Mangokkal Holi, Acara Adat Batak Menggali Tulang Belulang

Mangokkal Holi

Hari yang ditunggu dan direncanakan sekian lama akhirnya datang juga. Keluarga besar Tobing sudah merencanakan acara Mangokkal Holi ini sejak 5 tahun yang lalu, karena ini adalah acara penting yang melibatkan banyak keluarga dan saudara, sehingga perlu dipersiapkan matang-matang. Hari itu, 21 Juni 2014, kami menggali makam Bapak kami, yang berada di daerah Puspiptek, Serpong. Sudah 10 tahun Bapak meninggal karena kalah melawan fisik yang tak lagi kuat dimakan umur. Hari ini, kami keturunannya, anak-anak, menantu-menantu, dan cucu-cucunya memulai acara dengan kebaktian, meminta kepada Sang Pemilik Hidup untuk kelancaran prosesi yang sudah kami rencanakan.

Langit pagi itu cerah, sedikit matahari mencuri lihat dari sela-sela daun rindang. Tenda seadanya menaungi kami untuk sekedar berjaga jika hujan datang dan berlindung dari matahari yang meninggi. Bapak penjaga makam, yang juga membantu menggali, mulai mengeruk tanah merah dengan cangkulnya, berulang kali dilakukan hingga tanah mulai merendah. Sesekali bergantian dengan temannya, yang cekatan menyeka tanah yang menggunung di bibir makam. Rasa canggung, penasaran, gembira, semangat seperti bercampur aduk di hati dan kepala kami. Perlahan tanda-tanda mulai ditemukan, tulang belulang Bapak mulai terlihat. Pakaian yang dipakaikan ketika dikuburkan dulu masih utuh terlihat. Penggali makam diinstruksikan untuk menipiskan tanah disekitar tulang belulang, supaya bisa dilanjutkan oleh kelurga.

mangokkal holi1
Penggalian makam Bapak di Serpong

Dalam adat Batak, sudah diatur siapa yang harus mengambil, menerima, membersihkan, serta melakukan tindakan-tindakan lanjutan lainnya. Kebetulan, saya kebagian untuk menerima tulang tengkorak Bapak yang diambil pihak Boru (anak perempuan) dari liang makam. Saya sebagai menantu yang keturunan Tionghoa, tidak memiliki gambaran apapun untuk acara Mangokkal Holi ini. Saya hanya menyiapkan hati dan membuka pikiran seluas-luasnya, karena dimasa hidup, saya belum sempat berkenalan dengan Bapak. Saya pikir, inilah kesempatan saya untuk melakukan sedikit hal untuk beliau. Rasa haru  adalah rasa pertama yang menyelimuti hati ketika melihat dan menerima tengkorak Bapak yang saya sambut di tangan saya dengan beralasan ulos. Tengkorak Bapak berwarna coklat muda, seperti yang ada di pikiran saya sebelumnya, seperti yang sering saya lihat di serial tv Bones, kesukaan saya. Segala ngeri dan seram tidak sama sekali mengganggu sanubari, dan saya percaya ini berkaitan dengan ruh yang bekerja, rasa kedekatan jiwa yang tidak bisa diukur oleh jarak kasat mata.

Alas kain pada peti yang berwarna putih masih utuh untuk menampung tulang belulang mulai diangkat keatas untuk mempermudah pengambilan. Dan di proses pencarian tulang belulang yang kecil-kecil ini, saya merasakan haru yang mendalam. Melihat tubuh fana kembali bersatu menjadi tanah, kembali ke asal mula, kembali menjadi bukan apa-apa. Para cucu tanpa ragu mengorek tanah berusaha mengumpulkan yang tercecer, dan saya yakin haru juga menyelimuti mereka. Setelah terkumpul, tulang-tulang dibersihkan, dicuci dengan alkohol, dibungkus dengan kain putih dan ulos, lalu diletakkan di peti putih.

Rombongan kami yang berangkat dari Jakarta berjumlah 8 dewasa, dan 7 anak-anak, yang akan bergabung dengan rombongan yang berangkat dari kota lain. Tiket pesawat berangkat sudah dibeli dari bulan Januari 2014. Kami berangkat menggunakan pesawat Citilink, sedangkan peti Bapak diterbangkan dan ditemani oleh Abang kami menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Hanya maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air yang bersedia mengangkut tulang belulang seperti ini, sesuai dengan kebijakan masing-masing maskapai.

mangokal holi2
Penggalian makam Mamak di Tebing Tinggi

Kami terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Kuala Namu. Kami akan menuju ke tanah kelahiran Bapak di Parbubu, Tarutung, yang masih memerlukan perjalanan sekitar 6 jam. Tetapi sebelum itu, kami juga akan menggali makam dan mengambil tulang-belulang Mamak, yang dimakamkan 18 tahun yang lalu di Tebing Tinggi, kota kelahiran dan tempat suami saya tumbuh besar. Semua upacara dan rangkaian acara yang sama kembali dilakukan, kali ini sudah lengkap 8 keturunan Bapak dan Mamak beserta para menantu dan para cucu.

Di waktu yang tidak panjang, acara menuju ke Parbubu, Tarutung pun dimulai. Di bis yang memang sengaja disewa terdapat rombongan yang berjumlah 29 orang. Kami tiba di Parbubu sekitar jam 8 malam, peti putih Bapak dan Mamak diletakkan berdampingan setelah sekian lama terpisah, di bawah sehelai ulos yang menyelimuti mereka. Pagi keesokan harinya, acara adat dimulai dengan kebaktian, bahasa Batak sepenuhnya. Peti Bapak dan Mamak mulai dijinjing di kepala oleh Boru menuju makam permanen yang baru, yang memang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Peti-peti pun dimasukkan ke lubang semen yang berdampingan. Senyap sekiam lama, sampai Pendeta memberikan kesempatan untuk keluarga memberikan kata-kata perpisahan. Saya hanya bisa merasa, hanya bisa mengerti, betapa hati bahagia sekaligus sedih, mengucap terima kasih kepada Bapak dan Mamak, walaupun terkendala dengan bahasa. Saya hanya bisa merasa.

Ini adalah pengalaman luar biasa untuk saya pribadi. Menjadi bagian dari kebudayaan suami yang berdarah Batak, dengan segala keterbatasan yang saya miliki. Saya hanya bersyukur boleh menjadi bagian dari cerita keberagaman dan keindahan budaya Indonesia. Perbedaan yang mempersatukan.

mangokal holi3
Prosesi memasukkan peti ke makam permanen

 

mangokal holi4
Keluarga Besar Tobing

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Aku Cinta Indonesia’ yang diselenggarakan oleh Airpaz.


17 thoughts on “Mangokkal Holi, Acara Adat Batak Menggali Tulang Belulang

  1. wow, liputan yang menarik dan detail loh… Kl saya ikutan acara begini, apalagi ikutan mengambil bagian udah gak inget lagi yg mana yg perlu diceritain *blogger malas*… Semoga menang ya ^_^ Memang banyak banget kebudayaan Indonesia yang mudah2an bisa terus dilestarikan

    • Susan says:

      Terima kasih Kak Ria.. tau sendiri heboh n rusuh2nya kalo berhubungan dengan acara keluarga besar begini kan… 😆😆😆

  2. Airpaz says:

    Tulisan menarik, terimakasih atas partisipasinya dalam lomba blog Airpaz,
    Semoga menang dapat tiket pesawat gratis dari Airpaz yah 🙂

    • Susan says:

      Iya betul mba Santi. Tradisi Batak yang sudah dilakukan ratusan tahun. Membawa kerangka yang ada di rantau pulang ke kampung tanah kelahiran.

  3. Aku ngga akan pernah mangokkal holi sepertinya hihihihi, opung – opung sudah di tmpt peristirahatannya sendiri. Kecuali tar klo kuburannya digusur ma pemerintah hahahhaha.

    Btw, Tarutung itu kampung akuuu loh hahhahaha. Emang sama sih, Tobing juga disitu tinggalnya. Tobing parbubu pula, dunia kita sempit ye daaa hahahhaha.

    • Susan says:

      Isshhh…bisa kenal Roos lewat blogging trus ternyata dari Tarutung jugak… what a small world!!

  4. Budaya Indonesia emang kaya dan banyak sekali, itulah mengapa banyak wisatawan asing kagum sehingga datang berbondong bondong ke Indonesia. Btw unik banget pengalamanya, sukses ya buat lombanya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *