Memulai Awal yang Baru dengan Prelo

Jual Barang BekasSore itu mendung. Gelap.

Aku hanya duduk diam di kamar, masih dengan mata sembab dan tisu yang bertebaran di seisi kamar. Rasanya masih sakit sekali terasa. Perih sesekali mengeriyap di seluruh tubuh, tapi di dada terasa lebih perih. Lagu When We Dance-nya Sting yang biasanya membawaku terbang ke awan tingkat ke tujuh, sekarang terdengar seperti mengolok-olokku tak henti. Please, berhenti bernyanyi, Sting. Aku matikan CD Player di kamar dengan kesal.
Bau tanah sebentar mulai memenuhi kamar. Hujan mulai turun. Gerimis.

Oh, Tuhan…apa salahku hingga aku pantas mendapatkan semua ini?

Aku terus mencari-cari apa yang kulewatkan. Selama ini tanda-tanda itu sepertinya memberi petunjuk padaku, tapi tidak kuikuti. Aku mempercayainya. Sepenuh hati. Mungkin benar pepatah yang mengatakan, “Jangan berikan hatimu seluruhnya kepada laki-laki”. Selama ini aku berpikir, bukankah sudah sepantasnya untuk seratus persen dalam sebuah hubungan? Betapa aku mencintai laki-laki itu, dan bukan dalam waktu yang singkat. Sedihku bercampur aduk dengan amarah yang masih berapi. Tapi tak sanggup lagi aku bicara, semua hanya berteriak di dalam pikiranku. Ini adalah hari kedua aku bersembunyi dari dunia, menenggelamkan diri untuk meratap dan memberi diri bersedih.

Aku hanya diam di kamar dalam gelap. Lampu-lampu rumah tak kupedulikan, kubiarkan tak menyala. Entah jam berapa akhirnya kantuk membawaku melupakan sejenak sakit hatiku. Dalam gelap, dalam hujan, tenggelam dalam tidur.

….

Pagi itu matahari pagi mengintip dari balik gorden yang sedikit terbuka. Menyinari mataku yang masih terpejam. Bola mataku hanya bergerak-gerak mencoba menyesuaikan diri menyaring sinar. Sudah jam 7 pagi. Tubuhku menyerah pada kelelahan yang tak berujung sepanjang hari kemarin. Aku mencoba menyatukan diri di kasurku yang setia.

Aku tidak boleh terus-terusan bersedih, ujarku sendiri.

Sudah cukup dua hari kemarin meluapkan kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan terhadap laki-laki yang selama ini mati-matian kucintai.

Craps! Marah, kembali terasa.
Jangan! Jangan marah lagi! Mulai hari ini dengan awal yang baru!

Ya…sudah cukup kemarin. Aku tidak akan membiarkan dia merusak hari-hariku berikutnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk mandi. Berendam di bathtub-ku yang sudah lama sekali tidak kupakai. Air hangat membuatku nyaman. Sambil menyalakan telepon genggam yang memang kubiarkan mati sejak hari terkutuk itu. Notifikasi puluhan panggilan tak terjawab darinya, pesan di Whatsapp, Telegram, Messenger, menghiasi layar. Juga dari Elsie, sahabatku, yang belum kuceritakan tentang apapun. Tak ada satupun pesan dari Jim yang kubaca dan kubalas.

Ada notifikasi yang bisa mengalihkan pikiranku dari Jim dan kejadian buruk ini. Sejak beberapa minggu yang lalu, aku membuka akun di aplikasi Prelo. Sebuah aplikasi jual beli yang khusus menjual barang bekas, second atau yang sekarang lebih keren disebut barang preloved.
Aku melakukan decluttering isi lemari yang memang sudah penuh dengan barang-barang. Kebiasaanku membeli barang yang kadang tidak kuperlukan ini memang menjadi guilty pleasure. Sebuah kebiasaan yang kusadari tidak baik, tapi sulit kuhentikan. Sejak mendengar aplikasi Prelo dari seorang teman kantor, aku pikir, ini saat yang baik untuk mulai memanfaatkan barang-barang tersebut, sekaligus perlahan melepaskan diri dari keterikatan atasnya.

Aplikasi Prelo mudah sekali digunakan. Fiturnya yang ramah pengguna tidak memerlukan waktu lama untuk pengguna baru membiasakan diri. Dan membidik pasar preloved, kupikir adalah ide yang cerdas, karena pangsa pasarnya yang lumayan.
Sebagai penjual, ada beberapa poin yang membuatku menyukai Prelo.
• Siapapun bisa menjadi wirausaha.
Selama kejujuran dipegang sebagai prinsip, pasar preloved juga bisa menjanjikan hasil yang lumayan. Kita bisa menjual barang apapun, hanya tinggal memberikan gambar yang mumpuni dan juga keterangan yang sesuai dengan keadaan barang.
• Penggunaan rekening bersama.
Rekening bersama menurutku adalah sebuah nilai tambah, baik bagi penjual maupun pembeli, karena proses pembayaran adalah hal yang krusial bagi online shop. Bagi penjual, hal ini memberikan sebuah keteraturan, sehingga uang yang masuk bisa ditelusuri dengan mudah dan akurat. Fasilitas ‘Tarik Uang’ yang dimiliki Prelo memudahkan penjual untuk mengambil uang yang ada dari Prelo Balance.
• Pemberian badge pada penjual.
Pemberian badge berguna untuk menambah dan meningkatkan daya saing toko dibanding dengan sesame penjual lainnya. Ada beberapa badge yang disediakan oleh Prelo untuk penjual yaitu The Authentic Club, diberikan jika tidak pernah mengupload barang KW, Top Seller, untuk penjual top 10 di Prelo, rajin membalas chat, dan mendapat review yang bagus.
• Fitur chat yang responsif.
Fitur chat berguna jika ada pembeli yang ingin menawar harga atau menanyakan hal lebih detail tentang barang yang dijual.
• Komisi untuk Prelo
Hal ini menurutku wajar dilakukan oleh Prelo, toh karena mereka juga mau mendapatkan hasil dari sini. Tetapi Prelo menyediakan pilihan untuk memberikan diskon potongan komisi mereka, jika kita membagikan apa yang kita jual ke media sosial kita. Dari komisi awal 10%, kita akan mendapat pengurangan 3-4%. Lumayan kan?

Tok tok tok…
Diii… Mindiii…

Suara di pintu depan mengagetkanku. Suara cempreng Elsie menggelegar menembus keheningan rumahku. Aku keluar dari bathtub, membungkus badan dengan handuk, dan membukakan pintu untuk sahabatku itu. Kami bersahabat sejak tingkat 2 di kampus dulu, sampai sekarang, Elsie-lah orang terdekat, yang mengetahui segala sesuatu tentangku.

“Kemana aja siiiiiihhh kamuuu?? Dari kemarin lusa nggak ada kabar sama sekali. Aku pikir kamu pergi bareng Jim ke Bandung!”, ia mulai merepet.
“Bentar ah, aku beresin mandi dulu. Nanti aku ceritakan drama abad ini! Yaaa??”, ujarku menenangkannya. Sambil aku mandi, kudengar Elsie di dapur.

Kuatkan aku, Tuhan.

Harum mi instan dan cabe rawit menyeruak memenuhi dapur ketika aku selesai berpakaian. Elsie menungguku di meja makan bersama 2 mangkuk mi dan 2 gelas teh manis.

“So???”, tanyanya penasaran.
“Kemana aja dari kemarin nggak ada kabar sih? Aku tanya Jim, dia bilang kamu nggak bareng dia.”, lanjutnya.

Lalu, cerita pun bermulai. Aku ceritakan semua yang terjadi sejak kemarin lusa. Aku kembali menangis, dan Elsie pun menenangkanku. Baru ini aku merasakan sedih yang begitu dalam. Dikhianati oleh seorang laki-laki yang 4 tahun belakangan menjadi bagian dari hidupku. Elsie yang tadinya juga diliputi amarah, berubah menjadi peneduh bagi jiwaku. Berjam-jam kami mengobrol. Aku pun merasa dikuatkan. Percaya bahwa semua ini terjadi karena Tuhan membukakan mataku, dan Ia punya rencana lebih baik untukku.

Menjelang siang, Elsie melihat banyak barang yang selama ini ia tahu tidak pernah keluar dari lemariku.

“Ini apa, Di? Tumben ini harta karun keluar dari peraduannya?”, ia bertanya.
“Aku lagi decluttering. Aku mau jual semua barang-barang itu, biar lemariku lega.”, jawabku.
“Hah?? Beneran? Nggak salah denger aku? Mindi yang selama ini cuma seneng beli, sekarang mau jual??? Kamu jualin dimanaaa?”, Elsie kaget.
“Iyaaa, beneran tau. Kebetulan moment-nya pas, aku juga mau lepas kebiasaan burukku itu. Aku jual di Prelo.”, jelasku singkat.

Ia duduk di lantai diantara puluhan sepatu, tas, dan aksesoriku, ia senyum-senyum.

“Prelo? Apaan Prelo?”
“Itu loh, aplikasi yang khusus menjual barang-barang second hand. Kamu nggak pernah denger?”, tukasku.
“Belum. Coba sini liat. Kayak apa sih?”

Aku perlihatkan aplikasi Prelo di telepon genggamku sambil menjelaskan fitur-fitur yang tersedia di Prelo.

“Nih, kamu bisa jadi pembeli atau jadi penjual. Tinggal pilih. Kemarin aku juga sempet liat-liat, banyak barang lucu. Dress Mango bekas atau Tas Marc Jacobs second, semua ada disitu. Kamu bisa pilih berdasarkan kategori atau merek. Ada kategori Women, Men, Beauty, Book, Gadget, Antique, Hobby, Baby and Kid, dan Living. Dari situ juga ada sub kategori, biar kamu gampang cari barangnya.”, Elsie duduk di sampingku sambil serius mendengarkan.

“Kalo barang preloved gitu kan suka ada cacatnya, Di. Gimana tuh?”, tanya Elsie.
“Penjual harus memberikan keterangan pada saat dia upload foto, apakah ada cacat atau kekurangan lainnya. Prelo juga memberikan Waktu Jaminan Prelo selama 3 x 24 jam, dimana kita bisa memeriksa barang yang kita terima, apakah barang tersebut barang KW, ada cacat yang tidak diinformasikan, atau bahkan berbeda dari yang kita pesan. Kita bisa kembalikan barangnya dan jaminan 100% uang kembali.”, jelasku panjang lebar.
“Wah, berarti nggak perlu khawatir dong ya.”, Elsie mengangguk.

Minuman dingin di meja sudah mulai memanggil untuk diminum. Kami terus asyik membicarakan Prelo.

“Prelo juga menggunakan rekening bersama, jadi nggak perlu ragu untuk belanja. Disana juga tersedia bantuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu seputar Prelo, dan customer service mereka stand by dari Senin sampe Jumat. Kurir yang mereka pakai juga jasa kurir ternama, tinggal pilih langganan kamu yang mana. Satu lagi, kalau kamu belanja dengan referral dari aku, kamu bisa dapet potongan 25 ribu!”,

“Wah, aku langsung download juga ah..”, Elsie berseri-seri.

Tampilan Prelo

Topik tentang Prelo membawa suasana hatiku jauh lebih positif, memulai awal yang baru. Semoga kejadian buruk ini membawa kebaikan untuk jiwaku ke depan.

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba Blog Prelo.

3 thoughts on “Memulai Awal yang Baru dengan Prelo

  1. Aswinda Utari says:

    Semoga hati mba segera membaik ya mba..Memang bekas2 itu lebih baik dijual dibanding dibiarkan menginap dihati.. *eh dirumah kita.. 🙂
    Tulisan yg bagus nih, ngena banget deh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *