Tanpa Kata

family

Dua hari belakangan, portal berita yang sering saya kunjungi, tak henti-hentinya meng-update berita tentang pembunuhan seorang perempuan berusia 19 tahun. Ditemukan di pinggir jalan tol, dan ternyata dibunuh oleh sang mantan pacar dan kekasih barunya. Saya tak habis pikir, tak kunjung menemukan kata-kata untuk menggambarkan situasi ini.

Walaupun saya tidak ada hubungan apa-apa dengan korban, tapi rasanya sebagai ibu, saya merasa perih dan sedih sesedih sedihnya. Gadis cantik, anak satu-satunya, sedang ranum menjalani hidup, jalan panjang membentang menanti, harus tewas dengan cara yang sungguh mengenaskan, dengan motif yang rasanya konyol sekali untuk di dengar. Cemburu. Owalah… betapa kelu rasanya lidah mengucap.

Pikiran saya menerawang kepada keluarga yang ditinggalkan.

Hancur lebur tak bersisa pasti hati kedua orang tuanya. Saya sendiri memiliki satu anak perempuan yang berusia 5 tahun, dan tak terbayang apa rasanya kehilangan anak dengan cara sedemikian keji. Apakah hati sanggup, apakah diri mampu, menjalani sisa umur?  Apakah jiwa sanggup bertahan? Apakah hati sanggup memaafkan?

Menghakimi sang pelaku pun, rasanya tak bisa mengurangi rasa sedih yang mendera. Lalu, pikiran pun juga terbang kepada orang tua kedua pelaku. Saya yakin setiap orang tua berharap anak-anaknya menjadi orang baik, dan apalah yang dirasa orang tua pelaku sekarang, saya yakin, tak kalah hancur hati seperti yang dialami orang tua korban. Kecewa rasanya tidak cukup mewakili kata.

Cuma Sang Punya Hidup yang bisa dijadikan sandaran di saat seperti ini. Terlepas dari betapa tidak adilnya hal ini terjadi pada hidup. Terlepas dari ketidaksanggupan logika menerima takdir. Hanya Yang Maha Kasih-lah yang mampu menguatkan diri.

—-

Menjadi orang tua di jaman edan seperti ini, perlu banyak sekali kasih, ilmu, sekaligus sabar yang tanpa batas. Hadir, dalam konteks sepenuh hati dan diri, dalam setiap momen tumbuh kembang anak, menanamkan prinsip, serta bimbingan yang tak putus, saya rasa adalah modal yang sangat fundamental. Mencintai dan mengasihi anak apa adanya, tanpa memaksakan kehendak, tanpa berusaha membuatnya seperti kita…rasanya mudah diucap, terkadang dalam keseharian kita sering kali lupa. Hal-hal kecil, penghargaan yang kita berikan, baik itu berupa pelukan, ciuman, kata-kata, atau bahkan sekedar acungan jempol, saya yakin pasti akan berjejak di jiwanya. Merasakan betapa ia sungguh berharga, dan betapa dicintai. Saya percaya bahwa hal-hal positif akan berakar ke nuraninya -begitupun hal-hal negatif-. Sehingga kelak ia dewasa nanti, ia akan mampu menghargai orang lain, menerima perbedaan, mengatasi konflik, dan apapun itu, secara bijak, dengan modal hal-hal positif yang kita jejaki di jiwanya semenjak kecil.

Mari terus berjuang, wahai orang tua…

Mari bekali mereka hati nurani yang mulia, bukan cuma sekedar prestasi belaka.

Rumah, 7 Maret 2014

11 thoughts on “Tanpa Kata

  1. dqwian says:

    Setuju mak.. Tantangan kita sebagai orang tua akan terus bertambah setiap harinya. Menghadapu dunia yang semakin liar ini membuat kita harus selalu belajar bagaimana caranya mengajari anak2 kita menghadapi dan bertahan di dalamnya.

  2. susahnya jd ortu… kadang dah tau teorinya, tp giliran prakteknya beeeuuuhhhh ilang semua ketika ngadepin bocah2 yg maunya ini-itu, palagi klo dah tantrum..hiks

    • Hi isma…betul sekaleeeh. Bacaan parenting boleh seabrek2 ya…prakteknya yang gak segampang bacanya. Tetep semangat ya kitaaa…

  3. Hastira says:

    yup,modal besar pendidikan karakter itu dari rumah, sekarang banyak org kadang menyalahkan sekolah, pdhl sekolah hanya sebagian kecil saja, peran ortu jauh lebih besar

    • Oh, benar sekali mak Hastira… orang tua harus punya dampak nomor satu. Harus diajar dan dikawal sedari dini. Pendidikan karakter dan moral harus kenceng dari rumah.

  4. itulah kenapa aku slalu mentingin pelajaran moral utk ankku mbak… aku biasanya cuma senyum kalo guru paud ankku nulis report yg bilang, Fylly slalu kurang fokus saat blajr.. Hei, apa yg mau diharapkan dr anak umur 3 thn?? fokus saat belajar??? aku masukin anakku ke paud bukan utk belajar calistung, tapi supaya dia bisa bersosialisasi dgn baik ama temen2nya, bisa belajar sharing, bisa belajar merasakan empati saat temen2nya ada yg kesusahan… itu juga kenapa dia dr bayi udh aku ajak traveling, hanya supaya dia sadar kalo di dunia ini ada banyak org2 yg hidupnya ga seberuntung dia. pelajaran moral hrs diberikan dari kecil mbak… kalo pelajaran duniawi dan macem2 itu mah, belakangan aja juga bisa 😉

    • Betul sekali mak… Lebih penting kita menanamkan life skill n social skill ketimbang akademik semata.
      Pas banget juga aku nulis kemarin tentang ‘Mengajak Anak Bersyukur’..yang dimulai dari komplen2 yang enteng tapi nyesek buat emaknya. Tetap harus dikawal dan dipepet terus moralnya. Semangaaattt!!!

  5. Aku juga ngikutin kisah itu mak. Sedih bacanya. Dan salut juga atas keiklasan hati kedua orang tuanya. Semoga kita bisa terus menjaga dan mendidik anak anak kita ya mba

    • Ah kita yang ngikutin beritanya aja sedih bukan kepalang ya Mak Tri… Mereka orang tua hebat!! Amin, semoga kita juga bisa ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *