Membawa Bayi ke Rumah Ibadah

GPIB Immanuel, Jakarta

*Photo by Dennis J Gaspersz

Saya adalah ibu dengan anak perempuan 7 tahun, Abby dan bayi 4 bulan bernama Nolan, yang saya beri full ASI. Saya tidak memiliki baby sitter untuk membantu mengurus mereka, hanya dibantu Novi, ART yang pulang hari, yang memang saya kondisikan cuma untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Jadi, semenjak kelahiran Nolan April lalu, saya memutuskan berhenti sementara untuk mengikuti kegiatan gereja, termasuk ibadah rutin hari Minggu.

Saya secara pribadi memilih demikian karena beberapa pertimbangan,

  1. Kondisi yang masih belum pulih pasca melahirkan

Mungkin 40 hari adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan kondisi tubuh, tapi percaya deh, di umur 35 begini, rasanya sampai sekarang badan rasanya masih belum 100%.

  1. Mood bayi yang tidak terduga

Terberkatilah orang tua yang diberikan bayi yang tidak rewel, menangisnya lembut, dan bisa dibawa kemana-mana tanpa drama berlebih. Abby waktu bayi menangis dengan baik dan heboh, dan sekarang Nolan pun rasanya tidak jauh berbeda.

  1. Saya tidak memerah ASI, jadi kemana saya pergi, disitu ada bayi

Saya adalah ibu rumah tangga penuh waktu, saya tidak mempertimbangkan memerah ASI, jadi kemana saya pergi, Nolan selalu ikut. Urusan kadang menjadi ribet karena tidak semua tempat menyediakan ruang menyusui, begitu pun di tempat ibadah.

  1. Beribadah adalah urusan pribadi dan Tuhan.

Kita sendiri yang tahu bagaimana secara pribadi dan personal membangun hubungan dengan Sang Pencipta. Pergi ke gereja untuk saya adalah hadir secara utuh jasmani dan rohani, menyiapkan hati sepenuhnya untuk memuji dan menyembah Tuhan saya, bukan cuma sekedar seremonial, bukan cuma sekedar datang, atau bahkan bukan cuma karena pengin eksis. Jadi, daripada saya rusuh sendiri di gereja dan mengganggu orang lain yang datang dengan tujuan seperti saya tadi, mending saya beribadah di rumah, walaupun rasa tenang berada dalam ruang gereja, menyanyi, memuji, mendengar khotbah, dan lainnya tidak saya peroleh. Tapi saya memilih tidak beribadah dulu, sampai saya pikir saya siap dan bayi saya bisa lebih mengerti situasi sehingga dampak negatif bisa di minimalisir.

Untuk Abby, kebetulan jadual sekolah Minggu diadakan sebelum ibadah dimulai, jadi saya masih bisa mengantar dan menjemputnya, sehingga kegiatan ibadahnya tidak terganggu. Mungkin ada juga teman-teman yang tetap bisa membawa bayinya ke gereja tanpa drama yang berarti, atau mungkin saya yang terlalu paranoid, bagaimana pun juga, saya menginginkan ibadah saya sendiri boleh menjadi berarti dan bermakna, bebas dari gangguan luar, bahkan dari sekedar tangisan bayi saya sendiri. Egois? Ya, terdengar demikian, tapi begitu nyatanya untuk saya. Di rumah, saya bisa menyiapkan waktu dan hati saya, mencari waktu yang tepat, memberikan waktu teduh untuk diri sendiri, walaupun jamnya tidak menentu, tapi saya merasa lebih tenang dan dekat dengan Sang Pemilik Hidup.

Saya menulis dalam lingkup gereja sebagai rumah ibadah saya, jadi saya tidak mengetahui bagaimana dengan peraturan dan kondisi di rumah ibadah lain, boleh kiranya para sahabat berbagi cerita.

3 thoughts on “Membawa Bayi ke Rumah Ibadah

  1. Hai mb..
    Kalau saya bawa Luna ke gereja sejak usia 2 bulan. Kalau mau nyusuin bawa ke gedung sebelah. Kalau enggak ya, tutupin pake selendang. :)))) Syukurlah, sampai sekarang dia selalu anteng tiap ke gereja. Enggak pernah rewel minta keluar. Paling ngesot2 di lantai sambil ngemil jajanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *