Lebih Berarti, Mengarung Mimpi

PicsArt_02-13-10.21.26-1

Roti adalah makanan kedua kami setelah nasi. Konsumsi roti kami khususnya untuk saya dan Abby ada di level yang cukup tinggi. Kami berdua sering mengisi sarapan dengan roti sehingga stok roti tawar selalu ada di kulkas. Begitu juga untuk cemilan sore untuk Abby setelah pulang bermain. Sudah beberapa lama memilih, kami cocok dengan roti yang dijual Mas Kardi. Beliau berjualan roti dari tahun 2005, dengan setia mengambil roti di tempat produksi yang jaraknya lumayan jauh dari komplek saya. Beliau berasal dari Purwokerto, mencoba peruntungan di kota besar karena minimnya peluang kerja di tempat asalnya. Beliau biasanya pulang ke kampung sekali dalam dua bulan, untuk melepas rindu pada keluarga dan memberikan hasil kerja kerasnya di Jakarta. Setelah 10 tahun lebih menjadi pedagang roti keliling, beliau berkeinginan untuk mencoba membuat rotinya sendiri. “Saya sudah mulai coba buat roti sendiri, Bu, banyak juga yang suka. Kalau modal bisa lebih besar, saya mau serius jualan roti saya sendiri.”, ceritanya pada saya penuh harap.

PicsArt_02-13-11.32.47

Hari ini, saya melihat Pak Taufik di dekat pos satpam, tempat beliau biasa mangkal. Seperti hari lainnya, pakaiannya sederhana, wajahnya tetap semangat. Datang dari kampungnya di Tegal pada tahun 1999 ke Bekasi mengadu nasib karena tidak punya tanah untuk bertani, berharap riuhnya kota besar membawa masa depan lebih menjanjikan. Menarik becak adalah pekerjaan utama Pak Taufik. Tetapi, banyak sekali orang komplek saya yang memakai jasanya untuk dimintai tolong belanja, membersihkan rumput liar, mengantar jemput anak les, membersihkan got, atau apapun. Beliau dengan sigap dan tidak pernah sungkan membantu. Saya sendiri kadang mengandalkan Pak Taufik untuk hal-hal yang kecil  tetapi sangat krusial. Salah satu pengalaman saya ketika hamil tua, siang hari di rumah hanya berdua dengan Abby, dan air galon di dispenser habis, saya tidak mungkin mengangkat galon seperti biasa saya lakukan dalam situasi normal.  Pak Taufik adalah orang pertama yang ada di kepala saya, saya telpon dan memintanya ke rumah.
“Kenapa, bu? Mau lahiran yaaa?”
“Hehehe, belum pak. Saya cuma minta tolong angkatin galon…”
Hal sesederhana itu pun ia dengan senang membantu. Kami lumayan sering ngobrol karena seringnya saya ‘merepotkan’ beliau. Beberapa kali kami mengobrol ketika ia mengantar saya ke tukang urut bayi, bahwa ia ingin sekali tinggal di kampung, membeli truk bekas untuk mengangkut pasir. Betapa ia berapi-api menceritakan kampungnya yang menjadi pertemuan 3 sungai besar sehingga penambangan pasir kali merupakan peluang usaha yang menurutnya menjanjikan. Tapi sementara harapan itu dirajut, bekerja serabutan seperti sekarang juga sudah disyukurinya, bisa menghidupi istri dan 3 anaknya di kampung.

PicsArt_02-13-06.17.09-1

Pak Sukardi, 50 tahun, asal Pekalongan ini, sudah menginjakkan kaki di kota Bekasi sejak tahun 1987. Tergiur dengan ajakan teman-teman sekampung yang mencoba peruntungan di kota besar, ia pun ikut berjualan sayur dengan modal seadanya. Saya bertanya pada beliau apa yang akan beliau lakukan jika ada modal. Harapannya tidak muluk-muluk, beliau ingin memperbesar jualan sayurnya, membeli alat parut kelapa, dan memodifikasi gerobaknya dengan menggunakan motor, supaya lebih efisien. Istri Pak Sukardi sudah beberapa tahun ini terbaring sakit, pendapatan yang tadinya dobel, karena sang istri juga bekerja menjadi buruh cuci dan setrika, kini ditanggung sendiri oleh Pak Sukardi, sambil harus mengurus istrinya sebelum berangkat jualan. “Saya yang penting sehat, Bu, supaya bisa jualan dan jagain istri.”, matanya sendu menatap gerobak sayurnya.

Ketiga profesi diatas mungkin sering kita anggap kecil, tetapi untuk saya, mereka amat sangat membantu dalam keseharian saya. Betapa mereka tetap memiliki semangat dalam keterbatasan mereka masing-masing, dengan cerita mereka masing-masing. Kegigihan mereka dalam menjalani hidup saya rasa adalah modal yang cukup untuk membangun mimpi mereka. Kesempatan dan bimbingan yang mungkin paling dibutuhkan orang-orang di daerah, sehingga mereka tidak melulu tergiur untuk datang ke kota besar.

Bank BTPN Sinaya (Sinar yang Memberdayakan) dapat mewujudkan mimpi-mimpi tersebut diatas. Orang-orang seperti Pak Taufik, Mas Kardi, dan Pak Sukardi ini memang butuh sekali program Daya seperti yang dimiliki bank BTPN, sehingga mereka bisa mengembangkan usaha dan rencana mereka. Dengan menabung di BTPN Sinaya, kita juga secara tidak langsung  membantu banyak usaha kecil menengah karena BTPN Sinaya mengelola dan menyalurkan dana yang kita tabung untuk pengembangan usaha kecil dan menengah. Pemberdayaan pelaku seperti ini yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, karena sebenarnya mereka bisa membangun daerah mereka sendiri tanpa harus tergiur oleh iming-iming urbanisasi dan silau oleh janji-janji di kota besar. Berikut bagaimana kita bisa berperan serta dalam memajukan mass market. Simulasi menabung Taseto, yaitu tabungan berjangka di BTPN Sinaya.

Langkah 1 (2)

Jadi, selain kita menabung untuk keperluan kita sendiri, mengapa tidak kita ikut membangun bangsa dengan memberdayakan mass market? Semoga banyak wirausahawan negeri yang siapa tahu bisa menembus pasar internasional, membawa harum nama Indonesia. Maju terus, anak bangsa…

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Penulisan Blog BTPN,

Terima Kasih Mass Market.

5 thoughts on “Lebih Berarti, Mengarung Mimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *