Tantangan #40haritakteriak – Bag. 1

kids

Ini adalah tantangan dari sebuah grup parenting yang saya ikuti. Saya meminta ijin kepada Opa Dono sebagai pengasuh grup tersebut untuk menautkan beberapa artikel kesini, tapi mungkin karena kesibukannya, permintaan saya belum ditanggapi. Jadi untuk teman-teman yang ingin membaca artikel lebih jauh, silahkan search di FB, ‘Dono Baswardono Parenting’, dan search di grup tersebut #40haritakteriak.

Hari ini tanggal 28 Okt 2015, saya membulatkan tekad untuk mencoba tantangan #40haritakberteriak. Dari artikel dan komentar yang diposting di grup itu, rupanya banyak juga kasus seperti saya. Barisan ibu-ibu tukang teriak-teriak kepada anaknya. Semua dengan kasus yang sama, anak-anak seperti sengaja, menantang mamanya, yang kebetulan lagi tipis sekali stok sabarnya. How it makes me feel like I’m a monster. Biasanya yang menjadi lawan adalah anak pertama, di usia 4 – 7 tahun. Ketika ibunya sibuk dengan urusan perintilan bayi maupun pekerjaan rumah, si kakak yang kurang perhatian, minta jatah untuk di perhatikan.

Saya menyadari hal ini sudah beberapa lama sejak adiknya lahir, kakak yang tadinya menjadi curahan perhatian, seperti dinomorduakan karena kehadiran bayi yang perlu perhatian ekstra. Saya sadar saya sering marah. Saya merasa sering sekali dipancing emosinya, entah cuma karena urusan mandi atau makan, mainan, ataupun hal lainnya. Ia yang dipersiapkan mandiri, rupanya memang masih pingin dimanja-manja. Ada beberapa momen dimana akhirnya saya yang menangis, karena saya merasa sudah tidak tahu lagi harus apa. Bicara baik dan marah pun sudah tidak di dengar, jadi saya cuma menangis. Ia melihat saya menangis, dan saya mengakui kalau saya sedih dan sudah tidak tahu lagi harus bagaimana memintanya mandi (kasus waktu itu).

Di penghujung hari, ketika melihatnya tertidur. Rasa bersalah membanjiri hati dengan tak kenal peri. Kasihan si kakak. Saya harus lakukan sesuatu. Saya tidak mau marah2 dan teriak2 lagi. Lalu, saya ingat tantangan #40haritakberteriak, dan membongkar tulisan2 lama di grup tentang ini.
Beberapa saya berikan link-nya, silahkan telusuri.

Ini baru hari kedua, saya merasakan beratnya dan saya juga mulai merasakan efeknya. Saya ingat tekad saya ketika memulai ini, dan mengingat wajah kakak ketika tidur.

Hari ke-5
Saya kategorikan sebagai hari yang buruk. Drama dengan Abby biasanya ada di acara bangun pagi, acara siang waktu jam belajar, atau acara mandi sore. Hari ini drama berlangsung di siang hari, jam bikin pr. Setengah dua adalah jam selesai nonton tv. Jeda 30 menit sambil mempersiapkan pr dan melongok buku agenda dari sekolah. Jam 2 siang saya memintanya mulai mengerjakan pr. Tapi mood belajarnya kurang baik, alasan gatal dan panas, serta tingkah yang melemas2kan diri, melambatkan gerak, serta menunda2 memulai adalah sekian banyak dalih yang saya rasa digunakan untuk ‘menantang’ saya. Saya masih tahan. Saya ajak untuk pindah membawa meja dan kursi belajarnya ke kamar supaya lebih adem. Tetapi gejala yang ditunjukkan tetap sama. Sementara bayi di gendongan meronta-ronta kebosanan sewaktu saya duduk menemani Abby. Ia masih marah2, kesal, dan menghadapi kertas pr nya. Tidak ada satu pertanyaanpun yang bisa dimengertinya karena suasana hatinya yang begitu.
“Sudah Bi..kita nggak usah bikin pr dulu. Mama nggak suka cara Abby yang malas-malasan dan marah-marah. Bikin Mama mau marah juga. Daripada begitu, mending Abby menggambar dulu sampe nanti hatinya kembali senang dan sore nanti baru kita bikin pr.”
“Nggakk ma…aku mau bikin pr sekarang..”, sambil marah.

Saya mulai panas, dan memutuskan keluar kamar untuk sekedar mengambil jeda menenangkan diri, makan ubi ungu yang saya rebus pagi tadi. Peristiwa sebenarnya lebih dramatis dari ini tapi demi nama kepositifan, saya tidak lengkapi. Tapi saya berpikir di waktu saya menyingkir, mencari tau apa yang salah, dan menenangkan hati yang dilanda kesal.

Hari ke-6
Saya gagal.
Ah sedih menceritakannya kembali. Biar saja mulai lagi dari hari pertama.

6 thoughts on “Tantangan #40haritakteriak – Bag. 1

  1. nana says:

    aku bs membayangkan mak..ini aku satu aja sering mau teriak rasanya. tp kutahan2,,soalnya yg sudah2 kalau aku teriak dia justru melawan. jadi aku yg ngalah ganti strategi.

    • Good for you mak. Harus pinter cari celah dan menguasai diri biar gak terus2an teriak.. semoga berhasil ya kitaa…
      terima kasih sudah mampir…;)

  2. Jangankan punya anak dua ya mbak. Punya anak 1 usia 2tahunan tantangannya ini berat banget sepertinya. Itulah aku rasa ragu ikutin parenting seperti ini. Takut kedet sendiri merasa gagal. Hiks

    • Iya..jadi plus minus sih ikut grup begini. Satu sisi jd nambah ilmu, satu sisi jadi seperti cambuk kalo kita nggak seperti yang dibilang di artikel.
      Tapi semua bisa diambil positifnya aja mba.. itung-itung modal belajar.
      Tetap semangat yaaa…

  3. Ah. Itu emang tantangan banget ya mbak.
    kadang habis memarahi si bocah, ada perasaan bersalah menggelayut. apalagi kalau lihat mata polos mereka. bikin mbrebes mili :'(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *