Cerita Imlek Anak-anak Saya yang Bermarga Tobing

Saya adalah seorang ibu dengan 2 anak. Saya lahir di Lampung, dari keluarga keturunan Tionghoa. Kebetulan, Tuhan memberikan seorang laki-laki berdarah Batak yang menjadi suami saya. Banyak kerabat, teman, dan termasuk orang tua saya, yang agak mengerutkan alis mata ketika mengetahui kami berpacaran dan serius menikah. Tapi karena kami yakin niat kami baik, maka pasti kami bisa berkompromi dengan perbedaan budaya ini. Pernikahan kami dilangsungkan dengan konsep internasional, tetapi kami menyelipkan tradisi adat Batak ketika di resepsi. Sebelum pernikahan, kami tetap melangsungkan acara sang jit (semacam seserahan) dan juga teh pai (menuangkan teh untuk keluarga). Jadi, memang dari awal sudah ada kompromi dari kami berdua untuk tetap menunjukkan sisi dari budaya kami masing-masing.

Setelah menikah, ceritanya menjadi lebih seru. Saya harus beradaptasi dengan acara-acara adat Batak, dimana saya sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang dibicarakan. Awal-awal, memang terasa agak sulit, karena saya merasa terasingkan karena kendala bahasa dan kebiasaan.  Saya yang selama ini berpenampilan kasual untuk sehari-hari, gaun seadanya sekedar untuk kondangan, rambut yang selalu pendek, sekarang harus mulai membiasakan diri dengan kebaya, termasuk juga di dalamnya make up dan sanggul. Oh my. Semua tetap saya jalankan dan lakukan dengan senang hati, karena inilah yang sudah saya pilih, sepaket dengan suami.

Boleh baca cerita seru saya di salah satu acara adat Batak.

Mangokkal Holi, Acara Adat Batak Menggali Tulang Belulang

Kami sekarang memiliki 2 orang anak. Abby, 8 tahun dan Nolan, 21 bulan. Ada marga Tobing disematkan di belakang nama mereka, tetapi ada darah Tionghoa mengalir di tubuh mereka. Kami berusaha memperkenalkan tradisi dan budaya kami masing-masing kepada mereka, walaupun masih banyak kekurangan disana-sini, kami berusaha untuk tidak timpang. Kami percaya tradisi kedaerahan masih tetap menjadi hal yang indah sampai kapanpun, dan akan punah jika tidak diwariskan ke anak cucu. Membawa mereka mengenal makanan khas daerah, membawa mereka ke acara adat, mengenalkan bahasa daerah, memperdengarkan lagu Mandarin atau lagu Batak, dan hal-hal sederhana lainnya. Meskipun kami bukan ahli, tapi semoga apa yang ditanamkan bisa menjadi identitas dan membentuk karakter baik untuk anak-anak.

Sembahyang arwah menjelang Imlek masih dilakukan oleh keluarga Mama dan Papa saya, walaupun mereka sudah menganut agama Katolik, tetapi kakek dan nenek saya beragama Budha. Meja dengan penuh nasi, lauk, sayur, buah, dan dupa masih dibuat tiap tahun, dan kami juga masih ikut serta dalam sembahyang ini. Jadi terbayang serunya kan? Perayaan Imlek saya sewaktu kecil masih membekas diingatan saya sampai sekarang, dan sumber kebahagiaan di perayaan ini adalah berkumpulnya keluarga, sama seperti nilai perayaan budaya apapun. Tradisi mengunjungi saudara yang lebih tua masih kami laksanakan, baik ketika merayakan Imlek di Lampung, atau di Bekasi. Mengenalkan anak-anak kepada saudara yang masih memiliki hubungan darah, dan membingungkan mereka dengan berbagai macam panggilan yang sedikit familier di telinga mereka sehari-hari.

Untuk kami, perbedaan budaya bukan menjadi penghalang, justru lebih memperkaya diri. Dengan begini, semoga anak-anak tumbuh menjadi dewasa yang bisa lebih menghargai perbedaan. Jadi…keluarga Tobing mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek, Gong Xi Fa Cai!!!!! The year of the rooster.

10 thoughts on “Cerita Imlek Anak-anak Saya yang Bermarga Tobing

  1. Wah serunya. Pernikahan beda budaya memang jadi bikin mengenal dua budaya ya, atau bahkan ada yang lebih. Sembahyang arwah ini saya juga tau dari murid yang umat Budha, cuma mereka pergi ke Cilincing deh rasanya. Si kakak mirip papanya dan adek mirip mama ya πŸ˜€ Selamat tahun baru Imlek, mba…

  2. Saya dan suami juga beda latar belakang budaya.
    Tapi buat anak2 seru ya mbak, jd tau banyak budaya dan lbh luas wawasannya.
    Selamat imlek mbk πŸ˜€

  3. Gong xi fa cai mbak susan.
    Btw, poto anak2nya pake cheongsam dan baju chinese dong πŸ™‚
    Aku dulu sempet punya foto ala2 putri huanzhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *