Fenomena Bunuh Diri dan Berubahnya Persepsi Saya

bunuh diriDekatHati – Tadinya saya, mungkin seperti banyak orang di luar sana, menganggap bunuh diri itu adalah hal yang bodoh. Bagaimana bisa seseorang mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup sendiri, meninggalkan masalah dengan cara seperti itu, memberikan kenangan buruk buat orang-orang terkasih kita? Dan jika saya membaca atau mengetahui seseorang bunuh diri, biasanya saya menganggap hal itu konyol. Maksud saya, bagaimana seseorang melakukan hal tersebut tidak sama sekali masuk dalam logika saya.

Manusia memang mudah bicara. Mudah sekali. Tetapi ketika sudah dihadapkan dengan kenyataan pahit yang tidak kunjung selesai, baru mata serasa dicelikkan. Bukan kapasitas saya menjelaskan faktor dan gejala orang yang bunuh diri, saya hanya akan menuliskan bagaimana sudut pandang saya berubah tentang hal ini.

World Suicide Rate

Korea Selatan, China, dan Jepang adalah 3 negara Asia yang berada di peringkat 10 besar dari daftar ini.

Mild Depression
Beberapa waktu lalu, saya tenggelam dalam pikiran buruk. Pikiran negatif serta ketidakberdayaan membuat saya hidup dalam pikiran saya sendiri. Yang saya rasakan adalah lelah secara mental, merasa diri tidak berdaya, tidak berharga dan hal-hal buruk lainnya. Hal lainnya adalah perubahan mood yang begitu drastis, saya bisa tiba-tiba menangis ketika sedang masak di dapur atau menemani anak-anak bermain, atau marah yang marah sekali padahal hanya tentang hal sepele. Saya menjadi gampang sekali tersinggung dengan hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan tetapi saya merasa demikian. Dan baru kali ini saya berpikir secara berulang-ulang untuk menyakiti diri saya sendiri. Tidak sampai berpikir bunuh diri, tapi saya ingin membenturkan kepala saya keras-keras ke dinding.

Saya mencari tahu apa yang saya alami dan rasakan sendiri melalui mesin pencari karena saya terlalu malu untuk menceritakan hal ini kepada orang lain. Sebagian besar yang saya rasakan tersebut, cocok dengan gejala depresi. Ada kuesioner yang dapat diisi untuk membantu mengetahui seberapa berat gejala depresi yang dialami, coba baca disini. Saya coba mengisi dan ternyata nilai saya ada diangka 14, mild depression. Saya juga sempat cari tahu bagaimana caranya untuk berkonsultasi dengan psikolog, karena saya pikir memang saya sudah membutuhkan bantuan.

Solusi
Puji Tuhan, saya masih diberikan jalan keluar yang mudah dan baik. Tidak sampai pergi ke psikolog, tapi saya mencoba berbicara dengan orang yang paling mengenal saya, mengesampingkan rasa malu, mencurahkan dan membagi seluruh isi hati dan kepala, kepada sebelah jiwa saya, sang suami. Beliaupun menjadi salah satu orang yang memperoleh dampak buruk dari semua depresi saya. Awalnya saya menutup diri, merasa malu, dan mencoba mencari jalan sendiri untuk keluar dari ini semua. Tapi saya tidak bisa, saya merendahkan hati, melapangkan dada, membuka hati, untuk sekedar berbagi perasaan padanya. Hasilnya ternyata luar biasa.

Sekedar berbagi cerita, bisa mengangkat beban yang selama ini dipikul sendiri. Mendapati bahwa pikiran-pikiran buruk bukanlah kenyataan. Mereka hanya sekedar setan yang mengungkung perilaku kita sendiri. Saya beruntung bisa perlahan mengatasi depresi saya tanpa bantuan psikolog. Tapi, jika kamu tidak dapat menemukan orang yang tepat untuk berbagi, please…datanglah ke klinik psikolog. Untuk sekedar awal, datang saja ke kampus yang memiliki jurusan psikolog, yang biasanya membuka klinik ini. Cobalah membuka diri untuk sekedar berbagi dengan orang lain.

Saya juga memaksa diri untuk mulai berolah raga. Percaya atau tidak, aktifitas fisik ini berdampak baik dan positif pada pikiran. Saya kurang mengerti penjelasan ilmiahnya, tapi efek yang saya rasakan benar-benar nyata. Karena situasi rumah yang belum memungkinkan, olah raga yang saya lakukan cuma mengikuti video kebugaran yang saya unduh dari YouTube. Pikiran buruk perlahan pergi walaupun belum sepenuhnya, tapi jauh berkurang dari semula.

Maaf
Sejak dari situ, saya tidak lagi berpikir kalau bunuh diri adalah sebuah hal yang konyol, melainkan hal yang amat sangat serius. Ia adalah buah dari pikiran sendiri yang menyesatkan, yang mengambil alih akal sehat kita untuk berbuat hal keji tersebut. Saya rasanya pantas minta maaf untuk orang-orang yang pernah saya pikir seperti sebelumnya. Saya sudah berpikiran sempit dan menghakimi walaupun tidak pernah saya utarakan, pun begitu, saya tetap merasa pantas meminta maaf. Semoga keluarga yang ditinggalkan boleh diberi kekuatan tak terhingga dalam melewati masa sulit, semoga jiwa yang pergi boleh diberikan tempat yang layak dimanapun mereka akan menuju.

Selalu ingat bahwa kamu tidak sendiri. Buka hati untuk sekedar berbagi, karena banyak orang yang sayang dan peduli pada kamu.

Salam.

19 thoughts on “Fenomena Bunuh Diri dan Berubahnya Persepsi Saya

  1. I feel you mbak.. saya juga pernah mengalami mild panic attact.. saat itu memang beban di keluarga memang lagi berat.. saya bukan orang yang suka sharing terutama masalah kesusahan keluarga. Tiba2 di suatu hari saja saya seperti orang panik, jantung berdebar-debar, leher tegang, dan keringat dingin keluar… saya pikir saya kena serangan jantung. Akhirnya saya cek darah sampai cek thiroid .. semua baik dan normal. Kemudian dokter yang kebetulan masih keluarga bilang ‘Kamu Stress Kali!’ … duh bener banget.. banyak perasaan yang saya telan sendri dan tidak saya ungkapkan. Akhirnya saya berbicara dengan seorang sehabat yang memang mengalami panic attack berat. Saya sebutkan semua gejala2 saya, dibilang saya kena mild panic attack, di menyarankan saya ke dokter untuk minta obat seperti dia. Tapi saya orang yang paling takut kalau ketergantungan obat. Jadi saya cari obat sendiri di internet, saya cari tehnik-tehnik mengatasi panic attack di youtube. Alhamdulillah saya bisa melaluinya sampai sekarang tanpa obat. Saya mulai curhat pada orang-orang terdekat saya, dan kini saya juga sering melahap materi self improvement di Youtube. Juga memulai gratitude Diary.. 🙂 Thanks for sharing.. nice to know that I am not alone… and I encourage everyone to reach out when you feel like we did.

    • Susan says:

      Salam kenal mba Karina… Ceritanya juga menguatkan saya. Ternyata yang terpendam bisa berefek ke tubuh secara nggak sadar. Semoga kita selalu sehat tubuh dan pikiran ya…

  2. Sama mba… Duluuu aku sempet berfikir orang2 yg bunuh diri ini kurang beriman, kurang kuat menghadapi cobaan, pengecut krn memilih mati drpd menyelesaikan masalah. Tp belakangan aku paham, bukan tugasku utk menghakimi.. Aku toh ga tau rasanya depresi parah sampe akhirnya memilih mati itu seperti apa.. Kadang manusia suka begitu kan, lbh seneng men judge duluan, merasa bener dan paling suci 😦 . Yg pasti, skr ini sih, untuk keluarga terdeketku dulu, aku berusaha utk membekali anak2 dengan ilmu agama dulu. Juga tanamkan k mereka kalo seberat apapun masalah yg mereka hadapi, masih ada kita berdua sebagai orang tua utk tempat cerita dan berbagi masalah. Banyak kisah bunuh diri anak2 itu hanya krn dia ga ada tempat berpaling. Ortunya cuek, ga ada sodara yg lain. Aku ga pengin anak2ku merasa begitu 😦

    • Susan says:

      Betul sekali yg mba bilang. Bukan tugas kita menghakimi..

      Semoga kita selalu diberi kekuatan dan ketangguhan dalam menghadapi apapun.

  3. Terima kasih sharingnya….bisa menjadi pembelajaran yang dalam. Memang depresi itu berbahaya ya mba, orang kadang suka meremehkan, padahal bagi yang mengalami sangatlah berat…

  4. Syukurlah ya sudah bisa mengatasi masa2 itu. Saat-saat seperti inilah peran orang terdekat sangat membantu. Bersama mencari jalan keluar, bukan menyudutkan. Makasih sudah berbagi.

  5. kadang sulit membuka diri ketika depresi karena malu atau kepikiran takut yg dikasih tau mikir masalah kita, itu cemen..
    Keputusan bunuh diri tentunya ngga akan diambil secara mendadak kl ngga ada sebab akibat & depresi yg dalam.. syukur alhamdulillah mba susan bisa melewatinya dengan baik dan tidak tenggelam dalam depresi yg berkepanjangan 🙂

    • Susan says:

      Betul mba. Kalo sudah terpikir bunuh diri pasti sudah parah depresinya.

      Ya.. saya bersyukur berangsur pulih. Terima kasih mba sandra.

  6. Terima kasih sharingnya mbak. Dan juga linknya.

    Saat saya ikut workshop itu (sebenarnya utk kegiatan konsultasi online buat yang mengalami depresi), saya juga baru tahu kalau orang depresi itu cenderung menutup diri.

    Dan di saat seperti itulah, sebenarnya orang2 dekatnya “harus” sadar dan mendekati. Jangan menjauhinya.

    Tulisan mbak ini bagus utk reminder kita semua. Tfs sekali lagi.

    Febriyan

    • Susan says:

      Bener mas. Orang terdekat sebenarnya bisa menjadi pintu masuk untuk menolong, sekiranya yang depresi mau membuka diri. Supaya bisa segera mendapat bantuan. Setidaknya ia tahu ada orang yang peduli, bukan cuma pikirannya sendiri yang mengambil alih.

  7. Terkadang orang yang belum pernah merasakan mild depression emang tidak percaya ide bunuh diri itu bukan sesuatu hal yg dibuat2, malah ada yg menganggapnya gila, padahal ini memang gangguan mental yang harus segera diatasi.

  8. Benar sekali bun.. Sy jg sempat depresi dulu krn merasa tll muda untuk punya anak disaat umur yg sy rasa msh ‘usia produktif’ sempat mengalami baby blues n post partum depression. Namun, berbagi dan menulis perlahan menghilangkan rasa itu. 🙂

  9. Hallo mba Susan
    Penting menurutku untuk punya seseorang yang kemudian bisa menjadi tempat curhat yang baik. Atau curhat kepada Tuhan. Tapi kita juga tak seharusnya menyalahkan orang ketika dia memutuskan untuk bunuh diri

    • Susan says:

      Iya betul mba. Karena seharusnya ia malah harus dibantu, buukan disalahkan. Terima kasih sudah mampir ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *