Kebahagiaan Dimulai dari Diri Sendiri

ibu rumah tanggaDekathati.com – Menjadi ibu rumah tangga menurut saya memiliki tantangan yang sama kompleksnya dengan tantangan yang dihadapi ibu bekerja. Jika ibu bekerja memenuhi tuntutan dari pihak tempatnya bekerja, ibu rumah tangga harus mengukur sendiri tantangan yang dihadapinya. Tidak ada yang memiliki nilai lebih tinggi satu dari yang lain, hanya karena pilihan yang dibuat. Ibu tetaplah ibu, tanpa embel-embel dibelakangnya.

Saya, adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak. Sama seperti ibu rumah tangga lainnya, cerita keseharian saya berkutat di area anak-anak dan rumah. Saya mengerti sepenuhnya kalau saya melakukan hal penting, sama seperti halnya suami yang mencari nafkah. Saya mengerti semua tanggung jawab yang dipikul untuk mendidik dan membentuk kepribadian anak-anak yang baik. Tetapi seiring waktu berjalan, saya banyak mengalami konflik dengan diri sendiri, ketika di dera letih, atau ketika anak-anak sedang berulah. Saya mulai bosan dengan rutinitas yang konstan, terikat dengan situasi di rumah, iri melihat teman-teman di sosial media yang penuh cerita aktualisasi diri, berdandan cantik, bertemu banyak orang, atau foto jalan-jalan yang membuat hati berandai-andai.

Kalau sedang down begini, biasanya pikiran buruk merajalela. Kok enak banget suami bisa keluar rumah, bisa hang out dengan teman-teman, atau bisa pergi kemana-mana tanpa harus repot lari kesana kemari mengejar bocah 21 bulan. Sementara saya…cuma dirumah. Boro-boro mau pergi hang out. Kegiatan kamar mandi pun dilakukan dengan pintu terbuka, atau ada anak yang ikut main air demi punya waktu 5 menit. Hal-hal ini berujung pada perasaan tidak percaya diri yang biasanya tercermin dari perilaku saya yang gampang marah ke anak-anak, mood yang buruk, atau bahkan berpikiran buruk terhadap semua hal, termasuk terhadap suami.

Baca juga:ย Melawan Pikiran Negatif

Seorang ibu dituntut untuk menjadi kuat. Tapi ada kalanya, saya menyerah, merasa benar-benar tidak berdaya. Ketika ingin sekedar melakukan hal sesederhana mandi pun sulit sekali, dan ada waktu dimana ketika anak-anak seperti menganggap kita tidak ada, berulah buruk sepanjang hari, dan menguras kesabaran. Saya sering menilai rendah diri saya sendiri, menjadi emosional sekali, sampai bercermin pun rasanya malu. Seringnya hal ini saya simpan sendiri walaupun ada beberapa kali berbagi cerita dengan suami karena memang sudah terlihat jelas di wajah saya yang manyun, dan berlapang hati untuk berbagi.

Tetapi saya tidak mau berlena-lena ketika masa buruk itu sedang datang. Walaupun sulit, saya terus mencoba membangkitkan diri, memaksa kaki untuk berdiri, dan meyakinkan diri bahwa yang menentukan kebahagiaan adalah saya sendiri. Saya yang memiliki kekuatan untuk mengatur pikiran sendiri, tenggelam atau berjuang.ย Saya yakin saya tidak sendiri. Banyak ibu rumah tangga lain yang mungkin menghadapi permasalahan yang sama ataupun jauh lebih destruktif daripada kasus saya, dan mereka bisa kok tetap menjadi perempuan luar biasa dengan status ibu rumah tangganya. Jadi, siapalah saya untuk terus menerus mengeluh dan terpuruk di pikiran jelek diri sendiri.

ibu rumah tangga

Ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan, dan bisa membantu mengalihkan pikiran ke arah yang lebih positif.

  1. Menjauhkan gadget
    Ya…saya belakangan membuat peraturan untuk diri sendiri, untuk menjauhkan diri dari hp. Sengaja saya tinggal di kamar atas seharian, atau matikan fitur mobile data dan wifi-nya. Percaya atau tidak, main hp di hari buruk, bisa menambah situasi menjadi lebih buruk. Memang sudah jamannya kalau kita tidak bisa lepas dari gadget, seperti ada yang hilang rasanya kalau ย alat pintar tersebut tidak ada dijangkauan tangan. Tapi, menjauhkan diri dari dunia maya, membantu saya untuk lebih fokus dengan apa yang ada di depan mata.
  2. Menuliskan kebaikan
    Jika pikiran buruk yang datang menyentuh tentang seseorang, baik suami, anak-anak, atau orang lain, atau bahkan diri saya sendiri. Saya akan menuliskan kebaikan orang tersebut. Misalnya, saya akan menuliskan apa yang membuat saya jatuh cinta kepada suami, betapa ia bertanggung jawab dengan keluarga, atau jika ini menyangkut anak-anak, saya akan menuliskan hal-hal positif seperti jika ia mengucapkan terima kasih setelah saya menyiapkan segelas susu hangat, membantu menjaga adiknya ketika saya mandi, dan hal-hal positif lainnya. Menuliskan membuat semua terlihat lebih jelas ketimbang hanya dipikirkan. Membaca lagi hal-hal yang dituliskan memberikan energi positif yang luar biasa untuk jiwa saya.
  3. Me time
    Me time buat saya memang belum bisa yang muluk-muluk. Nonton film adalah salah satu me time yang paling mujarab. Itu pun dilakukan setelah anak-anak tidur, dan kalau saya tidak ikut ketiduran. Biasanya dvd masih menjadi andalan nomor satu, distel di laptop, pakai headphone, di kasur sambil menjaga yang masih suka bangun cari ASI. Menonton film-film yang terlewat di bioskop, atau hanya sekedar film seri kesukaan. Kesenangan untuk memanjakan diri di salon, masih belum bisa terlaksana, setidaknya sampai beberapa tahun ke depan. Punya waktu untuk diri sendiri mengembalikan kita ke posisi netral, sebanyak apapun peran yang dijalankan, kita tetaplah seorang individu, dengan kebutuhan sendiri.
  4. Bicara pada pasangan
    Jangan bicara pada orang lain, dengan alasan cerita yang akan dikurangkan atau ditambahkan, dengan dalih pembenaran diri. Jadi, bicara pada ย suami adalah keputusan yang baik. Saya terkadang agak sulit mengungkapkan perasaan kepada suami dengan berbagai macam pertimbangan. Tetapi ada kalanya ketika saya bicara kepada suami, ternyata bisa menghilangkan beban di pundak. Mengetahui bahwa ternyata belum tentu hal buruk yang kita bayangkan terjadi, justru malah sebaliknya. Sebenarnya kita cuma butuh ditemani, tidak perlu bicara kalau memang tidak ingin bicara atau waktu yang kurang tepat, sekedar pelukan juga bisa menguatkan.
  5. Berdoa
    Ini pertahanan awal dan akhir yang paling manjur. Mengucap syukur biasanya hal yang pertama kita ucapkan dalam berdoa, dari ini saja, saya merasa lebih positif. Jika memang sedang ingin berdialog dengan Sang Pemilik Hidup, maka saya akan berdialog, tetapi walaupun hanya sekedar berdiam dalam syukur, menghayati setiap berkat yang diperoleh tanpa kata-kata, itupun sudah lebih dari cukup. Perasaan dekat dan tidak sendiri biasanya yang saya rasakan di waktu seperti ini. Semua pikiran negatif biasanya menguap dan tak tersandingkan dengan perasaan ini.

Mungkin ada yang berpikir kalau saya hanya melebih-lebihkan keadaan. Berapa sulitnya sih jadi ibu rumah tangga, masa iya sampai sebegininya. Semoga banyak ibu rumah tangga di luar sana yang bisa bangkit dari pikiran buruk, dan berdiri menjadi ibu yang senantiasa bahagia luar dalam, sehingga kita bisa membesarkan anak-anak yang juga bahagia.

10 thoughts on “Kebahagiaan Dimulai dari Diri Sendiri

  1. Bener mbk, kalau bukan kita yg nyiptain kebahagian siapa lg. Hehe gadget emang kdng bikin baper, emang lbh baik ada waktu jauhin gadget TFS tipsnya

    • Susan says:

      Mba April..terima kasih mampirnya. Hehehe..perjuangan berat emang mba..tapi kita yang tentukan kebahagiaan kita sendiri. Salam.

  2. San, nomor 1 susah euy menjauhkan Gadget…๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ tapi emank berusaha mengurangi memegang gadget si tp begitu balas WA lambat si ade diujung sana nanyain mulu oi oi ๐Ÿ˜œ
    Setuju banget kebahagian dimulai dari diri sendiri bukan pasangan atau pada anak ๐Ÿ˜Š

  3. Nomor 1 sangat amat ampuh deh Mbakk.. karena tampaknya kalau aku sedih dan memegang smartphone cenderung untuk staling mantan atau mantannya pacar hahaha. jadinya lebih galau..

    Yang nomor empat duhh ntar yah Mbak aku paksa pacar buat nikahin dulu heheh

    Makasih artikelnya Mbakk Sangat bermanfaat

  4. no 1 bener banget. Selain menjauhkan dari pikiran negatif, kitanya jadi efektif ngerjain perkerjaan rumah. Hihihihihi…. Jujur, saya sering mumet snediri, perasaan seharian berkutat dengan pekerjaan rumah tapi nggak pernah beres. Usut punya usut, ya karena disambil amen gadget. Padahal ketika wifi mati, kerjaan rumah udah beres dalam 2 jam dan saya jadi punya me time lebih banyak. :p

    Salam

  5. Suka bagian yang berdoa. Ini kekuatan yang paling powerful diantar yang lainnya ya kak Susan. Saya suka menyendiri menghabiskan waktu saya dengan Tuhan sambil memuji dan menyembahnya di kamar…Life is so good bila kita tau bersyukur dan berterima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *