Kunjungan Perdana ke Kantor Pos Indonesia

slide1-1

Di jaman sekarang, orang-orang di kota besar yang sudah mudah sekali menjangkau internet, rasanya sudah tidak lagi mengenal kantor pos. Di masa ketika jarak bukan lagi menjadi hambatan untuk berkomunikasi, surat dalam bentuk fisik sudah jauh ditinggalkan dengan pertimbangan waktu yang tidak efisien.

Dengan internet, jarak tidak lagi berarti, dalam ujung ketukan pada layar telepon genggam, pesan sudah bisa dibaca oleh teman atau kerabat yang berada di belahan dunia manapun. Di masa SMA dulu, saya pernah bergabung dengan suatu wadah pertemanan yang bernama IPF (International Pen Friends), dimana saya mendapat list teman-teman yang bergabung dan kami bisa saling berkirim surat. Saya pernah mendapat surat dari teman di Hong Kong, Malaysia, dan Australia. (Eits…FB versi manual rupanya). Saya juga kerap berkirim surat dengan teman SMP yang melanjutkan sekolah ke kota lain. Kantor pos adalah satu tempat yang sering dan senang sekali saya datangi. Menunggu balasan surat dan mendapatkan surat merupakan keasyikan sendiri. Lama sekali sudah rasanya rasa itu menghilang bersama kecanggihan komunikasi.

Beberapa waktu lalu seorang teman yang tinggal di Belanda menanyakan alamat rumah, rupanya di komunitas Brur N Suzs (komunitas untuk bernostalgia kenangan di tahun 80-90an) sudah aktif menggalakkan saling berkirim kartu pos untuk sesama anggota yang tersebar di seluruh belahan dunia. Walaupun suami sebenarnya yang menjadi member komunitas ini kok rasanya tidak afdol jika kita dikirimi tapi tidak mengirim balik. Jadi berinisiatiflah saya untuk juga mengirimkan sesuatu kepada teman yang belum pernah kami jumpai secara fisik.

Lalu, saya menceritakan hal pengiriman kartu pos dan langkah-langkahnya kepada Abby. Kami memutuskan untuk membuat kartu pos sendiri, Abby akan menggambar di kartu dan mengirimkan kepada sepupunya di Serpong. Tibalah waktu untuk pergi ke kantor pos yang kebetulan tidak jauh dari rumah kami. Dia terlihat bingung sekaligus semangat ketika kami sampai di kantor pos. Saya memberi tahu Abby kalau kita harus membeli perangko untuk ditempel dikartu, supaya kartu bisa sampai di tempat sepupunya. Dia bingung, bertanya siapa nanti yang mengantarkan kartu ke rumah Bram di Serpong. Bertanya dimanakah Belanda. Bagaimana kartu pos bisa sampai ke tempat yang begitu jauh. Hal-hal yang memancing rasa ingin tahunya, dan saya pun menjawabnya satu per satu.

Pengalaman ini saya pikir adalah pengalaman yang berharga dan patut diabadikan, karena mungkin di jaman ia dewasa kelak, perangko dan kartu pos mungkin hanya bisa dilihat di museum.

PhotoGrid_1443240366886

Kebetulan hari ini kartu pos yang dari Belanda sampai di rumah. Dan mengertilah ia, proses pengiriman yang kami lakukan kemarin.

Special Thanks to Yanti Niels-Lubis for the postcard.

5 thoughts on “Kunjungan Perdana ke Kantor Pos Indonesia

  1. salam kenal mb ๐Ÿ™‚
    seru ya jalan-jalan ke Kantor Pos. Jaman sekarang Kantor Pos udah mulai ditinggalkan, ya..seperti pada lebih nyaman memakai jasa kurir swasta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *