Untuk Para Ibu Yang Suaminya Tidak Membantu Pekerjaan di Rumah…

untuk para ibuBanyak sekali artikel yang membahas bagaimana peran suami di rumah. Kebanyakan teman-teman tidak sungkan bercerita bagaimana suaminya ikut serta dalam urusan pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, menyetrika, bahkan ikut repot menyuapi, mengganti popok, dan memandikan anak. Tapi, tidak banyak yang berani bercerita tentang suami yang kebalikannya, tidak ikut mengambil tugas rumah tangga ini. Seperti suami saya. Tadinya saya minder mau menulis soal ini, tapi pikir ulang lagi, apakah saya jadi kurang bangga dengan tidak ikut sertanya beliau dalam urusan ini? Apakah hal ini membuat saya jadi kurang mencintainya? Jawabannya ternyata tidak. Saya tetap bangga dan saya tetap cinta. Kenapa? Boleh baca sampai akhir tulisan ini ya.

Saya mencoba menelaah lebih jauh tentang kenapa ada dua tipe laki-laki untuk hal pekerjaan rumah tangga ini. Sejauh pertimbangan saya, pasti dimulai di rumah dimana mereka dibesarkan dulu dan seiring waktu berkembang dengan persepsinya sendiri sebagai orang dewasa. Orang tua adalah teladan pertama yang dilihat anak-anak, apakah ayah di rumah dulu suka membantu ibu pasti memberi gambaran jelas di kepala anak-anak. Bapak mertua almarhum menurut cerita tidak ikut serta dalam pekerjaan rumah tangga, sama halnya juga seperti Papa saya. Selama ingatan saya, tidak ada gambaran tentang Papa yang membantu Mama menyapu, membereskan rumah, dan lainnya. Mungkin hal yang sama juga terjadi di rumah suami saya ketika ia kecil dulu.

Peran laki-laki di rumah memang jelas mencari nafkah, tanpa perlu lagi ikut capek mengurusi rumah. Tetapi, tidak semua anak-anak memiliki persepsi yang sama walaupun dibesarkan di rumah yang sama. Karakter pribadi berperan besar dalam hal ini. Karakter ‘ngemong’ untuk anak laki-laki sulung mungkin akan berbeda dengan anak laki-laki yang bungsu. Sulung bagaimanapun akan menjadi andalan bagi orang tua untuk bisa membantu di rumah, sama seperti yang saya lakukan pada sulung saya di rumah.

Suami saya adalah bungsu dari 8 bersaudara, apakah ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah? Oh jangan salah, dia bisa. Waktu jaman kos dulu, kamarnya jauh lebih rapi dan bersih dibanding kamar saya. Ia bisa memasak ayam cabe lebih enak dari saya. Dan ketika menikah, dia menyerahkan segala urusan rumah tangga kepada saya. Waktu masih hanya kami berdua, semua saya kerjakan sendiri. Tapi ketika mulai memiliki anak, saya memilih minta bantuan dari mbak asisten rumah tangga, sehingga saya hanya perlu mengontrol dan bisa berkonsentrasi mengurus bayi. Apakah suami keberatan mengeluarkan uang lebih untuk membayar ART? Tidak. Ia justru mendukung.

Suami juga tidak banyak membantu saya dalam mengurus bayi. Gendongannya canggung dan kaku. Jijik dengan benda misterius yang ada di popok bayi. Juga mati gaya jika harus bicara kepada bayi. Lalu, apakah ini menjadikan dia ayah yang buruk? Tentu tidak.
Ia pernah menemani saya begadang beberapa hari berturut-turut karena bayi yang menangis terus ditengah malam. Ia sering menyanyi dan main gitar untuk mengalihkan tangis bayi kami. Ia juga jauh lebih sabar menghadapi bayi yang sekarang sudah berumur 8 tahun dan mulai bertengkar terus dengan mamanya. Ia adalah wasit yahud untuk menjadi penengah diantara saya dan si sulung.

Suami saya memang tidak membantu saya dalam urusan rumah tangga dan mengurus anak-anak. Sesekali rasanya wajar merasa iri dengan teman-teman lain yang suaminya mahir memegang bayi. Tetapi, saya mencoba berpikir lebih jauh, mencoba melihat sisi lain yang jauh lebih besar dari ini. Daripada saya menyesali dan mengasihani diri, saya mensyukuri apa yang selama ini suami saya lakukan untuk saya.

Ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Ia selalu memastikan keamanan dan kenyamanan istri dan anak-anaknya terpenuhi. Puji Tuhan, perut kami tak berkekurangan untuk urusan makan, pakaian kami tersedia dengan baik, dan rumah kami dibuatnya senyaman mungkin. Ia selalu memastikan kalau kami mendapat yang terbaik. Tak jarang ia pulang malam karena pekerjaan yang belum terselesaikan dan saya melihatnya tertidur di sofa karena kelelahan. Ia tidak pernah mengeluhkan saya yang terlalu sibuk dengan urusan anak-anak sehingga kadang menomorduakan perhatian ke dirinya. Ia mendukung penuh ketika saya mengutarakan niat untuk mulai serius blogging. Ia tetap menjalankan perannya sebagai ayah yang meletakkan pondasi tentang kehidupan pada anak-anak kami. Dan banyak hal lainnya, yang membuat saya tetap bangga dan tetap cinta dengannya.

dekathati

Semua keputusan untuk membantu atau tidak sepenuhnya tergantung pada pribadi  masing-masing suami. Saya tidak tega menuntut ia untuk capek-capek lagi dirumah setelah apa yang dilakukannya di luar demi kami. Akan ada saatnya semua kerepotan saya mengurus bayi yang hampir 2 tahun ini berakhir dan akan memasuki level yang lebih bersahabat.

Jikapun ada suami yang tidak sungkan membantu, maka terberkatilah istrinya dikarunai suami yang demikian. Dan jika tidak, daripada sekedar bersungut dan terpuruk sendiri, coba lihat sisi positif dari suami, betapa ia berusaha membahagiakan istri dan anak-anak. Bertanggung jawab atau tidaknya suami pada keluarga bukan hanya dinilai dari membantu atau tidaknya ia di rumah, kan? Jadi, saya patut bersyukur sebersyukur bersyukurnya punya suami seperti suami saya.

36 thoughts on “Untuk Para Ibu Yang Suaminya Tidak Membantu Pekerjaan di Rumah…

  1. Setuju mbak sama sharing nya..

    suami saya juga nggak selalu membantu pekerjaan dirumah..
    pernah saya tanya dari hati ke hati kenapa tidak membantu saya, jawaban nya justru cukup mengharukan sekaligus bikin gemes..

    “aku pengen bantu, tapi nggak bisa, kalo bantu nanti pasti tambah berantakan, kasihan kamunya jadi harus kerja dua kali, malah jadi lama kerjanya dan nggak bisa pacaran berdua. aku nggak bantu tapi nanti aku pijitin kamu deh kalo sudah selesai kerjaan rumahnya” hehehehe

  2. Setuju mbak sama sharing nya..

    suami saya juga nggak selalu membantu pekerjaan dirumah..
    pernah saya tanya dari hati ke hati kenapa tidak membantu saya, jawaban nya justru cukup mengharukan sekaligus bikin gemes..

    “aku pengen bantu, tapi nggak bisa, kalo bantu nanti pasti tambah berantakan, kasihan kamunya jadi harus kerja dua kali, malah jadi lama kerjanya dan nggak bisa pacaran berdua. aku nggak bantu tapi nanti aku pijitin kamu deh kalo sudah selesai kerjaan rumahnya” hehehehe

  3. I agree with u mba, Alhamdulillah Suami sangat membantu, bantuan itu perlu apalagi saat ada new born tanpa ortu dan pembantu tapi saya enggak maksa beliau bantu lagian kan Suami udah cape kerja, jadi kalau ada me time ya saya biarkan beliau refreshing, karena riweuh ngurus anak mah cuma sementara kok, sabar aja dan sadar diri emang resiko berumah tangga dan punya anak hehe

  4. Setuju, Mbak. Papah saya bukan tipe suami yang membantu pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Fokusnya mencari nafkah, ketika di rumah lebih banyak beristirahat. Tapi saya pun melihat, sikap mamah saya yang menerima dna bersyukur. Setidaknya, papah termasuk orang tua yang bertanggung jawab memberi nafkah untuk anak dan istri.

  5. Postingannya really touch mba… Suamiku sering bantuin mandiin dan nyuapin anak..
    Tapi klo pas anak pup dia nyerah hehe..
    Nggak ada habisnya klo banding2in mlulu yaa mba…

  6. Nice sharing Mb Susan. Untuk urusan rumah sih skrng bagi2, soalnya kami hanya berdua. Anak2 sdh menikah dan ga punya ART. Nyuci berdua, dia nyuci, saya jemur. Saya masak, dia nyuci mobil ato urusan kebon, krn dia punya green thumb. Saya nyetrika, dia nyapu ngepel. Hehe…Dulu gimana ya? Udh lupa dan ga terlalu masalah sih. Apalagi dulu kan ga ada medsos. Ga peduli juga Mama lain dibantu atau tidak oleh suami. Jalani saja dan banyak bersyukur …Sehat selalu ya Mba Susan…

    • Susan says:

      Ibu..terima kasih mampirnya.
      saling melengkapi ya bu..
      Sehat2 juga untuk ibu dan keluarga.

  7. Aku pernah nulis di Hipwee, eh tp itu sih ttg knp suami harus bantu urus anak, bukan bantu kerjaan rumah. Karena kalau suami sibuk kerja, ngebantu ngerjain kerjaan rumah kayaknya agak sulit.

    Kalau misalkan gak bantu tp bisa menghargai ya itu bagus. Yang ngeselin ada suami yg gak mau bantu dan gak menghargai dan menyepelekan masalah pekerjaan rumah. Kadang gemes lihat suami org kyk gitu. Alhamdulillah, punya suami pengertian jd bisa saling menguatkan satu sama lain ya mba. Salam kenal 🙂

    • Susan says:

      Salam kenal juga mba enny..
      Iya…beruntung kita punya suami yang bisa saling melengkapi ya..

  8. Salam kenal mom Susan 😉

    Tulisannya bagus, mam. Selama ini kalau ada teman yg curhat hal yg sama, merasa tidak terbantu oleh suami urusan rumah & hal itu menjadi beban sendiri. Sedangkan aku hanya bisa masukkan standar, karena suamiku termasuk yg membantu sebagian urusan rumah atau ambil alih urus anak (termasuk memandikan, momong & nyuapi sejak anak bayi) saat aku mengerjakan hal lain.

    Lain kali aku bisa share pandangan mom Susan ini ke mereka juga, semoga bisa mencerahkan & tambah semangat.

    Sehat terus ya mom Susaan 😄😄

    • Susan says:

      Salam kenal juga Mom..
      Iya harus bisa ambil sisi positif nya kan.
      Terima kasih mampirnya ya

  9. Suppperrr sekali mbak susan. Cukup berimbang dengan postingan yang viral itu. Mana2 aja, yg penting keduanya nyaman. Heheheh

  10. Setuju mbk,
    Drpda mikirin suami gk bs bantu2 pkerjaan rmh tangga, mending mikir positif gt, bahwa suami ttp dna terus berusha utk mmbahagikn keluarga, 🙂

  11. Suami sy jg bungsu dr 3 bersaudara mbak, dan krg lbh dia jg bgtu. Kalo saya justru merasa ga enak hati kalo suami ikut bantu2 kerjaan rumah tangga, krn beban dia dlm mencari nafkah rasanya sdh cukup berat.

    Makanya kalo suami ikut bantu sy ngerjain kerjaan rmh saya larang. Kecuali klo saya lg sakit.

    Intinya kita berusaha jadi tim yg solid dlm rumah tangga kita sndiri.

    Slm kenal mbak 🙂

    • Susan says:

      Salam kenal juga mba Merry… Iya..kalo lagi sakit mau nggak mau harus turun gunung deh beliau.

  12. Aww gimanapun suami tetap cinta ya San, suamiku juga ga turun tangan untuk bebersih rumah si tapi habis makan dia bawa piringnya ke dapur, dan dia yang lebih pinter masak daripada aku.
    setiap suami berbeda jadi ngga bisa disamain 🙂

  13. Wah sama, suamiku juga bungsu dr 5 bersaudara, sementara aku sulung. Mertua biasa punya ART satu pasukan, sementara keluargaku nggak biasa punya ART. Stlh married, suami suka gelisah kalau aku ngerjain apa2 sendiri. Mungkin krn dia ngerasa nggak bisa bantu2, jadi gak tega istrinya gempor ngurus rumah. Tapi aku memang gak suka ada orang asing dirumah. Jalan keluarnya waktu anak2 masih kecil ada ART paruh waktu & laundry. Skrg stlh mereka besar, tinggal laundry aja. Suami sdh bisa ngepel & masak sih heheee.

  14. Terima kasih teteh untuk ceritanya jadi memotivasi saya untuk mensyukuri smua jasa suami. Suami saya dulu suka membantu pekerjaan rumah tapi sekarang udah nggak lagi, bukan karena nggak mau tapi karena fisiknya sudah terlalu lelah untuk bekerja dan badannya tidak enak karena kecapean. Jadi Pkrjaan rumah saya yang handle sndri. Terima kasih sudah mengingatkan teteh😃

  15. Suamiku, alhamdulillah tipe ringan tangan. Begitu lihat ada gak beres, langsung turun tangan (sadar kalau istrinya pemalas, kali. hehehe). Beda banget dengan almarhum Bapakku. Bapak tak pernah melibatkan diri dengan urusan pekerjaan rumah. Benar kata Mba Susan, pola asuh dan juga adat sangat berpengaruh. Kalau Bapakku, sebagaimana adat Bugis, pamali kaum laki2 turun ke dapur. Beda dengan suami yang dibesarkan secara lebih demokrat dg orang tua yang berbeda suku. Maaf, kalau jadi kepanjangan komentarnya.

  16. Halo Mb Susan,
    Bersyukur ya punya suami yang meskipun andilnya tidak begitu banyak tapi tetap bertanggung jawab serta selalu melindungi keluarga. Moga keluarga mb Susan selalu harmonis yeyeye amin

  17. Memang kita harus selalu berpikir positif dan berhenti membandingkan biar lbh bahagizm tp tetap kalausuami bisa bntu dan mau membantu suatu anugrah tak terhingga

  18. Iya bener.. suamiku juga gak bisa benerin genteng bocor atau benerin keran yang loncer juga gak bersih nyapu atau ngepel..kalo dia bantu akunya malah kesel krn harus kerja double..hahahhaha.. tapi dia tetap suami hebat yang mau mendengar keluhanku tanpa jemu, sabar hadapi anak2, dan berusaha buat nyenangi keluarga kami dg caranya yg unik dan bikin gemes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *