Bayi Berkebutuhan Tinggi

Bayi BerkebutuhanTinggi

Bayi Berkebutuhan Tinggi – Apa sih bayi berkebutuhan tinggi  ini? Waktu anak pertama saya lahir dulu, saya sempat stres dengan penyesuaian jam tidur bayi yang memang belum normal. Saya pikir hanya akan berlangsung yaah sebulanlah menurut artikel-artikel perbayian yang saya baca. Hasil pencarian di google dengan keyword ‘jam tidur bayi’ pun saya buka sampai halaman yang jauh demi mencari informasi kapan sih saya bisa punya jam tidur normal lagi.

Ketika saya dan suami perlu tidur untuk mengembalikan tenaga yang hilang seharian, bayi kami malah bangun, mending kalau cuma diam atau main sendiri, ini pakai acara nangis drama. Tangis yang saya tidak mengerti sebabnya. Menyusu sudah, popok sudah diganti, digendong berbagai gaya sudah, segala cara termasuk Papa nyanyi pakai gitar jam 2 malam atau keliling komplek naik mobil jam 3 subuh. Ada kalanya si bayi tidur normal malam hari tapi pernah juga drama tengah malam itu berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Ketika orang tua lain mengalami penyesuaian jam tidur bayi selama sebulan, kami begadang sampai bayi berumur kira-kira 4 bulan.

Ketika ada yang bertanya, gimana bayinya? Saya malah jadi sensi. Merasa lelah sekali, pingin curhat, pingin minta bantuan, padahal yang nanya cuma sekedar basa basi. Atau ketika saya cerita keadaan saya yang masih begadang, si penanya bukannya menyemangati malah curhat balik soal bayinya yang kalem dan tidak heboh tengah malam seperti bayi saya. Rasanya? Sirik. Bete. Terpuruk. Merasa mungkin ada yang salah dengan diri saya atau cara saya mengasuh bayi. Atau merasa bahwa saya hanya melebih-lebihkan situasi.

Mesin pencari adalah tempat main saya, lalu saya ketemu artikel di Dr. Sears yang cocok banget dengan keadaan yang saya alami. Bayi saya disebut high needs baby, yang memang bawaannya begitu. Pas sekali semua ciri-cirinya dengan keadaan bayi saya, yaitu

1. Tangisan yang sering dan melengking
Waktu berada di ruang bayi setelah dilahirkan, memang mudah sekali mengenali suara tangisan Abby dibanding dengan bayi yang lain. Ada suara lengkingan yang khas yang menandakan kalau itu adalah bayi saya. Tangisan ini mudah sekali meningkat menjadi tangisan histeris yang bisa membuat panik orang yang mendengar.

2. Melelahkan
Bayi berkebutuhan tinggi menguras tenaga kedua orang tuanya karena waktu tidur yang belum normal. Pas sekali dengan pengalaman kami yang pernah tidak tidur beberapa hari karena si bayi dan ia terus ingin berada didekapan saya.

3. Menyusu lebih sering
Ketika bayi lain merasa terpuaskan dan kenyang, Abby rasanya tidak pernah lepas dari payudara saya untuk waktu yang lama dan membuat saya hamper tidak bisa melakukan apa-apa.

4. Tidak bisa diprediksi
Seiring waktu, Abby tumbuh menjadi toddler, yang ternyata memang juga ‘lain’ dari anak-anak tetangga atau teman. Frekuensi tantrum yang sering dan marah yang tidak dapat ditawar oleh bujuk rayu menjadi fase menantang juga untuk saya ketika ia berusia 2 hingga 3 tahun.

5. Super sensitif
Ini masih terjadi sampai sekarang, Abby adalah anak yang super sensitive. Ia tidak suka jika anak lain mengisengi dia atas nama bercanda. Ia akan langsung kesal dan tidak senang. Keinginan sendirinya untuk melakukan ini itu harus saya rem dengan buah kami tidak saling bertegur sapa, atau bertengkar.

6. Not a self soother
Artinya, ketika anak lain bisa cuek atau tenang menghadapi situasi yang kurang menyenangkan, bagi Abby, happy moodnya akan langsung hilang dan memerlukan orang lain atau saya untuk bisa menenangkan kembali suasana hatinya.

Ini adalah beberapa ciri yang menegaskan bahwa saya memiliki bayi berkebutuhan tinggi. Memang melelahkan, memang menguras energi, tapi mau bagaimana lagi? Apakah mau mengeluh, mengasihani diri, atau dijalani dengan baik? Toh, tetap harus kita sayangi. Yang paling bisa saya lakukan adalah beradaptasi dengan keadaan. Banyak baca buku dan artikel tentang ini, dan cara penanganan yang tepat. Pastinya tidak mudah. Tapi hari demi hari bisa terlewati dan kami sekarang berada di tahun ke-8 umur Abby. Semakin besar ia bisa lebih bisa diajak bicara baik-baik, dan mengerti situasi yang ada.

Lain situasinya ketika memiliki Nolan, anak kedua, memang terasa sekali bedanya untuk urusan tidur dan perawatan ketika jam tidur. Saya hanya perlu sebulan untuk urusan begadang, Nolan tidur sepanjang malam, bangun sebentar untuk menyusu, dan bangun pagi di jam yang sama dengan saya. Saya pikir apa karena manfaat minum susu hamil ketika hamil Nolan, karena saya memang susah minum susu waktu hamil Abby dulu. Ah, tidak ada hubungan kesana saya rasa, memang bawaan bayi dari sananya.

Jadi, para orang tua baru yang memiliki bayi berkebutuhan tinggi, teruslah bertahan dan berjuang. Tidak akan terasa waktunya ketika bayi yang suka menjerit itu tumbuh menjadi anak yang sudah tidak mau lagi kita gendong-gendong.

4 thoughts on “Bayi Berkebutuhan Tinggi

  1. Hasriyani says:

    Bayi pertama saya juga pernah mengalami hal serupa, kata mertua saya bayi kamu lapar. Coba perah susu kamu, buang sebagian, masas dan bersihkan puting dengan benar kemudian makan makan yang seimbang, dimana nasi sayur dan lauk ada. Lalu saya turuti setelah 3 hari bayi di bantu dgn susu tambahan dan asi. Alhamdulillah, bayi saya kalau bangun malam hanya minta asi setelah itu main sendiri dan tertidur.

    • Susan says:

      Umur berapa bayinya mba?
      Kalo masih dalam tahap wajar mungkin nggak. Untuk penyebutan bayi berkebutuhan tinggi menurut saya… kita sendiri yang tahu. Coba gugel high needs baby yg dr Sears.

  2. Wah baru tau nih ada bayi berkebutuhan tinggi, dulu kita waktu bayi gimana ya hehe, tetap ikhlas dan semangat Mak, mungkin Mami2 yang lain juga kadang jenuh cuma mereka menyembunyikan keluhannya dengan kesabaran tingkat dewa hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *