secara tidak langsung menularkan gerakan ini kepada masyarakat luas. Betapa mengagumkan, kita bisa menyelamatkan bumi dan pada saat yang sama bisa menambah pundi-pundi keuangan.

Prelo juga memiliki program pertemuan sellers yang sudah dilaksanakan dibeberapa kota, gunanya untuk lebih mendekatkan diri dengan penjual, berbagi tips and tricks meningkatkan penjualan di Prelo, dan mengambil foto yang bagus. Dari setiap pertemuan, biasanya dipilih seorang seller untuk dipasang sebagai feature di blog Prelo #MeetTheSeller.

Selain itu, Prelo juga merangkul anak muda khususnya mahasiswa/I dengan program Prelo Student Partner. Melalui program ini, Prelo akan berbagi ilmu soal dunia start up, mengajarkan softskill, dan memperluas networking, ditambah bisa mendapatkan berbagai keuntungan termasuk uang jajan dari Prelo.
Ah, kamu kok keren sangat, Prelo.

TERBANG JAUH

Saya yakin, Prelo akan terbang berkembang jauh, sama seperti saya yang terus akan mengepakkan sayap saya sendiri. Hasil pasti tidak akan mengkhianati usaha. Maka, apapun yang saya lakukan dan saya sertakan di lovelist ini bisa jadi terwujud atau tidak. Tetapi, satu yang saya tahu, semangat Prelo untuk terus menjadi lebih baik telah membuat saya lebih semangat untuk mengupayakan diri menjadi pribadi yang lebih positif. Menjadi ibu rumah tangga tidak akan mengungkung kepercayaan diri, dan membuat saya menjadi zombie, justru seharusnya saya berkembang jauh karena menjadi seorang ibu adalah pelajaran tanpa akhir, dan sebuah hal yang paling membanggakan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Prelo Vol.2.

5 thoughts on “Mencintai Diri Sendiri dengan Sebuah Lovelist

  1. sebagai seorang ibu baru saya juga sudah merasakan seperti itu mba.. karena dullu kerja dan sekarang hanya dirumah bawaan kadang suka kesel sama nasib (eeh),, hehehhe, tapi ya memang ini pilihan yang harus dijalani…

  2. Salam kenal mba, saya juga merasakan hal yang sama dengan mba tulis di atas. Terima kasih sudah sharing mb, saya jadi semangat lagi untuk bangkit dan menghargai diri saya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *