Cerita dari Playground

image

Menunggui Abby (4th) di tempat bermain di mal selama 1 jam, membuat saya banyak memperhatikan. Terutama anak-anak yg sedang bermain, juga pendamping mereka. Ada yang ditemani ibunya, ada yang bersama ayahnya, dan ada juga yang bersama pengasuhnya.

Perbedaan yang sungguh kentara di pengamatan saya adalah bagaimana mereka berinteraksi dalam hal menjaga sang anak. Jika yang menjaga adalah orang tuanya sendiri, maka anak terlihat sekali menikmati waktu bermainnya. Ayah atau ibu lebih cenderung ‘melepas’ anak mereka dan memperhatikan mereka dengan kewaspadaan yang wajar. Sedangkan anak yang bermain bersama pengasuhnya, terlihat juga menikmati waktu bermainnya tapi mereka ‘sendiri’, karena sang pengasuh tidak banyak berinteraksi, tidak menyemangati, dan tidak memuji. Kata-kata yang keluar dari.tadi yang saya dengar adalah awas, jangan, dan ‘nanti dibilangin mama loh’.

Bukannya menghakimi atau apa, disaat akhir minggu yang dinyana sebagai waktu bersama keluarga, anak pun masih terus bersama pengasuhnya. Betapa sayang sekali waktu yang dibuang diakhir minggu, bahkan di mall pun anak-anak tidak bisa bersama orang tuanya. Pendampingan yang terkesan sepele ini juga pasti direkam dalam memori anak yang luar biasa kapasitasnya.

‘Saya kan capek kerja sepanjang minggu, saya perlu ‘me time’..’ rasanya boleh jadi alasan. Tapi menurut saya, alangkah lebih luar biasa lagi jika kita boleh melihat melalui kacamata anak-anak kita, bahwa diumur emas 1-6 tahun, yang diperlukan cuma pendampingan, ada untuk anak-anak kita, karena mereka belum mengerti masa depan. Orang tua bekerja juga harus merelakan menguras energi lebih banyak untuk masa emas ini, menunda ‘me time’ atau lebih bisa memberi prioritas pada tumbuh kembang anak ketimbang hal lain.
Penanaman nilai-nilai hidup, prinsip-prinsip hidup, etika, dan moral tidak bisa dipindahtugaskan kepada pengasuh. Hal-hal tersebut terlalu esensial untuk ditanggungjawabi orang lain, karena kita yang paling mengerti apa yang kita ingin anak kita lakukan, bagaimana mereka harus bersikap, dan pastinya kita menghendaki anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan tentu saja menciptakan anak masa depan yang beretika dan bermoral, bukan cuma sekedar pintar. Dan hanya..ya hanya orang tua yang bisa lakukan itu, bukan orang lain.

MAG-Home, 20/02/13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *