Uang Jajan dan Anak-anak

Uang Jajan dan Anak-anak

Beberapa waktu lalu, artikel saya yang ini terbit di situs Rocking Mama.

5 Hal yang Bisa Kita Ajarkan Kepada Anak-anak Soal Keuangan 

Sewaktu menulis dan menyusun artikel itu saya ingat sekali kejadian tentang uang jajan Abby di awal mulai sekolah dasar setahun lalu. Saya berpikir matang, melakukan pertimbangan ini itu, baca sana sini, tentang memberikan uang jajan pada anak kelas 1 SD. Saya tidak mau Abby jajan sembarangan.  Itu alasan saya. Titik. Semasa duduk di bangku TK, Abby tidak kenal dengan namanya uang jajan, karena memang tidak ada yang berjualan di sekitar sekolah. Saya selalu membawakannya makanan kecil untuk bekal di sekolahnya. Saya pikir, saya bisa lakukan hal yang sama di kelas 1.

Bulan-bulan pertama berjalan lancar. Bekal makanan selalu tidak bersisa. Tetapi memasuki bulan ketiga, muncul pertanyaan dari sang anak umur 7 tahun itu.
 
“Ma, kok temen-temen aku boleh jajan sama mamanya?”
“Mungkin karena Mamanya sibuk, jadi nggak sempat bawain makanan ke sekolah. Jadi diboleh jajan sama Mamanya”
 —
Itu jawaban awal saya. Dan hari-hari berikutnya, muncul lagi pertanyaan-pertanyaan serupa.
 
“Aku boleh nggak jajan juga, Ma?”
“Abby, mau jajan apa? Nanti Mama yang belikan di Indo***, terus Abby bawa ke sekolah. Sama juga kan?”
 —
Pertanyaan dihari-hari berikutnya juga sama, berusaha menggoyahkan keputusan saya untuk tidak memberinya uang jajan. Sampai pada hari, ketika suami mengantarnya ke sekolah. Abby duduk di kursi depan, disamping Papanya. Banyak uang recehan di bagian tengah, diantara dashboard dan gagang perseneling. Ketika setengah jalan menuju sekolah, Abby diam-diam mengambil uang receh tersebut. Suami tidak mungkin tidak melihat, karena posisinya yang memang terbuka, dan bunyi uang receh yang tergeser. Ia mengambil uang seribu rupiah. Ya, seribu rupiah. Suami menegurnya, dan menjelaskan kalau yang Abby lakukan tidak baik.
Sesampainya di rumah, suami menceritakan hal ini kepada saya. Ia bilang kalau ia merasa begitu sedih. Sedih sekali dengan kejadian ini. Karena keinginannya untuk jajan, Abby sampai bisa berpikir untuk mengambil uang diam-diam. Kami duduk dan bicara lama sekali pagi itu. Saya merasa terpukul secara emosional. Sedih. Mungkin cuma seribu rupiah, apalah yang bisa dibeli dengan seribu rupiah. Tapi tindakan yang dilakukan Abby, adalah mencuri. Saya pribadi, menyusun ulang, berpikir runut ke belakang, ternyata idealisme saya tidak berbuah baik. Mati-matian berpegang untuk tidak memberikan uang jajan kepada Abby, atas nama kesehatannya, ternyata berbalas seperti ini.
Lalu, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk datang ke kantin sekolah, melihat apa yang dijual disana, yang direngeknya berkali-kali. Kantin sekolah dikelola oleh sekolah, dengan jargon kantin sehat, saya memperhatikan jajanan apa yang dijual dan masih berada dalam zona jajanan aman menurut saya. Lalu, kami bicara pada Abby, menjelaskan situasi yang terjadi, tentang ia mengambil uang di mobil, dan kenapa saya berubah pikiran soal uang jajan. Kami bertiga bicara. Saya memberikan uang jajan 2 ribu rupiah setiap hari Selasa dan Kamis, dan saya sampai sekarang suka menanyakan apa yang dibelinya di sekolah. Sampai pada beberapa bulan yang lalu, Abby bilang ke saya, kalau semua jajanan di kantin harganya 3 ribu. Jadilah, saya naikkan uang jajannya menjadi 4 ribu, tetap dengan kontrol yang sama.
Uang jajan dan anak2Catatan Untuk Saya Sendiri
  • Idealisme bukan harga mati. Untuk urusan pengasuhan anak, saya rasa idealisme perlu, tetapi sejauh mana kita bisa tetap mengulur dan menarik benang supaya tidak kaku dan tetap berada di koridor yang kita pilih, adalah hal yang masih perlu saya pelajari. Terkadang, kita orang tua yang berpikir harus mengajar ini itu kepada anak-anak. Tetapi, disaat-saat tertentu kita yang seharusnya belajar kepada mereka. Mengingatkan diri bahwa mereka tetaplah anak-anak, yang memang seharusnya bertingkah seperti anak-anak, bukan seperti keinginan kita.
  • Yang diperlukan Abby bukanlah barang atau jajanan. Tetapi, sensasi dan pengalaman bertransaksi dengan uang, yang ia inginkan. Saya harus akui kekakuan saya sebelumnya, dan jika bukan karena insiden uang receh ini, saya mungkin masih memaksakan kehendak saya. Saya harus berbesar hati menerima kekecewaan yang memang saya sendiri yang menjadi sumbernya.
  • Berbesar hati. Mengakui bahwa apa yang direncanakan tidak selalu berjalan mulus, dan bersedia berbesar hati melakukan perbaikan. Kita bukan robot yang berjalan sesuai perintah. Banyak faktor yang mempengaruhi apa yang kita lakukan dan rasakan, yang mungkin tidak bisa kita kontrol atau bahkan tidak termasuk dalam perencanaan kita. Dan jika sesuatu terjadi diluar keinginan dan perencanaan itu, berbesar hati adalah yang harus saya lakukan.

4 thoughts on “Uang Jajan dan Anak-anak

  1. k nonie says:

    Anak lelaki tentu berbeda dengan anak wanita,pd anak wanita naluri berbelanja cendrung di mulai sejak di bangku SD.anak sulung saya Gabie bahkan membelanjakan uang sekolah yg seharusnya di setorkan pada ibu guru kelasnya waktu di bangku SD (saya bahkan menghukum dengan cubitan di pahanya waktu ini krn kesal) akhirnya saya pun memberi uang jajan padanya sesuai kesepakatan kami berdua(saya dan Gabie).
    Pada anak laki-laki saya justru berbeda.uang jajan yg di beri selalu utuh bahkan hilang di kantong karna sibuk bermain bola atau lari-lari di sekolah.kesimpulannya ada naluri belanja wanita yg harus tersalurkan dan tidak di miliki oleh laki-laki😃😃, silahkan di buktikan pada adiknya abbi suatu hari nanti😂😂

  2. emang susah idealis soal uang jajan jika bersekolah di tempat yang membolehkan untuk jajan. pernah ngalamin hal yang sama, si kakak ngambil duit 50ribu dan dikesempatan lain si adik ngambil 10ribu. Bisa jadi karena mereka melihat ada peluang. kebetulan uang yang 50rb itu di taruh di dalam tas di luar dompet dalam kondisi terkucel-kucel dan yang 10rb ditaruh di mobil. Sedihnya. Sejak kejadian itu lebih berhati-hati naruh duit dan mereka pun kayaknya udah gak mengulang lagi.

    • Bener mba. Kalo sekolah support emang gausah ada kantin di sekolah. Minimal sampe SMP sekalian. Tapi nggak semua ortu setuju juga pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *