Dermatitis Atopik dan Abby bag. 1

PhotoGrid_1455194589097-1Dermatitis Atopik dan Abby – 5 Februari 2016. Abby, 7 tahun, menderita alergi kulit di tahap yang sudah mengganggu. Dia menderita dermatitis atopik atau eksim, dengan gejala kulit kering bersisik, gatal pada daerah lipatan, kulit menebal dan merah, bahkan cenderung abu-abu jika sudah parah. Dan minggu belakangan ini, lipatan kaki, tangan, dan lehernya mulai luka dan basah karena terlalu sering di garuk. Obat anti histamin yang diminumnya hanya boleh di berikan 2 kali sehari, pagi dan malam. Saya sudah patah arang membujuknya dan membantunya mengusap dan tidak menggaruk, tetapi gatal yang tidak tertahankan membuat seluruh badannya lecet-lecet akibat digaruk. “Gatel Ma…rasanya kayak ada semut-semut kecil di badanku”. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa membantunya menggaruk ala kadarnya sambil menghela napas membayangkan apa yang sedang dirasakannya. Tidur malamnya pun terganggu, ia tidak bisa tidur nyenyak karena gatalnya masih suka membuatnya terbangun, sampai sekarang.

Dari umur 6 bulan, sejak mulai MPASI, reaksi terhadap beberapa makanan memang mudah sekali terlihat. Langsung setelah makan, di wajah dan badannya akan muncul bintik-buntik kemerahan. Di umur 2 tahun, sempat dilakukan skin prick test untuk mengetahui apa saja yang bisa memicu alerginya. Hasilnya, putih telur 3+, kuning telur 2+, kacang kedelai 1+. Artinya, Abby harus menghindari makanan yang mengandung bahan itu sedapat mungkin jika tidak ingin alerginya terpicu. Dokter menerangkan karena ia masih 2 tahun, seiring waktu daya tahan tubuhnya meningkat, ia akan lebih toleran terhadap bahan ini.

PhotoGrid_1455193386915Seiring bertambahnya umur Abby, reaksi alergi tidak langsung terjadi seperti waktu ia kecil dulu, tetapi baru mulai gatal pada saat malam sebelum tidur. Daerah gatal pun sudah tidak lagi spesifik, dari muka, tangan, kaki, punggung, kepala, semuanya gatal. Kalau masih dalam derajat ringan, luka lecet masih bersifat kering dan akhirnya sembuh dalam waktu 2-3 hari. Tetapi ada waktu dimana serangan gatal sedang parah, dia tidak bisa berhenti menggaruk sampai lipatan di kakinya memerah hingga ke abu-abu, basah, dan perih.

Kemarin kami membawanya ke klinik asma dan alergi Indrajana di Tanah Abang. Disana kami bertemu dengan dokter Juliana Josepha. Abby benar didiagnosa Dermatitis Atopik. Dokter menganjurkan untuk tes alergi untuk mengetahui penyebab alergi, tetapi kemarin tidak bisa dilakukan karena kondisi kulit yang masih parah dan Abby masih mengkonsumsi anti histamin semalam. Skin Prick Test ini bisa dilakukan jika kulit dalam keadaan normal dan tubuh bebas anti histamin dalam 5-7 hari. Hasil tes waktu umur 2 tahun tidak lagi dapat dijadikan acuan karena Abby masih terlalu kecil dan tidak lagi akurat. Abby diresepkan obat Aerius, puyer, dan krim Pure Baby. Saya harus menjaga kelembaban kulit abby dengan banyak memberinya minum, makan sayur dan mengoleskan krim pelembab, serta menghindari pemicu alergi. Kami harus kembali datang untuk melakukan tes alergi kalau kulitnya sudah normal.

Total biaya:

Daftar pasien baru: 30.000

Konsul dokter: 200.000

Obat: 253.000

Hari ini 11 Februari, kondisi kulitnya sudah jauh membaik daripada gambar diatas. Obat puyer sudah habis, tetapi gatal-gatal masih menyerang dalam level lumayan, biasanya setelah pulang dari main dan bangun tidur. Untuk sementara, memberikan krim dan anti histamin lumayan membantu. Melihat kondisi kulitnya yang masih kasar, saya rasa masih butuh beberapa waktu lagi untuk bisa melakukan tes alergi. Cepat sembuh, ya Nang.

Home, 11 Februari 2016

25 thoughts on “Dermatitis Atopik dan Abby bag. 1

  1. Duh..duh… aku baca ini jadi ingat waktu Raniah, anakku gatal-gatal parah sampai luka di mana-mana (bekasnya ada sampai skrg). Ke dokter berkali-kali, ternyata waktu itu gak sengaja (karena udah nyaris putus-asa) diborehi daun sambiloto. Ini daun biasa buat obat sakit diabetes. Eh..ternyata sembuh. Sekarang kadang kambuh dalam level rendah, kalau dia minum susu agak lebih sering (biasanya sebulan 1-2 kali aja aku bolehin) dan makan protein hewani lainnya lebih sering. Kadang kasihan juga … tapi mau bagaimana lagi. Tubuhnya mau itu…

    • Susan says:

      Iya, mba Wid. Kasihan kalau kambuh sampe tebel banget kulitnya. Perih dan merah2 gitu.
      Daun sambiloto ya…aku belum pernah cobain ke Abby sih. Boleh nih disimpan ilmunya. Terima kasih ya..

  2. Kenapa mahalll banget sihhhh adohhhhh huhuhuhu. Mba coba main ke blog aku dan search Bio-Oil deh, mamaku juga punya masalah dengan eksim, tapi aku ngga tau seberapa parah. Trus mama pake Bio-Oil dan sekarang ngga pernah gatel – gatel lagi. Mungkin bisa membantu untuk Abby, paling ngga untuk menyamarkan bekas luka dan pigmentasi kulitnya.

  3. Hallo Mama Abby,

    Semoga Abby semakin membaik keadaannya. Luar biasa mama dan papanya penuh sabar dan kasih. Abby sayang mudah-mudahan semakin hari semakin kuat ya.

    Salam hangat,
    Zia

  4. dulu aku juga alergi gatel2 bgini.. tapi kayaknya ga separah abby sih :(.. tiap makan seafood dan telur lgs kambuh.. cuma, setelah dewasa ilang sih mbak.. skr ga pernah ada masalah mau makan seafood ato telur..

  5. andara says:

    coba pake salep elocon san, cpet ngilangin gatel bruntus dikulit. cpet sembuh ya sayangnya tante… πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

  6. Aya, anak saya yang pertama juga seperti itu dari bayi, bolak-balik ke dokter. Sampai umur setahun, juga bolak balik ganti susu. Semua yang mengandung telur, seafood, MSG dihindari. Terparah kena di leher, bernanah mengerikan umur 5tahun. Sekarang alhamdulillah udah umur 11 tahun, sudah semakin kebal. Makan telur dan seafood sudah gak apa-apa lagi.

  7. dqwian says:

    Kebayang mba rasanya. Di gigit nyamuk aja, ak garuk sampe agak lecet.
    Cepat sembuh ya Abby…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *