Nilai Kejujuran

Minggu lalu, saya menemani sulung saya yang duduk di kelas 2 SD, belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarnanegaraan atau PKn. Topiknya adalah kejujuran. Di catatan yang dimilikinya tertulis arti kejujuran, ciri-ciri, manfaat, dan akibat jika tidak jujur. Ada beberapa poin yang membuat saya agak miris, sembari membandingkan teori yang diajarkan, dengan kenyataan di dunia orang dewasa yang terjadi sekarang ini.

Salah satu manfaat kejujuran menurut catatan adalah disukai banyak orang. Saya walaupun agak terhenyak dan hanya bisa berharap apa yang dipelajarinya sekarang, bisa saya jaga hingga ia dewasa kelak. Pada saat yang sama, saya membaca berita di portal berita nasional, yang menuliskan, ada seorang siswi di sebuah SMA, melaporkan tindak kecurangan yang ia ketahui pada saat Ujian Nasional minggu lalu, berakhir dengan kematian. Iya, siswi tersebut meninggal. Bunuh diri karena diintimidasi oleh oknum guru yang dilaporkannya. Siswi tersebut mendapati oknum guru membocorkan jawaban ujian kepada seorang peserta ujian. Siswi diintimidasi dan diancam, bahwa orang tuanya akan dituntut, dimintai uang sebesar 750juta sebagai denda, dan dilaporkan ke pihak kepolisian. Saking tertekan dan ketakutan, ia menenggak cairan racun rumput dan meninggal.

Miris? Ya…sangat.

Belum lagi, cerita mega korupsi yang menghebohkan seantero negeri beberapa minggu belakangan. Para wakil rakyat yang seharusnya mewakili rakyat malah memperkaya diri sendiri, secara berjamaah pula. Hanya sedikit orang yang bisa berdiri tegak atas nama kejujuran, jika sudah dihadapi dengan masalah uang. Lebih banyak orang yang goyah dibanding yang tahan menjunjung kejujuran.

Lalu, bagaimana kita sebagai orang tua menghadapi hal ini? Berbekal dengan keyakinan bahwa kebaikan pasti mengalahkan kejahatan, yang terkadang terdengan klise, bagaimanapun orang tualah yang tetap harus menanamkan hal-hal baik pada anak-anaknya. Seberat apapun tantangan yang kita hadapi, kita adalah pondasi yang membentuk karakter mereka. Jika anak hidup ditengah kejujuran sejak kecil, maka besar harapan kita bahwa ia akan melakukan hal yang sama ketika besar nanti. Seiring anak-anak bertumbuh, mereka akan melihat dan mengerti bagaimana prinsip kejujuran mempengaruhi sendi-sendi kehidupan.

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil di rumah, seperti,
1. Membiasakan bicara apa adanya
Kita sebagai orang tua juga kadang tidak luput dari ketidakjujuran. Terkadang kita memanipulasi pikiran anak untuk melakukan apa yang kita mau. Membiasakan hal ini dari diri sendiri memang penuh tantangan, tapi membiasakan bicara jujur apa adanya kepada anak-anak bisa menumbuhkan nilai luhur ini pada diri mereka. Sebagai contoh, ada beberapa kali Abby merengek meminta dibelikan mainan yang harganya mahal untuk ukuran kami. Ia kesal dan marah karena kami tidak menyetujuinya. Papanya yang lebih netral kalau situasi ini terjadi, bicara kalau uang kami tidak cukup untuk membayar mainan semahal itu. Argumentasi logis yang dijelaskan suami, ternyata bisa dimengerti oleh Abby yang ketika itu masih berumur 5 tahun. Pada kenyataannya, memang kami tidak sanggup membayar mainan itu kok. Jadi, buat apa berbohong?

2. Menghormati kepemilikan
Walaupun di rumah sendiri, ada barang-barang tertentu yang dimiliki secara pribadi. Mainan Abby, mainan Nolan, telepon genggam Papa atau Mama, laptop Mama, tablet Abby, kamar tidur Abby, kamar tidur Papa Mama dan beberapa barang lainnya. Konsep kepemilikan bisa menentukan siapa yang berwenang dan bertanggungjawab atas barang tersebut. Jika ingin meminjam atau menggunakan, harus seijin pemiliknya. Abby boleh melakukan apapun dengan kamar tidurnya, melukis tembok, menentukan warna cat, menempel kertas, atau yang lainnya. Tapi hanya dikamarnya sendiri. Atau ketika ia ingin menggunakan laptop, ia tetap harus bilang dulu, karena dari awal disepakati bahwa laptop adalah milik Mama.

3. Mengakui kesalahan

Ini juga termasuk hal yang sulit dilakukan. Mengakui kesalahan terdengar sederhana, tetapi untuk melakukannya butuh nyali besar. Kita kadang lebih mudah menyalahkan orang lain atas sebuah kejadian buruk, tetapi jika dirunut lebih jauh, mungkin kesalahan dan penyebabnya adalah kita sendiri. Pernah sekali waktu, Abby memilih bersembunyi setelah ia menumpahkan susu di buku pelajarannya. Saya menemukannya di lemari pakaian sedang bermain boneka Ternyata ia bersembunyi karena takut saya marah. Lalu kami bicara, apa yang seharusnya dilakukan jika terjadi hal seperti itu.

Nilai-nilai kejujuran di dunia yang makin menggila boleh saja meluntur, tapi kita tidak boleh ikut goyah. Apa yang kita tanamkan di anak-anak kita sekarang, bisa jadi membawa perubahan besar pada masanya nanti, ketika generasi mereka yang memutar dunia. Adalah harapan setiap orang tua, kelak anaknya akan menjadi orang yang berakhlak baik, bukan hanya pintar akademis semata. Tetap semangat ya, sesama orang tua…

Sumber berita: http://www.tribunnews.com/regional/2017/04/11/diduga-terintimidasi-guru-pembocor-soal-siswi-ini-bunuh-diri-minum-racun-rumput

One thought on “Nilai Kejujuran

  1. Hmmm sering termenung lama mbaak kalau baca berita korupsi, pencurian dan kebohongan lainnya. Miris gtu, semakin modern semakin kritis kejujuran :’| semoga kita senantiasa bisa berjuang dan berusahan di jalan yang jujur dan halal. Aamiin. Blognyaa kecee mbaak. Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *