MENGAJAR ANAK UNTUK WASPADA

Mengajar Anak Untuk WaspadaMengajar Anak Untuk Waspada – Membaca berita kejahatan pada anak-anak di portal berita sekarang membuat kita sebagai orang tua seakan ingin mendekap anak-anak dan mengurungnya di rumah saja supaya tidak lepas dari pandangan kita. Berita-berita kejahatan membuat bulu kuduk bergidik, seakan membaca cerita horor dengan akhir cerita menyedihkan. Tidak setiap waktu kita bisa selalu bersama anak-anak kita. Mereka pergi sekolah, pergi les, atau hanya pergi bermain bersama teman-temannya. Ada kalanya mereka mengandalkan diri mereka sendiri ketika tidak sedang bersama kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk setidaknya mempersiapkan anak-anak kita untuk waspada. Waspada terhadap orang tidak dikenal, waspada terhadap orang yang dikenal, dan juga waspada terhadap situasi yang bersifat kritis.

Beberapa waktu lalu saya bercerita, bahwa saya memperbolehkan Abby memukul atau menendang dengan syarat dan ketentuan berlaku. Bisa dibaca disini.

Stand Up for Yourself, Kids!

Belum lagi yakin dengan kemampuan anak membela diri dari teman-temannya, anak kita juga harus dipersiapkan untuk lebih waspada terhadap orang dewasa. (ah, betapa seramnya dunia kita sekarang).

Lalu apa upaya kita sebagai orang tua untuk setidaknya mencegah hal-hal buruk itu terjadi pada anak-anak kita? Saya pribadi, banyak sekali bicara dan ngobrol dengan Abby sambil menyisipkan pesan-pesan kewaspadaan ini. Tidak sengaja dibuat waktu khusus supaya tidak terkesan ‘menakutkan’, serta meyakinkan Abby kalau topik ini adalah topik serius walaupun kami ngobrol sambil goler-goler di kasur.

1. Mengajar anak mengingat informasi penting
Informasi yang penting yang mutlak diajarkan kepada anak menurut saya adalah
– nama orang tua
– nomor hp saya dan nomor telepon rumah
– alamat rumah

Hal ini sebaiknya diajarkan sedini mungkin, sejak anak mulai lancar bicara. Saya pernah kehilangan Abby, ketika ia berumur 3,5 tahun, di sebuah toko peralatan rumah tangga, selama 10 menit. Sambil panik, saya mendengar melalui pengeras suara, nama saya dipanggil dan saya ditunggu oleh anak saya di bagian informasi. Informasi ini penting jika kita sampai terpisah, dan memudahkan orang lain membantu untuk menghubungi kita.

2. Jangan menerima makanan, minuman atau apapun dari orang yang tidak dikenal
Karena Abby sudah umur 8 tahun, lebih mudah mengajari hal ini ketimbang waktu Abby berumur lebih kecil. Anak mana yang tahan jika digoda dengan coklat, permen, mainan, atau bahkan sekarang gadget. Waktu Abby umur 5 tahun, saya pernah iseng bertanya, “Apa yang Abby lakukan kalau ada orang yang tidak dikenal, memberi Abby coklat dan permen, lalu mengajak Abby pergi?”. Jawabnya, “Berapa banyak permen dan coklatnya?”. Hufff….dasar si gigi manis.
Tapi, makin besar, saya menerangkan kemungkinan penculikan dengan adanya modus seperti ini. Banyak juga pertanyaan balik yang kadang masih luar biasa nyeleneh, tapi setidaknya ia sudah mulai mengerti ada bahaya dibalik iming-iming dari orang lain yang tidak dikenal.

3. Menjerit, memukul, dan menendang
Dari berita-berita penculikan, anak-anak banyak yang diambil pada saat bermain, atau pulang sekolah. Jika ada orang yang memaksa Abby atau melakukan sesuatu yang membuat Abby tidak nyaman, Abby boleh menjerit, memukut atau menendang, karena hal-hal ini menurut saya pembelaan diri paling dasar yang bisa dilakukan, bahkan oleh anak-anak sekalipun.

4. Waspada juga terhadap orang yang dikenal
Tidak sedikit juga kejahatan dilakukan oleh orang yang sudah dikenal anak-anak, dan memanfaatkan situasi yang ada. Abby biasanya main sore keluar rumah, masih di gang komplek perumahan kami. Jalan komplek ini hanya lurus, yang membentang sekitar 4 blok, dengan hanya satu gerbang keluar masuk, yang dijaga oleh penjaga keamanan. Saya selalu bertanya kepada Abby sebelum pergi main:
– main di rumah siapa, dan kalau pindah, harus pulang dulu untuk memberi tahu saya
– pakai pakaian yang baik dan sopan (tidak boleh pakai celana pendek yang terlalu pendek)
– katakan tidak jika ada yang mengajak pergi tanpa bilang saya

Repot? Ya. Abby pertama-tama juga mengeluh karena ia harus repot bolak balik pulang untuk mengabari saya jika ia dan teman-temannya berpindah main. Tapi setelah saya jelaskan alasannya, ia bisa terima.
Untuk ketentuan pakaian, saya juga cerewet. Setiap sekolah, Abby memakai celana pendek di balik roknya, terkadang ia malas mengganti celana tersebut dan langsung keluar rumah untuk main. Ada beberapa kali saya melihat tetangga atau orang lain di jalan yang membiarkan anak-anak mereka keluar rumah hanya dengan memakai kaos dalam dan celana dalam, yang membuat saya prihatin. Walaupun mereka anak-anak, seharusnya tidak dibiarkan berpakaian begitu di dalam ataupun di luar rumah.

Selain itu, saya dan orang tua yang lain selalu berkomunikasi lewat Whatsapp, untuk sekedar saling memberi tahu bahwa anak-anak sedang main di rumah, atau sedang di luar, biasanya main sepeda.

5. Bawa dalam setiap doa
Ini adalah pertahanan terakhir, dan semoga juga paling manjur. Ajak anak-anak untuk meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa dalam setiap hal yang akan dilakukan. Kiranya kita boleh terus meminta keselamatan untuk orang-orang yang terkasih, niscaya Tuhan juga menjaga kita, menjauhkan kita dari segala mara bahaya serta kemalangan.

Sejauh ini, saya baru berada di tahap Abby yang masih bisa mengerti dan menerima semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Untuk anak-anak yang memasuki dunia remaja tentunya akan diperlukan pendekatan berbeda, tetapi saya yakin, jika kita konsisten melakukan dan menanamkan hal-hal sedari kecil, semoga kita bisa memiliki anak-anak remaja yang juga selalu waspada.

Dunia boleh menjadi jahat, tetapi kita harus tetap menjaga hati untuk tetap baik. Bersikap waspada adalah salah satunya. Semoga kita semua dilindungi dan diberikan hal-hal baik, dengan tetap bersikap baik kepada semesta.

7 thoughts on “MENGAJAR ANAK UNTUK WASPADA

  1. Kadang anak saya tidak memberitahu kalau pulang terlambat atau sedang bermain ke rumah temannya. Tapi saya merasa tertolong oleh grup WA di sekolahnya. Dengan membuat mencari tahu keberadaan anak saya, beberapa orang tua merasa terpanggil ikut mencari. alhamdulillah berhasil. Anak sayapun segera pulang.

    • Susan says:

      Sekarang grup WA sekolah jadi membantu sekali ya mba. Saya juga merasa terbantu sekali, tapi jangan pake drama2 🙂

  2. Saat Yasmin masih di SD, hal yang sama juka aku terapkan, jangan pernah menerima makanan/minum dari sosok tak dikenal.

    Alhamdullillah selama SD dan SMP tidak terjadi apa-apa.

    Dan agar selalu memberi tahu jika terlambat pulang dari jam rutinnya.

  3. saya juga ajarin anak-anak untuk menolak ajakan orang asing terutama saat pulang sekolah. ya walau sekolah sangaaat dekat dengan rumah, tapi akhir-akhir ini banyak beredar berita percobaan penculikan anak saat pulang sekolah.

    dan saya juga melarang anak main ke luar perumahan. tapi ya namanya bocah, kadang mereka setelah pulang baru cerita kalau tadi main ke sana dan ke sana.

    terus teman-teman mereka juga saya saring. boleh main dengan yang ini tapi ga boleh kalau sama yang itu. anak protes sih, tapi setelah lihat buktinya (kebetulan pernah dibikin sakit hati), alhamdulillaah mulai terbuka hatinya untuk lebih nurut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *