Bersamamu…

546905_10150723739204630_815274629_9294017_17638507_n

Hari ini, aku terbangun ketika matahari masih terbungkus kelam. Mengunggah logika untuk sedikit sadar akan waktu. Cuma terdengar suara malam yang sayup-sayup menyusup dari jendela kamar. Sakit kepalaku masih tetap mencengkram seperti malam-malam sebelumnya. Tidak mempan juga resep obat dari dokter yang kukunjungi seminggu lalu. Tak ada yang serius, mungkin stres saja menurutnya. Bau rokok dan apek kamar sudah tak lagi menusuk hidungku. 

Entah sudah berapa lama kamar ini terakhir dibersihkan oleh Mbak Jumi, tak ingat lagi aku. Tak peduli juga aku.

Aku mencoba kembali tidur. Rasanya iblis penguasa jiwaku masih saja menarikan tarian kemenangan. Tak kenal lelah mereka membuatku mencabik-cabik hatiku sendiri.

Ah, lumayan kali ini…sudah jam 6. Sakit kepalaku sedikit berkurang setelah mandi barusan. Matahari mulai menyembul dari sudut tirai kamarku. Rokok yang menjadi sarapanku tiap pagi sudah memasuki puntung kedua. Aku cari pakaian yang masih belum begitu bau dan jeans belel yang masih saja menjadi kesayanganku.

“Kenapa sih seneng banget pakai jeans belel robek begitu, Di?”, tanyamu.

“Lohh..justru disini kerennya kan, sayang…?”

“Keren sih keren, tapi jangan tiap hari kali dipakenya tuh celana…bauuukkk tauuukkk!”, katamu sambil mencium pipiku.

Senyummu selalu bisa meruntuhkan segala kecewa dan iblisku. Mengawali hari dengan berbincang ringan denganmu seperti suntikan adrenalin buatku sepanjang hari.

Motor kupanaskan sambil kuhisap rokokku yang tinggal sedikit. Mengikat sepatu kets yang juga pasti kamu protes keberadaannya. Tetangga yang lewat sesekali menyapa, entah basa basi atau serius, sudah juga tidak kuperhatikan. Hanya kubalas dengan anggukan atau senyum terpaksa.

Jalanan agak sepi karena hari ini, sepanjang jalan kulihat orang sibuk dengan kegiatannya sendiri.

“Lihat, Di… pohon itu bertahun-tahun tidak pernah mengeluh diterpa hujan dan panas, dan tetap tegar berdiri…”, katamu. Dan aku hanya mengangguk di balik helm.

“Di…kok diam aja sih?”, katamu lagi.

“Aku kan dengerin kamu dari tadi…”, ujarku membela diri. Tanganmu tak lepas dari pinggangku, dan aku pun tak ingin kamu melepaskannya.

“Kita harus kuat seperti pohon tadi ya, Di..”, suaramu bersih kudengar di telinga kiriku. Aku genggam telapak tanganmu di perutku kencang.

Banyak sekali rasanya cinta yang mengalir di dadaku untuk kamu, menjalar melalui genggaman tanganku. Kalau saja rasa ini bisa terlihat, energi positif ini bisa jadi memerah seperti darah yang mengalir deras.

Angin menerpa wajahku kencang. Aku masih tak peduli. Aku hanya peduli adanya dirimu bersamaku. Pagi menjadi semakin siang. Perjalanan ini masih setengah jalan. Pohon-pohon rindang masih menaungi kita dari sinar matahari yang mulai tajam.

Aku memutuskan berhenti sebentar di warung kopi yang tidan begiti ramai. Kunyalakan rokokku membuatmu kembali protes.

“Katanya mau berhenti…”, ucapnya memelas tapi tetap tegas. Aku hanya senyum. Aku memesan kopi hitam dan mie instan menjadi sarapanku. Tak ada yang bisa mengalahkan trio kombinasi ini di seantero jagad. Tidak banyak pengunjung di warung kopi ini, hanya dua orang bapak yang tampaknya akrab bicara soal politik kekinian versi mereka sendiri.

Mas penjaga warung pun hanya mesem-mesem mendengar komentar mereka. Aku tidak peduli politik, aku tidak peduli masalah kekinian. Tak peduli apapun. Aku duduk di ujung kursi panjang menatapi gelas kopi yang masih setengah. Mie instanku sudah ludes dari beberapa menit lalu.

“Ayok kita jalan lagi…”, pintamu, dan kubayar mas penjaga warung kopi tadi. Matahari makin garang bersinar, membuat kulit pun semakin gusar.

Kulaju motor melewati beberapa mobil pengangkut sayuran. Ah, jalan ini selalu membuatku tenang dan netral, bersamamu menyusuri setiap jengkal jarak, mengembalikan otak dan hatiku ke tempat yang seharusnya.

Pintu gerbang putih itu masih sama seperti setahun lalu, dengan karat di ujung kanan, dan tulisan tangan iseng masih terpampang jelas. Kuhirup udara siang itu dalam-dalam, kusesapi setiap tarikan dan hembusan nafasku dengan seluruh jiwa. Kususuri petak jalan kecil itu, bunga kamboja memberikan senyum indahnya menyambutku.

“Selamat ulang tahun, sayang….aku rindu sekali sama kamu…”, ucapku bergetar.

Kuletakkan bunga mawar putih yang menjadi kesukaanmu, diatas pusara yang bertuliskan namamu.

“Aku juga rindu, Di…”, kudengar suaramu perlahan pupus ditiup angin siang.

Home, 5 Sept 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *