Maaf

im-sorry

Kata yang kalau dipikir-pikir, mungkin percuma saat diucapkan, karena semua sudah terlanjur terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mencegah sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi. Ya, yang seharusnya mungkin tidak perlu terjadi.

Membaca situasi dengan pintar memang tidak ada rumus bakunya. Kebiasaan, pikiran yang sehat, ataupun kejelian menjadi modal bagaimana kita pintar menjaga tutur dan ucap pada sebuah keadaan. Mungkin hanya sekedar bercanda, melontarkan apa yang terlintas di kepala, atau bahkan tanggapan dangkal makna. Tapi semua bisa runyam kalau kita tidak pintar-pintar membaca suasana. Tidak perlu banyak ketrampilan sebenarnya, hanya perlu memilah apa yang akan diucap.

Kata maaf boleh jadi percuma atau bisa jadi tak bermakna, tapi bukankah dampak ‘aftermath’ adalah justru yang terparah. Maaf bisa jadi kata untuk meredam emosi bagi orang yang terdampak, juga bisa mengurangi beban yang menyumbat dada bagi orang yang memberi dampak, serta adalah awal untuk pintu perbaikan Ibarat bencana alam yang meluluhlantakkan bumi, maaf adalah posko. Sebuah tempat dimana yang bertahan, tersisa, dikumpulkan dan bangkit dari apa yang dilewati Maaf bukanlah tanpa makna. Maaf adalah awal kebangkitan. Awal perubahan menjadi lebih baik, untuk bangkit dari keterpurukan.

Rumah, 18 Januari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *