Pengalaman Pertama Abby dengan Nebulizer

nebulizerPengalaman Pertama Abby dengan Nebulizer – Setelah kemarin Nolan mengunjungi dokter, sekarang giliran Abby. Alergi masih saja menjadi cerita yang belum bisa lepas dari Abby, 8 tahun. Kasihan saya melihat Abby yang harus berjuang melawan gatal di waktu yang kadang tidak terduga. Sudah beberapa hari belakangan saya memperhatikan bahwa frekuensi gatal yang menyerang lebih sering dan berat daripada biasanya. Ia akan gelagapan menggaruk ke seluruh tubuhnya, bahkan pada saat tidur, saya bisa mendengarnya menggaruk. Kali ini leher dan lutut yang terserang agak parah. Kulit yang terkelupas di kedua bagian tubuh itu bertebaran di sana sini. Kebetulan stok salep yang diberikan dokter sudah habis dari minggu lalu, dan saya sedang mencoba menggunakan Bio Oil pada kulitnya sehabis mandi, tapi Bio Oil tidak bisa menahan gatal yang datang.

Baca juga:

Dermatitis Atopik dan Abby (bag. 3)Dermatitis Atopik dan Abby (bag.2), Dermatitis Atopik dan Abby bag. 1

Lalu saya mendaftarkan Abby ke dokter Marjuki, yang memang menangani alergi Abby setahun belakangan. Niat terselubung saya waktu mendaftar via telepon adalah cuma pingin minta salep buat kaki dan lehernya saja, karena saya tahu obat minum yang diresepkan oleh dokter harganya lumayan tinggi dan efeknya hanya temporer. Kami pun dipanggil, saya menerangkan kalau gatal di kaki dan lehernya agak parah. Beliau mengamati dengan seksama, dan bilang kalau ini sudah terlalu tebal ruamnya. Lalu memeriksa Abby dengan stetoskop dan menyenter tenggorokan.

“Batuknya sudah berapa lama ini, bu?”, tanya dokter.
“Sekitar seminggu, dok”, saya menjawab.
“Ini nafasnya agak bunyi, pertanda kalau paru-parunya membengkak. Ibu harus perhatikan apakah malam dia batuk atau tidak. Kalau ya, berarti itu sudah serangan asma”, beliau menjelaskan sambil saya masih agak sangsi. Memang pada beberapa kunjungan sebelumnya, dokter mengatakan kalau alergi kulit seperti Abby ini, jika tidak ditangani dengan baik, bisa menjurus ke asma. Saya pikir, Abby hanya batuk pilek biasa. Benar-benar tidak menyangka kalau batuk pileknya berhubungan dengan alergi, karena selama ini saya pikir alergi Abby hanya menyerang kulit.

Dokter seperti biasa menyarankan suntik untuk efek mengurangi gatal dan bengkak di paru lebih cepat. Tapi Abby dari rumah sudah berpesan kalau ia tidak mau disuntik. Semua bujuk dan rayu saya coba tapi tetap tidak berhasil seperti kunjungan sebelumnya. Susah sekali memberinya pengertian untuk suntik karena ia sudah keburu ketakutan dengan bayangan jarum yang akan menembus badannya. Dokter kembali menjelaskan kalau saya tidak boleh menganggap sepele batuk pilek untuk kondisi alergi seperti Abby, serangan asma bisa berakibat fatal jika telat penanganan. Dokter meminta saya untuk memperhatikan batuk pada saat tidur malam, atau ketika Abby mengeluh susah bernafas. Saya tidak boleh menyepelekan keluhan-keluhan kecil Abby jika sudah mengalami batuk pilek. Saya hanya terdiam sambil mengiyakan nasihat dokter, sambil mencoba mencerna apa yang baru saja beliau katakan. Dokter menyarankan Abby untuk diuap, karena tidak mau disuntik, untuk membantu melebarkan jalan pernafasannya. Kami dirujuk ke bagian fisioterapi, dan disarankan untuk nebulizer 3 kali.

Nebulizer

Nebulizer adalah sebuah mesin yang mengubah obat menjadi partikel aerosol sehingga bisa masuk ke pernafasan.

nebulizer-1
Luka garukan di lutut

Ini adalah kali pertama Abby menggunakan nebulizer. Saya menerangkan apa yang akan dihadapinya, bahwa ia akan menggunakan masker yang dihubungan dengan mesin, ia akan menghirup obat yang diubah menjadi uap untuk membantu kelancaran pernafasannya. Awalnya ia santai, tapi ketika namanya dipanggil, ia mulai enggan berjalan ke ruangan dan merajuk karena takut. Bujuk rayu kembali dilancarkan, tetapi ia masih saja takut. Kebetulan ada pasien yang seumuran di ruangan sebelah, yang sedang diuap juga, jadi Abby bisa melihat langsung proses yang akan ia jalani. Abby masih saja takut. Setelah panjang lebar menerangkan kalau proses ini tidak sakit dan segala penjelasan dicoba, akhirnya ia masih dengan enggan mengiyakan. Papa yang akan menemani Abby. Om terapisnya juga sangat membantu menjelaskan proses yang akan dilewati. Butuh waktu penguapan selama kurang lebih 20 menit sampai obatnya habis. Setelah diberitahu bahwa selama 20 menit diuap Abby boleh sambil main Minecraft, semua langsung lancar. Haiih…

nebulizer-2
Lady Darth Vader
nebulizer-3
Langsung oke kalau ada tab

Niat terselubung saya diawal tadi, hilang ditelan penjelasan dokter di ruang praktek. Kamipun menebus obat yang diresepkan dokter. Ada 1 racikan salep, 2 racikan obat minum, dan 1 botol obat sirup. Benar dugaan saya, harga obatnya cukup mahal, tapi demi kesembuhan si boru Tobing, apalah yang tidak akan diusahakan. Masih ada 2 kali lagi tindakan nebulizer yang akan dilakukan. Saya masih mencari tahu lebih banyak soal asma sejak pulang dari dokter kemarin, dan banyak membaca artikel terkait. Semoga saja tidak akan bertambah parah ya, Nang.

Adakah teman-teman yang anaknya juga mengalami hal seperti Abby? Boleh berbagi ya…

7 thoughts on “Pengalaman Pertama Abby dengan Nebulizer

  1. Mbaa, moga boru tobingnya lekas sehat ceria lagii yaa… Kasihan klo anak2 sakit, aku lemas baca ini juga… Gatalnya di lutut ya mba, Kaina jg ada gatal begitu, pakai salep sembuh, skrg gatal lagi, salep lg habis.
    Sehat2 yaa utk semua ^^

  2. Alhamdullah mbak, klo anakku kayaknya nggak pada alergi. Tapi tanganku pernah kena dermatitis atopik…krn detergen. Biasanya aku pake salep chloramfecort h cream mb.. Udah pernah coba mb?

    • Susan says:

      Hai mba sulis…belum pernah merk yg itu mba. Dokternya kasih racikan. Aku kurang berani coba macem2 krn emg kulitnya sensitif banget. Terima kasih tapi sharenya ya..boleh disimpan jadi referensi .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *