(Be) Pregnant or not to be.

image

What a weird sentence and title. Sudah habis kata-kata sepertinya untuk dijadikan judul kebimbangan yang ada di kepala beberapa bulan belakangan.

Sejak Abby lahir, saya dan suami sepakat untuk memberi jarak sekitar 5 tahun untuk anak kedua kami nanti. Lalu saya memutuskan untuk menggunakan IUD, karena saya kurang cocok dengan pil KB, dan setor bokong tiap bulan untuk disuntik kok rasanya ribet sekali.

Kami pikir di usia 5 tahun, Abby akan lebih siap menjadi seorang kakak (teori sekarang, entah nanti), dengan sikap dan tanda-tanda yang ditunjukkannya sekarang di rumah, rasanya pasti senang jika ia memiliki teman untuk bermain dan bertengkar selain dengan saya.

Dan sekarang, usia Abby adalah 4,5 tahun. Ini saatnya. Harusnya kami sudah mulai rencana kami tersebut. Tapiiii…ternyata oh ternyata. Saya sepertinya malaassss sekali untuk pergi ke dokter untuk membuka IUD. Beberapa bulan belakangan selalu maju mundur untuk menyegajakan diri berangkat ke rumah sakit. Terkadang malas, terkadang waktu yang tidak pas dengan suami, terkadang ini itu, dan rasanya banyak sekali alasan saya.

Dan saya pun mencari penyebabnya. Dan setelah dipikir dan ditimbang, saya pribadi rasanya belum siap untuk hamil lagi. Dulu masa kehamilan Abby tidak menyusahkan sama sekali, tidak ada kendala berarti sejak hamil sampai waktu kelahiran. Tapi saya merasa kesulitan mengurus (tentu sajalah, siapa yang tidak) Abby dengan kesulitan tidurnya, masa-masa koliknya, masa alergi, masa tantrum hingga membuat saya merasa tidak berdaya. Dan sekarang, saya sudah lewati masa-masa tersebut, situasi sangat kondusif di rumah, rasanya nyamaann sekali. Dan mungkin situasi ini yang terlalu sayang untuk saya lepaskan. Mungkin terdengar egois, tapi saya yakin para ibu yang pernah mengalami situasi seperti saya, akan mengerti betap berharganya masa sekarang.

Tapi di lain sisi, ada rasa iri di hati setiap melihat bayi lucu seperti sepupu saya ini. Ada rasa luar biasa indah ketika menyusui, melihat perkembangan dan lucunya bayi yang bertumbuh, merasa dibutuhkan dan menjadi tumpuan mereka, selelah apapun dan walau tidak tidur berhari-hari, ada kepuasan tidak terperi yang tidak bisa dirasakan siapapun kecuali oleh seorang ibu.

Lah..jadi tambah dilema saya sekarang. Tapi saya percaya dan yakin, bahwa diluar pertimbangan konyol saya ini, Tuhan Sang Pemilik Hidup pasti memberi saya yang terbaik, saya cuma perlu melihat ke dalam lebih jelas dan bertekun. Karena apapun keputusan saya nanti, tidak akan berarti apa-apa jika Ia tidak berkehendak.

Jadiii??? Lihat saja Kamis besok.

Home, 26/02/13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *